
Tuan Ken, bagaimana aku harus mengatakan hal ini padamu? 😢
"Jawab! Vio! Jawab aku!" desak Tuan Ken. Dia memegang daguku. Mulutku masih kukunci. Aku tak yakin bagaimana harus mengatakan ini pada Tuan Ken. "Oh, jadi begitu...." ucap Tuan Ken. "Aku sudah tahu dari tatapanmu...." tatapan mata Tuan Ken meredup. "Kau pasti minder karena aku...."
"Apa?" ucapku spontan.
"Kau pasti minder karena keadaanku. Aku sudah tak sempurna lagi. Kau pasti minder karena keadaanku yang lumpuh seperti ini. Itu kan yang kau maksud? Kau bertanya padaku apakah aku muak denganmu agar aku menjauhimu. Itu karena kau merasa minder dengan kondisiku kan?" ucap Tuan Ken. Dia berbalik membelakangiku.
"Ken...." panggilku. Kusentuh punggungnya. Dia menghempaskan tanganku. "Kau salah paham...bukan itu yang kumaksud. Ken, tolong berbaliklah kumohon. Dengarkan dulu penjelasanku...." pintaku. Tuan Ken tak berbalik. Dia menarik selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu.
"Aku minder karena kondisiku, Ken. Kau adalah seorang tuan muda yang kaya raya, sedangkan aku hanyalah anak seorang sopir. Ehm...aku...ehm...merasa tak pantas untuk kau perhatikan..." ucapku lirih. "Baiklah, jika kau masih marah. Aku akan meminta maaf dengan duduk bersimpuh di lantai sampai kau memaafkanku. Aku takkan berhenti sampai kau memaafkanku...." ucapku sambil beranjak bangun dari tempat tidur. "Eh!" tangan kananku berasa ditarik. "Ken...." ternyata Tuan Ken sudah berbalik menghadap ke arahku.
"Masuk kemari!" perintahnya. Dia menyuruhku masuk ke dalam selimut. Aku pun menurutinya.
"Aku sudah pernah bilang. Lupakan tentang omong kosong itu. Kau istriku. Tak ada lagi yang namanya majikan dan bawahan. Camkan itu! Vio!" ucap Tuan Ken sambil menatapku. Aku pun menggangguk. Tuan Ken kembali memelukku, kepalanya bersandar di dadaku. "Aku jadi belum mengantuk...." ucapnya. "Ck! Apa kau akan diam saja?" matanya menatapku tajam.
"Heh?" sahutku bingung. Aku tak mengerti apa yang salah.
"Belai kepalaku! Balas pelukanku, Vio! Jangan diam saja!" ucap Tuan Ken.
__ADS_1
"Ehm...ba...ik...lah, Ken...." sahutku. Tangan kananku mulai membelai kepala Tuan Ken. Tangan kiriku melingkar di pinggangnya.
"Tak bisakah kau bicara? Jangan diam seperti boneka, Vio. Aku tak suka suasana krik-krik seperti ini!" protes Tuan Ken.
"Aku bingung harus membahas apa, Ken! Aku baru saja ehm...membuatmu marah tadi...." ucapku lirih.
"Jangan kaku! Aku bukan tuan muda yang merupakan majikanmu lagi. Aku ini suamimu. Perlakukan aku dengan luwes. Aku juga ingin kau peka! Aku ingin dibelai dan dimanja, tahu!" protes Tuan Ken.
"Ehm...ba...ik...lah...." sahutku lagi. "Ehm...Ken...." panggilku ragu.
"Apa? Sudah, katakan saja. Jangan kaku, Vio!"
"Ehm...ada yang ingin kutanyakan tapi berjanjilah jangan marah lagi...."
"Ehm...ini tentang kau...bukannya aku ehm...ingin mengungkit luka lama tapi...aku hanya ingi tahu dari mulutmu ehm...langsung...."
"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Ini pasti soal kakiku kan?" Tuan Ken menatapku tajam. Aku pun menggangguk.
"Ehm...jangan marah...." pintaku lirih.
__ADS_1
"Aku tak begini dari lahir. Aku tak tahu apa kau sudah mengetahuinya atau belum tapi kondisiku seperti ini karena kecelakaan...."
"Ehm...ayahku juga bilang begitu. Tapi, ayah tak bilang secara detail...ehm...karena itu aku ingin tahu dari dirimu secara langsung...."
"Singkatnya aku seperti ini karena tertabrak kendaraan saat menyeberang jalan. Pikiranku sedang kalut dan tak fokus saat akan menyeberang jalan. Aku menyeberang sambil menerima telepon dari rekan bisnis keluargaku. Rasanya sakit! Aku seperti ini karena berjuang untuk keluargaku. Aku celaka saat sedang mengurus urusan bisnis di luar kota. Semua kulakukan demi keluargaku tapi apa yang kudapat sekarang? Aku ditinggalkan sendirian di sini. Di sangkar emas ini. Mereka bilang agar diriku lebih mudah dalam beraktivitas sehingga harus tinggal di sini, terpisah dari mereka. Aku lebih butuh perhatian. Mereka sangat jarang mengunjungiku di sini karena urusan bisnis. Aku tak punya teman di sini...para pelayan sangat kaku dan takut padaku. Aku butuh teman...aku sendirian di sini....aku kesepian.... Kuhias kamarku dengan action figure dari anime favoritku itu semua karena aku butuh teman. Aku kesepian....." ucap Tuan Ken. Matanya menahan air mata.
"Aku di sini, Ken. Jangan khawatir. Aku akan menemanimu," ucapku. "Jangan sedih, ya!" kutatap Tuan Ken.
Entah mengapa aku ingin memberi kecupan di dahi Tuan Ken. Aku tak tahu keberanian ini berasal darimana. Tuan Ken menatapku. Dia mencengkeram daguku. Kecupan lembutku dibalasnya dengan ciuman di bibirku lagi. Tuan Ken, kenapa ciuman yang ini lebih berasa daripada yang tadi, ya 😶.
"Sekarang, giliranmu! Ceritakan tentang dirimu, Vio!" ucap Tuan Ken.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Ken dan Vio bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
Thank you 😍