Terpaksa Menikahi Pria Cassanova

Terpaksa Menikahi Pria Cassanova
Belut Listrik


__ADS_3

Ervan kembali ke kamar, tak lama seorang pegawai Hotel datang membawa meja dorong berisi banyak makanan. Ada sate kambing, tongseng, sebakul nasi, potongan buah dan puding manis. Semua makanan itu terlihat enak meskipun terasa tidak lengkap karena tidak ada kerupuk dan gorengan.


Petugas Hotel pergi, Ervan kembali mengunci pintu. Kemudian dia berjalan dan duduk dihadapan Monika. Ervan merasa gerah, dia membuka jas dan kemejanya. Monika mendelik melihat dada bagus dibalik kaos dalam super tipis.


"Ehem..." Monika berdehem untuk mengusir rasa groginya.


Usai membaca doa, Monika dan Ervan memulai santap malam mereka bersama.


"Ini enak," puji Ervan.


"Benar, dagingnya empuk dan tidak bau,"


"Sepertinya aku akan betah menginap di Hotel ini, makanannya enak enak,"


Ervan makan dengan lahap, Monika memperhatikan pria itu secara diam diam. Dia tidak terlalu buruk, tampan, baik dan ringan tangan. Setidaknya dia selalu menuruti kemauan dari Monika.


"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Ervan tiba-tiba.


"Tidak, kenapa memangnya?" Tanya Monika balik.


"Kamu menatapku sampai biji matamu mau keluar," celetuk Ervan.


"Idih, pede!" Monika membuang muka. Sementara Ervan hanya senyum senyum sendiri.


Dalam hati Monika merasa malu, karena dia ketahuan memperhatikan suaminya secara diam diam. Pria itu bahkan tidak melirik kearahnya, bagaimana bisa dia mengetahuinya?


"Kita akan tinggal seatap dengan Ayah dan adikku untuk sementara waktu, kamu tidak apa apa kan?"


"Tidak apa apa, hanya saja mungkin akan terasa lebih nyaman kalau kita tinggal di rumah sendiri,"


"Rumah baru kita sedang direnovasi, setelah selesai kita bisa segera pindah kesana,"


"Rumah baru? Kapan kamu membelinya?" Monika kaget.


"Em... Sekitar setengah tahun lalu,"


"Pasti kamu membelinya saat masih berhubungan dengan mantan calon istrimu itu," tebak Monika.


"Iya, kenapa memangnya?"


"Tidak apa apa," Monika sedikit cemberut.

__ADS_1


"Jangan merasa tidak enak hati, aku membelinya memang untuk ditinggali dengan istriku. Dan kebetulan yang menjadi istriku itu kamu, bukan dia."


Selesai makan, pasangan suami istri itu naik ketempat tidur. Suasana sekitar mendadak hening karena keduanya saling menutup mulut. Monika miring ke kiri sambil memeluk bantal guling, sementara Ervan hanya bisa memperhatikan punggung istrinya dari belakang.


Malam pertama macam apa ini? Tidak ada kehangatan apa lagi kasih sayang. Mungkin ini adalah efek mereka menikah karena saling membutuhkan satu sama lain, Monika membutuhkan uang Ervan, sementara Ervan membutuhkan status dari Monika.


Apa pernikahan seperti itu bisa bertahan lama? Biar saja waktu dan keadaan yang menentukan kelak.


"Mas," seru Monika.


"Ada apa?"


"Jangan paksa aku melakukan hal itu ya!"


"Tidak akan, kecuali kamu sendiri yang merengek dan memintanya langsung padaku,"


"Idih, itu tidak akan mungkin!"


Monika selalu saja merasa kesal dengan jawaban akhir seorang Ervan, dia kelewat punya rasa percaya diri tinggi. Seolah olah dia yakin kalau Monika akan jatuh hati padanya.


*****


Pagi hari, sinar mentari masuk lewat celah gorden. Ervan merasa ada sesuatu yang menindih lengannya hingga dia merasakan pegal yang teramat sangat.


Plukk....


Tangan Monika melayang dan mendarat tepat di bagian sensitif milik Ervan.


"Sial! Kenapa dia harus menaruh telapak tangannya disitu," gerutu Ervan lirih.


Nafas Ervan memburu, dia merasa suhu tubuhnya naik dan sesuatu miliknya yang sedang tidur tiba-tiba berdiri tegak menuntut sebuah keadilan.


Merasa tangannya menyentuh sesuatu yang hidup, Monika membuka kedua matanya. Gadis itu mengangkat kepalanya sedikit, dia melihat tangannya telah mendarat ditempat yang salah. Monika menarik tangan kanannya itu dan berguling menjauh dari Ervan hingga terjatuh dari atas tempat tidur.


"Awh.... Sakit!" Rengek Monika dengan nada manja.


"Kenapa panik sampai seperti itu? Apa ini pertama kalinya kamu menyentuh belut listrik?" Goda Ervan sambil menahan tawa.


Wajah Monika memerah karena malu, dia langsung berlari dari kamar mandi dan bersembunyi disana untuk beberapa saat.


"Tanganku ini kenapa nakal sekali, sekarang aku tidak punya nyali untuk bertemu dengannya. Dia pasti mengira aku perempuan gatal yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan." Monika terus memarahi dirinya sendiri.

__ADS_1


Selesai membersihkan diri, Monika memberanikan diri untuk keluar dari dalam kamar mandi. Seperti tebakannya, sejak tadi Ervan belum juga berhenti menertawakannya.


"Tidak ada yang lucu, berhenti menertawakan aku!" Monika marah.


"Ya, baiklah. Aku akan berhenti menertawakan kamu, lagi pula perutku sudah sakit,"


Monika cemberut, dia paling tidak suka ditertawakan oleh orang lain terlebih karena hal sepele.


"Pakai pakaian yang bagus, aku akan mengajakmu jalan jalan,"


"Jalan jalan kemana?"


"Nanti kamu juga tau,"


*****


Monika baru tau kalau di dekat Hotel tempat mereka menginap ada sebuah laut berpasir putih. Ervan mengajaknya kesana,berjalan jalan santai sambil menaiki seekor kuda.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Monika merasakan indahnya berlibur di pantai. Selama ini jangankan untuk pergi berlibur, untuk makan sehari hari saja Monika masih kekurangan.


Tiba tiba Monika teringat pada Kakaknya dan keponakannya, andai saja mereka berdua ada disana, Pasti kebahagiaan Monika saat itu akan terasa lebih lengkap.


"Kenapa wajahmu murung begitu? Apa kamu tidak suka menunggang kuda sambil berjalan jalan di pantai?" Tanya Ervan.


"Aku suka kok, terimakasih karena sudah mengajakku berlibur ketempat bagus seperti ini. Hanya saja aku jadi ingat pada Kakak dan keponakanku," ucap Monika.


"Kamu tenang saja, lain kali kita akan mengajak mereka berdua pergi berlibur bersama,"


"Serius?"


"Iya, aku serius,"


"Terimakasih, Mas baik sekali," Monika menyunggingkan senyuman lebar.


"Mudah sekali membuat gadis itu tersenyum bahagia." Cicit Ervan dalam hati.


Monika sedikit berbeda dengan wanita yang pernah Ervan kencani. Dia tidak pernah menuntut kepuasan materi atau uang dalam jumlah tertentu, jelas sekali kalau Monika bukanlah wanita matre.


Satu lagi yang membuatnya semakin memiliki daya tarik bagi Ervan, Monika masih lugu untuk seorang gadis seusianya. Dia sangat menjaga diri dari pria dan selalu memakai pakaian yang sopan. Wanita seperti Monika di jaman sekarang ini sangat jarang ditemui, bisa dibilang hanya ada satu diantara seribu.


Harusnya, hubungan mereka bisa langgeng sampai tua. Andai sifat Cassanova seorang Ervan bisa hilang dan cinta diantara keduanya bisa bersemi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2