Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka

Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka
Episode 13


__ADS_3

"Ayo pergi! Aku akan menemanimu ke kampus! Karenamu aku ingin melihat dunia luar kembali!" ucap Tuan Ken. Matanya fokus menatapku. Dia ingin menemaniku pergi bimbingan? 😮.


"Ehm...tapi, Ken...dosenku itu orangnya tak pasti...ehm...datangnya sering molor. Apa kau tak masalah? Aku takut jika menemaniku, waktumu justru terbuang...." ucapku sambil menatap balik wajah Tuan Ken. Kubelai dahinya dengan lembut.


"Tak masalah, Vio. Pekerjaanku sudah beres," dia bangkit dari tidurnya di pangkuanku. "Sudah, bersiap-siaplah. Gantilah pakaianmu dengan yang lebih formal. Kau tak mungkin pergi ke kampus dengan mini dress seperti ini," perintah Tuan Ken.


"Ehm...baiklah, Hubby," aku hendak bangkit untuk berdiri.


"Tunggu!" Tuan Ken menarik lengan kananku. Refleks, aku menatap ke arahnya. "Ada apa?"


"Ganti make up-mu dengan yang lebih simpel. Aku tak suka jika pria lain nanti melirikmu, Vio," jawab Tuan Ken.


"Baiklah, Hubby," ucapku. Setelah alku menjawab, Tuan Ken baru melepaskan cengkeramannya di lenganku.


"Kutunggu kau di halaman depan!" ucapnya saat aku hendak melangkah menuju pintu kamar ini.


"Dia ternyata posesif dan agresif!" ucapku saat tiba di kamarku. "Jika suatu saat Tuan Ken sembuh...aku tak bisa membayangkannya...pasti sifat posesif dan agresifnya akan semakin bertambah kuat..." ucapku lagi sambil memilih-milih baju di lemariku.

__ADS_1


Kuputuskan untuk memakai kemeja warna pink dengan model lengan panjang serta rok kain hitam yang panjangnya semata kaki. Make up-ku juga kuhapus, aku hanya memakai bedak tipis dan juga lipstick warna pink yang tak mencolok. Kutenteng tas jinjing berisi laptop dan print out proposalku. Aku juga membawa tas selempang kecil untuk wadah dompet dan smartphone. Kulangkahkan kakiku keluar dari kamarku. Aku hendak menuju ke pintu lift. Terdapat beberapa pelayan wanita yang sedang berkerumun di jendela. Mereka kurasa tak menyadari kehadiranku.


"Tuan Muda akan pergi keluar?" celetuk salah seorang pelayan.


"Dia benar-benar akan keluar menemani gadis itu. Ini suatu keajaiban. Padahal Tuan Muda sudah bertahun-tahun tak pernah mau keluar dari sini sejak peristiwa kecelakaan itu...." celetuk pelayan lain.


"Kita harus lebih menghormati gadis itu mulai sekarang. Tuan Muda menunjukkan bahwa dia tertarik pada gadis itu. Meski gadis itu hanya anak sopir yang ada di rumah Tuan Besar," celetuk pelayan itu lagi.


"Kita tak boleh lagi bergosip tentang gadis itu. Tuan Muda Kenrick kurasa menyayangi gadis itu. Bisa tamat riwayat kita jika membuat masalah dengan gadis itu. Kurasa mulai sekarang jika kita membicarakannya kita harus menyebutnya Nona Muda..." celetuk pelayan lain.


"Iya, itu benar. Tuan Muda Kenrick punya pengawasan yang ketat di sini. Pernah ada pelayan yang dipecat karena bergosip dan menyebut Tuan Kenrick dengan sebutan Tuan Muda Lumpuh. Hi! Aku takut itu terjadi padaku."


Para pelayan itu tetap saja bergerombol dan fokus menatap ke arah jendela. Kurasa mereka tak tahu jika yang mereka bicarakan ada di belakang mereka saat ini. Jika kuberi pelajaran kelihatannya bagus supaya mereka tak bergosip saat jam kerja.


"Apa Hubby? Aku tak dengar!" teriakku kencang sambil mengarahkan layar smartphone ke wajahku. "Sebentar, sinyalnya sulit!" aku berjalan ke arah jendela itu. Hihihi, aku pura-lura melakukan videocall dengan Tuan Ken. "Iya, sebentar! Flashdisk-ku terjatuh di sekitar jendela!" teriakku kencang sambil mengarahkan smartphone ke arah jendela tempat para pelayan itu berkerumun. Sebenarnya aku hanya membuka foto wajah Tuan Ken saja. "Apa suruh pelayan mencarinya?" teriakku kencang.


"Nona!" sahut para pelayan wanita itu. Mereka menunduk memberi hormat padaku. Hihihi, makanya jangan suka gosip waktu jam kerja 😏.

__ADS_1


"Iya, Hubby. Aku dengar kok meski sinyalnya sulit. Telingaku ini seperti telinga kelinci. Sangat sensitif apalagi jika diriku disebut...." ucapku dengan nada meninggi. Saat kulirik sekilas, wajah para pelayan wanita itu nampak pucat.


"Oh, kau mau membelikanku flashdisk baru? Baiklah, aku akan segera turun, Hubby," ucapku sambil memencet tombol lift.


Aku pun segera masuk ke dalam lift itu. Jika pelayan wanita di sini bisa berkata seperti itu, berarti ini benar-benar pertama kalinya Tuan Ken pergi keluar. Alasan dia pergi keluar itu untuk menemaniku. Mengapa hatiku berasa hangat, ya? Apa ini berarti Tuan Ken benar-benar mulai menyayangiku dengan tulus? Semua pertanyaan masih bergelayut di pikiranku. Tak terduga kakiku sudah melangkah hingga di halaman depan nampak sebuah mobil sedan warna hitam terparkir di halaman ini.


"Nona, silahkan masuk. Tuan Ken sudah menunggu Anda," ucap seorang pria sambil membukakan pintu mobil itu. Aku pun masuk ke dalam. Nampak Tuan Ken duduk di baris kedua di atas kursi rodanya.


"Jangan lupa pasang sabuk pengaman, Vio!" ucap Tuan Ken sambil memasangkan sabuk pengaman padaku. Mobil ini mulai berjalan. Tuan Ken menggenggam tangan kananku dengan erat. "Temani aku untuk kembali melihat dunia luar, Ho...ney...." panggilnya terbata-bata.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Ken dan Vio bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2