Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka

Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka
Episode 10


__ADS_3

"Sekarang, giliranmu! Ceritakan tentang dirimu, Vio!" ucap Tuan Ken.


"Ehm...aku tak tahu harus mulai darimana, Ken. Kurasa kau juga sudah tahu apa yang terjadi padaku...." ucapku lirih. Rasanya luka lama itu kembali terbuka. Mataku terasa ingin menangis kembali.


"Jangan menangis! Jika kau tak kuat untuk bercerita tak usah dipaksakan, Vio...." Tuan Ken membelai pipiku.


"Kau ingin tahu tentangku. Kau sudah menjawab pertanyaanku tadi. Sudah seharusnya aku gantian menjawab pertanyaanmu, Ken...." kutatap mata Tuan Ken. "Aku sama sepertimu. Diriku terluka saat memegang hal yang bernama kesetiaan. Ken, seberapa tahu kau tahu tentang diriku sebelum kita menikah?"


"Aku hanya tahu kau anak dari salah satu sopir yang mengabdi di keluargaku. Kau pernah gagal menikah satu kali...."


"Bukan gagal menikah, Ken! Aku bukan janda. Yang benar itu gagal melangsungkan pernikahan. Ya, aku pernah gagal melangsungkan pernikahan satu kali. Mungkin ini yang disebut ditinggal waktu lagi sayang-sayangnya...." ucapku lirih. Air mataku menetes tanpa sadar.


"Jangan dilanjutkan jika kau tak kuat!" Tuan Ken menyeka air mataku.

__ADS_1


"Aku tak apa-apa. Aku ingin kau tahu tentang diriku langsung dari mulutku, Ken," ucapku sambil menatap ke arah Tuan Ken.


"Baiklah, aku akan mendengarkanmu, Vio...."


"Dia yang dulu meninggalkanku adalah sahabatku ketika kuliah. Aku mulai dekat dengannya saat pertengahan masa kuliah. Sekitar awal semester 5. Hubungan kami berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Dia lulus duluan karena merupakan kakak tingkatku. Pada suatu malam, setelah selesai nonton bioskop dia melamarku. Aku tentu saja langsung menerimanya karena aku sudah mengenalnya lama. Aku belum pernah bertemu dengan keluarganya karena dia anak kos. Dia perantau dari luar daerah, tapi dia sudah sering bertemu dengan keluargaku bahkan sudah dianggap anak sendiri oleh orang tuaku. Setelah melamarku, dia kuajak ke rumah untuk membicarakan persiapan pernikahan dengan keuargaku. Tentu saja orang tuaku setuju dan antusias. Apalagi, dia sudah dikenal baik oleh keluargaku. Semua berjalan begitu cepat. Pernikahanku dipersiapkan dalam jangka waktu kurang dari dua bulan. Satu bulan pertama dia belum juga mengenalkanmu pada keluarganya tapi dia masih setia menemaniku dan memberi dukungan finansial untuk pernikahan kami. Saat pertengahan bulan kedua, dia keluar kota dengan alasan untuk menjemput keluarganya dan pekerjaan dinas dari kantornya. Aku ngotot untuk ikut tapi dia menolak. Saat itu persiapan sudah sangat matang. Undangan sudah disebar. Gedung, catering, cincin, hantaran, baju pengantin , pokoknya semua sudah siap. Tapi, seminggu jelang pernikahan dia tak ada kabar sama sekali. Aku sudah menghubunginya lewat chat, telepon dan berbagai akun sosial media miliknya. Teman-temannya kuliah, teman kos bahkan ibu kosnya kutanyai. Ibu kos bilang jika dia pernah memberikan kartu identitas. Aku merasa mungkin itu suatu petunjuk. Ditemani keluargaku, kucari dia berdasarkan alamat itu. Tapi rupanya itu kartu identitas fiktif. Tak ada nama itu di desa yang kudatangi. Aku sudah mencari hingga ke kantor kepala desa. Aku bahkan sudah mendatangi kantor tempat dimana dia bekerja tapi ternyata dia sudah resign dari sana. Perusahaan tak punya alamat rumah keluarganya yang asli karena ternyata dia memakai alamat kosnya saat bekerja di sana. Aku benar-benar merasa ditipu. Hatiku hancur berkeping-keping, Ken...." air mataku berusaha kutahan. "Jika dia memang ingin mundur atau mengakhiri hubungan ini setidaknya bilanglah baik-baik. Bukan menghilang begitu saja. Aku malu, Ken. Malu! Rasanya aku menjadi aib bagi keluargaku. Aku rasanya murka bercampur sedih. Bodohnya aku karena sudah terperdaya oleh mulut manisnya itu. Sakit, Ken! Sakit! Kesetiaanku yang kubangun, sudah dihancurkan olehnya! Dia benar-benar pengecut! Aku benci padanya...." air mataku tak bisa kubendung. Perasaan emosional itu kembali muncul. Aku menangis tersedu-sedu.


"Tenanglah, Vio. Aku ada di sini untuk menemanimu. Tenanglah, semuanya sudah berlalu," ucap Tuan Ken. Dia memelukku erat sambil membelai kepalaku. Kucoba menenangkan diriku. Air mataku kuhapus.


"Tak masalah, Vio. Nampaknya takdir saling mempertemukan kita. Dua orang yang terluka karena memegang kesetiaan. Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tahu bagaimana rasanya sakit akibat ditinggalkan dan dilupakan. Sudah, jangan menangis lagi, Sayang," Tuan Ken mencium dahiku. Dia memelukku semakin erat.


Kenapa ya rasanya aku merasa tenang dan nyaman di pelukanmu, Tuan Ken? Mataku mulai terpejam. Tangan Tuan Ken masih terasa membelai kepalaku. Rasanya nyaman sekali. Sesekali, kurasakan kecupan lembut di dahiku. Aku teringat sesuatu. Mataku kembali terbuka.


"Ada apa, Vio?" tanya Tuan Ken.

__ADS_1


"Ken, ehm...aku ingin meminta ijin untuk pergi ke suatu tempat. Ehm...besok pagi...." ucapku sambil menatap mata Tuan Ken.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Ken dan Vio bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2