
"Kenapa kau menolak? Kau menolak menuruti perintahku?" ia nampak mulai murka.
"Bukan, itu Tuan tapi...."
"Make up-mu habis?" Tuan Ken mengambil secarik kertas lalu menulis sesuatu. Dia memgambil sesuatu dari dalam laci meja kerja. "Ini pakailah untuk berbelanja make up!" Tuan Ken menyerahkan kartu berewarna emas dan secarik kertas bersi angka. Kurasa ini pinnya.
"Bukan itu, Tuan...."
"Lalu apa? Katakan!" desaknya.
"Ehm...saya takut dimarahi oleh Papa dan Mama Tuan Ken. Ehm...Tuan dan Nyonya sepertinya tak terlalu suka pada hal seperti ini...." aku menjawab jujur. Kata Ayah, orang tua Tuan Ken tak suka pada make up semacam ini.
"Kau tinggal di rumahku! Orang tuaku tak ada di sini! Di sini aku yang berkuasa, jadi hanya perintahku yang harus kau patuhi! Paham?" Tuan Kene mencengkeram daguku.
"Paham, Tuan," sahutku sambil menggangguk.
"Aku ingin mulai besok kau memakai kostum yang ada di sana. Kurasa ukurannya muat denganmu!" perintah Tuan Ken. Astaga, kurasa dia ingin aku menjadi karakter yang ia sukai. Tak apalah, ini memang haknya. Dia kan suamiku, lagipula ini juga permintaan sederhana.
"Baik, Ken," aku masih tetap berjongkok di hadapannya.
"Ayo, kitunjukkan anime favoritku!" Tuan Ken mulai menyalakan TV datar besar di ruangan itu. Aku duduk di lantai. Lantai ini dilapisi dengan karpet tebal yang sangat halus.
"Hey, bantu aku turun, Vio!" perintah Tuan Ken. Aku pun menurunkannya dari kursi roda. "Pelayan!" teriak Tuan Ken. Nampak seorang pelatan pria masuk kemari. "Tolong bawakan cemilan untukku dan Vio!"
"Baik, Tuan!" sahut pelayan itu.
__ADS_1
Tubuh Tuan Ken menyandar pada tempat tidur di belakang kami. Kakinya tentu saja lurus terlentang. Tangannya mulai menekan remot TV. Kurasa ini TV layar datar berupa smart TV. Pasti chanelnya langganan bulanan. Seorang pelayang wanita masuk, dia membawakan nampan berisi cemilan ringan dan dua kotak jus jeruk.
"Silahkan, Tuan, Nona," ucap pelayan itu.
"Ehm...aku bukan Nona...panggil saja aku Vio...." sahutku spontan.
"Apa maksudmu?" Tuan Ken menatapku dengan tatapan tajam. "Kau sudah menikah denganku! Jadi, lupakan status keluargamu yang menjadi abdi di keluargaku. Mulai sekarang, ingat itu, Vio!"
"Ehm...ba...ik, Ken...." sahutku lirih. Tuan Ken menatap pelayan itu.
"Taruh saja cemilannya di sini!" perintahnya pada pelayan itu. "Kau boleh pergi!" pelayan itu meninggalkan kamar ini.
"Ada anime genre robot-robotan yang sedang update. Kebetulan aku akan menontonnya sekarang," Tuan Ken menatapku. "Ini, makan cemilannya!" dia menyodorkan keripik kentang padaku.
"Terima kasih...Tu...an...." sahutku spontan.
"Ehm...maksudku Ken...." kuralat ucapanku segera.
"Nah, sudah mulai!" Tuan Ken nampak antusias menonton anime itu.
Nampak robot-robotan setinggi pohon kelapa. Robot-robotan itu berbentuk menyerupai manusia. Para robot itu memiliki senjata berupa senapan laser. Para robot di cerita itu saling bertempur di ruamg angkasa.
"Ayo, jangan sampai kalah!" ucapku spontan sambil sesekali menyedot jus jeruk dari kotaknya lewat sedotan. Tanganku juga mengambil keripuk kentang di nampan. "Yah, udah habis!" ucapku kecewa. Tak terasa satu episode anime itu sudah selesai.
"Jangan khawatir, aku masih punya stok anime lain yang tak kalah seru!" Tuan Ken tersenyum padaku. "Ayo, kita tonton!"
__ADS_1
"Ehm!" aku menggangguk.
Layar TV mulai menayangkan anime lain. Tuan Ken nampak tak bosan menonton anime-anime itu. Mataku lama-lama mengantuk akibat hari sudah berganti menjadi siang. Saat kulihat jam ternyata benar, sekarang sudah tengah hari. Kurasa mengistirahatkan mataku sejenak tak masalah mungkin. Sebentar saja! Aku benar-benar mengantuk! 😴
Kurasakan usapan hangat dan lembut terasa di kepalaku. Tunggu, apa aku benar-brnar tertidur? Kubuka mataku perlahan-lahan. Baru kusadari jika posisiku terbaring miring.
"HAH!" teriakku spontan sambil beranjak bangkit.
"Kau sudah bangun?" tanya Tuan Ken. Astaga, ternyata aku tertidur di pangkuan Tuan Ken. HAH! 😱 Aku tidur saat dia mengajakku menonton anime. Oh, tidak! 😢 Bagaimana jika dia marah? 😣
"Ken, maaf aku...maaf...aku keti...du...ran...sungguh...aku tak...se...nga...ja...." ucapku sambil tertunduk.
"Tak apa masalah. Kau butuh istirahat setelah prosesi pernikahan kita. Aku tak marah, Vio," ucap Tuan Ken. Syukurlah! 😥 Dia tak marah! "Vio," panggil Tuan Ken.
"Ehm?" kupandang wajahnya.
"Hari sudah sore, temani aku mandi!" ucapnya santai. WHAT? 😨 Menemani mandi? 😨
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol di pojok kiri bawah untuk like 😄
Kalo vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍