Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka

Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka
Episode 5


__ADS_3

"Hari sudah sore, temani aku mandi!" ucapnya santai.


WHAT? 😨 Menemani mandi? 😨 Kutatap Tuan Ken, astaga, berarti aku harus berada di dalam satu kamar mandi dengannya, dong!


"Apa yang kau lihat? Cepat, bantu aku naik ke kursi rodaku!" perintahnya.


"Ehm...ba...ik, Ken...." aku segera mengangkat tubuh Tuan Ken untuk naik ke atas kursi roda. Tubuhnya ternyata berat juga.


Aku pun mendorong kursi roda itu ke dalam kamar mandi. Nampak sebuah kamar mandi bernuansa putih. Lantainya dilapisi marmer warna putih susu. Terdapat bath tub, wastafel dan kloset yag berwarna putih gading.


"Bantu aku melepas pakaianku, Vio!" ucap Tuan Ken.


Apa melepas pakaian? Jantungku langsung berdebar kencang ketika mendengar hal itu. Kedua tanganku dengan ragu menyentuh kemeja biru dongker yang dipakai oleh Tuan Ken. Kancing kemeja itu sudah kupegang. Apa aku harus benar-benar membukanya? 😨


"Apa yang kau tunggu, Vio! Ada apa?" tanya Tuan Ken. Aku bingung harus menjawab apa. Seumur hidupku aku belum pernah membantu melepaskan baju seorang pria. "Kau malu melakukan hal ini?" tanya Tuan Ken. Apa Tuan Ken punya kemampuan membaca pikiran? Mengapa dia bisa tahu jalan pikiranku? 😨


"Ehm...i...ya...." sahutku lirih. Aku tak berani menatap mata Tuan Ken.


"Tak perlu takut, anggap saja aku boneka. Aku takkan nakal padamu, Vio," sahut Tuan Ken.


"Ehm...baiklah...."


Aku mulai melepas kancing di kemeja Tuan Ken satu per satu. Nampak kulit putih mulus seperti porselen. Astaga, mataku seperti menemukan harta karun. Ada pemandangan indah yang ditangkap oleh mataku. Siapa sangka ternyata perut Tuan Ken memiliki roti sobek.


"WOW!!!" ucapku. Jadi seperti ini ya wujud perut sixpack seorang pria yang sebenarnya. Sungguh amat menggoda untuk disentuh.


"Apa yang kau lakukan, Vio?" terdengar ucapan yang mengagetkan. Astaga! Bagaimana bisa tanganku menempel di perut Tuan Ken? 😭


"Ma...af, Ken...." ucapku sambil segera menarik tangan kananku.


"Tak apa-apa, jika kau ingin menyentuh, sentuh saja," Tuan Ken menarik kedua tanganku lalu menempelkannya di perutnya. Sungguh, jantungku berasa deg-degan. "Tak perlu malu-malu kucing, Vio. Aku suka jika kau agresif!" bisik Tuan Ken di telingaku. Ih, apaan sih! Aku jadi merasa malu sendiri! 😳

__ADS_1


"Sekarang, bantu aku melepaskan celanaku!" ucap Tuan Ken.


Astaga, melepas celana? 😨 Jantungku semakin berdebar kencang. Aku belum pernah satu kali pun melakukan hal ini seumur hidupku.


"Ah ya, bantu aku duduk di atas kloset terlebih dahulu!" perintah Tuan Ken.


Aku pun membantu Tuan Ken berpindah dari atas kursi roda menuju ke atas kloset. Apa aku harus melakukannya sekarang? Aku sungguh merasa geli. Ayo Vio, lakukan! Lakukan! Kudekatkan tanganku ke atas resleting celana itu. Tanganku membuka kancing bagian atas celana itu. Jantungku semakin berdebar ketika melakukannya. Baiklah, satu! Dua! KREK! Sambil menutup mata kutarik resleting celana itu ke arah bawah.


"Sudah!" ucapku sambil menutup mata.


"Hahahaha!" terdengar suara tawa terbahak-bahak. "Kau sangat lucu, Vio. Ekspresimu sangat lucu! Hahaha!" ternyata itu suara tawa Tuan Ken. Duh, aku jadi malu sendiri. "Aku tak bermaksud menjahilimu, Vio. Aku hanya ingin ehm...berendam di dalam bathtub. Aku biasanya hanya mandi dengan duduk di atas kloset sambil diguyur dengan shower berselang panjang itu," Tuan Ken menunjuk suatu shower. "Ehm...biasanya pelayanan pria yang membantuku tapi aku tetap merasa risih. Bagaimana pun mereka tetap orang lain. Ehm...kuharap kau tak keberatan jika aku meminta bantuanmu untuk mandi ehm...mulai sekarang...." Tuan Ken terlihat tertunduk. "Ehm...kita sudah menikah, aku ehm...lebih percaya padamu daripada orang lain untuk membantuku...." ucap Tuan Ken. Jadi, aku sudah mulai mendapat kepercayaan di hatimu, Tuan Ken? Mengapa hatiku jadi merasa hangat ya.


"Ehm...aku akan membantumu, Ken...." sahutku sambil menarik celana panjang Tuan Ken.


Nampak Tuan Ken hampir polos seperti bayi. Wow! Tubuhnya ternyata boleh juga. Meski berada di atas kursi roda tapi ternyata dia punya tubuh atletis. Tunggu, apa aku harus membantu melepaskan celana dalam itu? 😨


"Bantu aku berpindah ke dalam bathtub saja, Vio. Aku tahu kau merasa geli melihatku seperti ini," sahut Tuan Ken.


Apa dia benar-benar bisa membaca isi pikiranku? Sudahlah, lupakan hal itu terlebih dahulu. Aku pun memapah tubuh Tuan Ken menuju tepi bathtub. Tubuh Tuan Ken lalu kubantu agar bisa masuk ke dalam bathtub.


"Ehm...baiklah," sahutku.


Aku pun berbalik lalu memungut kemeja dan celana panjang Tuan Ken yang berserakan di lantai. Meski tak melihat secara penuh, tapi aku merasa Tuan Ken mengalami kesulitan. Tangannya dari tadi terus bergerak-gerak sehingga menimbulkan bunyi air di dalam bathtub.


"Vio!" nampak Tuan Ken salah tingkah ketika aku kembali menghadap ke arahnya. Kurasa dia malu mengakui jika butuh bantuanku.


"Biar aku bantu," ucapku. Entah mengapa aku memberanikan diri untuk membantu Tuan Ken melepas celana dalamnya. "Sudah!" ucapku. "Kenapa mukamu memerah Ken? Hahaha!" aku tak bisa menahan tawaku saat melihat wajah Tuan Ken yang nampak memerah.


"Tak apa-apa," sahutnya singkat.


Hihihi, apa dia geli karena aku membatunya melepas celana dalam itu? 😂 Padahal tadi dia menertawakanku. Jika aku jahil padanya kurasa akan menarik, hihihi! 😆 Aku pun segera memasukkan diriku ke dalam bathtub.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Tuan Ken.


"Kenapa Ken? Bukankah kau bilang jika kau butuh bantuanku? Aku hanya melakukan tugasku untuk membantumu mandi," tanganku sudah memegang kedua bahu Tuan Ken.


"Siapa itu?" ucap Tuan Ken tiba-tiba.


"Ada apa?" aku pun mengarahkan fokus dan pandanganku ke arah pintu. "AH!" tiba-tiba saja aku merasakan geli di area pinggangku. Kedua tanganku pun secara refleks melepas pegangan pada bahu Tuan Ken.


"Tak kusangka jika kau seagresif ini, Vio," bisik Tuan Ken. Saat kusadari ternyata kepalaku sudah menyandar di dada Tuan Ken. Jantungku pun berasa berdetak semakin kencang.


"Ken!" teriakku saat kedua tangan Tuan Ken mulai berusaha melepas kancing pakaianku.


"Kenapa kau berteriak? Bukankah kau ingin membantuku mandi, Vio? Tentu jika itu terjadi pakaianmu harus dilepaskan bukan?" mata Tuan Ken berkilau licik. Sial, aku masuk perangkapku sendiri. Tuan Ken, ternyata kau tak sepolos yang kukira. "Kau belum melepasnya? Kau ingin aku yang melepasnya?"


"TIDAK!" teriakku. "Ehm...Ken, aku belum membawa baju ganti, hehehe. Biarkan aku membantumu mandi saja ya," aku berusaha bangkit untuk keluar dari dalam bathtub.


"Ada baju handuk, Vio Sayang," Tuan Ken justru mencengkeram tubuhku semakin kuat. "Aku pun juga tak membawa baju ganti," bisiknya. Duh, kalau begini aku tak bisa lagi mengelak.


"Ken!" teriakku lagi. Kedua tangan Tuan Ken berusaha melepas kancing kemejaku lagi.


"Lepas sendiri atau aku yang akan melepaskannya!" bisik Tuan Ken.


"Iya, iya, aku lepas sendiri!" ucapku.


Hiks, kenapa akhirnya jadi aku yang tertindas, sih? Padahal niatku tadi menjahili Tuan Ken. Untung saja, air di dalam bathtub ini setinggi leher. Aku pun mulai melepas pakaianku. Cengkeraman tangan Tuan Ken berasa sangat kuat, tenagaku tak cukup untuk melawannya. Astaga, sekarang apa yang akan terjadi? 😣 Aku merasa terjebak dalam keadaan saat ini. Tuan Ken, ternyata kau tak sepolos yang kukira! 😭


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2