Terpaksa Menikahi Pria Cassanova

Terpaksa Menikahi Pria Cassanova
Rasa Itu Masih Ada


__ADS_3

Pulang kerja, Revan melihat Clarissa sedang berdiri dipinggir jalan sambil menggendong bayinya. Wajahnya terlihat panik, cemas dan khawatir. Revan memutuskan untuk menepi dan menghampiri mantan pacarnya itu.


Revan turun dari mobil, Clarissa mengukir senyum lebar saat melihat Ervan menghampirinya. Setitik rasa lega tersirat di wajahnya, seperti baru saja mendapat berkah dari langit.


"Ervan, tolong aku," rengek wanita itu.


"Ada apa? Kenapa kamu berdiri di pinggir jalan seorang diri?"


"Mobilku mogok, anakku sedang sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit,"


"Masuk ke mobil, aku akan mengantarmu,"


"Terimakasih Ervan,"


Dirumahnya, Monika terus melirik kearah jam dinding. Dia khawatir karena suaminya belum juga pulang ke rumah. Mungkinkah dia lembur di kantor? Tapi kenapa dia tidak menelponnya?


Pikiran buruk mulai menghantui otak Monika, jangan jangan Ervan sedang jalan dengan wanita lain. Terlebih, pria itu pernah memiliki banyak pacar. Akan sulit baginya berusaha untuk setia dengan pasangannya.


"Monika, kenapa Ervan belum juga pulang?" Tanya Erick.


"Aku juga tidak tau ayah, mungkin dia kerja lembur," sahut Monika.


"Lembur atau jalan dengan wanita lain? Tau sendiri lah ya, Kak Ervan kan seorang pria Cassanova," sambung Micell asal.


Monika membisu, dia kesal pada ucapan micell tapi tidak enak mau mengajak ribut di depan Ayah mertuanya.


"Monika, kami berdua pulang dulu. Kapan kapan kami akan berkunjung ke sini lagi," pamit Erick.

__ADS_1


"Iya, hati hati di jalan."


Erick menggandeng tangan Micell dan menyeretnya masuk kedalam mobil. Pria itu marah karena Micell telah membuat Monika khawatir dan cemas dengan ocehannya yang tak bermutu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, dia selalu menceramahi Micell dengan nasihat dan kata kata bijak. Bukannya mendengarkan, gadis itu malah menyumbat telinganya dengan headset.


"Jika kamu tidak menurut, aku akan mengirim kamu ke Alaska minggu depan," Ancam Erick.


Micell mendelik, dia mencopot headset yang di kenakan dan kembali mengantongi ponselnya.


"Kenapa tidak sekalian saja Ayah mengirim ku ke planet mars?" Tantang Micell kesal.


"Ide bagus, aku akan merundingkan hal itu dengan Ervan dan Elanor besok,"


"Ayah!" Micell merajuk. Dia menghentak hentakan kakinya ke dasar Taxi beberapa kali.


***


Secepat kilat, Elanor melangkah menghampiri Ervan dan Clarissa. Dia berniat mengintrogasi keduanya.


"Clarissa, kapan kamu kembali? Kenapa kalian berdua bisa ada di sini? Dan siapa anak itu?" Pertanyaan Elanor terdengar seperti suara deru kereta api tanpa jeda.


"Aku sudah lama kembali, Ervan mengantarku ke sini untuk memeriksakan anakku yang sakit. Kami bertemu secara tidak sengaja di jalan, semua karena mobil yang aku bawa mogok," jelas Clarissa secara detail.


"Oh, begitu. Aku pikir kalian berdua ada sesuatu," sindir Elanor.


"Itu tidak akan mungkin terjadi, aku hanya mencintai Monika. Sekarang dan selamanya," tegas Ervan.

__ADS_1


Entah mengapa, hati Clarissa terasa pedih. dia merasa sakit hati pada kalimat yang diucapkan mantan kekasihnya itu. Mungkinkah dia sedang cemburu? Tidak, dia tidak boleh cemburu. Dia harus tau diri, apa yang terjadi padanya saat ini adalah karena ulahnya sendiri.


"Elanor, mungkin aku seorang janda. Tapi aku punya harga diri. Untuk apa aku memacari suami orang kalau uang single saja banyak?" Sambung Clarisa untuk menepis rasa curiga di hati Elanor.


"Aku pegang kata kata kalian ya! Kalau sampai kalian berdua macam macam, aku sendiri yang akan memberi kalian berdua hukuman," ancam Elanor.


Pria muda itu berlalu pergi begitu saja, menyisakan tanda tanya di hati Ervan. Sedang apa Elanor di rumah sakit? Apa dia sedang sakit? Tapi tubuhnya terlihat segar dan bugar.


Tak mau timbul permasalahan lain, Clarisa menolak diantar Ervan sampai ke rumahnya. Dia memilih pulang naik Taxi yang banyak mangkal di depan rumah sakit elit itu.


***


"Aku pulang," Elanor membuka pintu rumahnya lalu menutupnya rapat rapat.Dia pulang sambil membawa ayam goreng DFC kesukaan istrinya. Ervan tau Monika akan marah padanya, dan membeli makanan kesukaannya adalah salah satu cara untuk merayu Monika.


"Darimana saja? Kenapa baru pulang?" Monika menyambut kedatangan suaminya dengan cemberut.


"Maaf, aku ada pekerjaan lain tadi," Ervan berbohong.


"Kenapa tidak menelfon rumah? Aku kan jadi khawatir," omel Monika.


"Maaf, ponselku lowbat."


Ervan menyodorkan bungkus makanan kepada Monika, wanita itu mencium aroma makanan kesukaannya. Suasana hatinya yang buruk kembali membaik, dia meraih bungkusan makanan itu dan segera memakannya.


"Enak tidak?" Tanya Ervan.


"Ini enak sekali, terimakasih,"

__ADS_1


"Makan yang banyak, besok akan aku belikan lagi untukmu."


Bersambung...


__ADS_2