
Mataku bertatapan secara langsung dengan mata Tuan Ken. Embusan napas Tuan Ken terasa menerpa wajahku. Ini pertama kalinya aku berada dalam keadaan seperti ini dengan seorang pria. Mengapa jantungku berdebar kencang ya? NGEK!!! Terdengar suara pintu terbuka.
"TUAN!" terdengar suara orang memanggil.
"EH!" ucapku spontan.
Aku langsung turun dari atas tubuh Tuan Ken. Nampak seorang pria dengan jas hitam ada di dekat pintu kamar. Ekspresinya terlihat aneh. Duh, jangan sampai pria ini berpikiran macam-macam. Pria ini kurasa seumuran dengan Tuan Ken.
"Ada apa, Gery?" ucap Tuan Ken. Dia duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arah pria itu.
"Ehm...maaf, Tuan. Saya mohon diri...." ucapnya terbata-bata.
"Kenapa? Mengapa kau bersikap aneh, Gery?" ucap Tuan Ken.
"Ehm...saya kira ehm...saya menghadap di saat yang tidak tepat," ucap Gery lagi. Tuan Gery, kau tidak berpikir macam-macam kan? 😨
"Saat yang tidak tepat? Apa maksudmu? Jangan bicara berbelit-belit, Gery! Berbicaralah dengan jelas!" ucap Tuan Ken dengan nada meninggi.
"Saya kira ehm...Tuan dan Nona sedang...." ucap Gery ragu-ragu. Oh tidak! Rupanya Tuan Gery berpikir macam-macam. Sebaiknya aku segera pergi dari sini! 😣
"Ehm...sepertinya kau ada urusan penting, Ken...." ucapku lirih sambil menyingkir dari atas tubuh Tuan Ken. "Aku pergi dulu!" kulangkahkan kakiku secepat mungkin untuk keluar dari kamar itu.
BRAK!!! Sampai di dalam kamarku, pintu langsung kututup begitu saja. Tubuhku bersandar di belakang pintu. Lama-kelamaan tubuhku merosot sehingga terduduk di lantai. Pikiranku masih dipenuhi keterkejutan. Bibirku kusentuh kembali.
Tadi itu aku benar-benar berciuman dengan Tuan Ken? 😶. Jantungku sampai saat ini masih merasa berdebar. Apalagi jika teringat saat aku ehm...menimpa atau lebih tepatnya menindih tubuh Tuan Ken. Tuan Ken, kau ternyata tidak sepolos yang kupikirkan.
Hari menjelang malam, sebentar lagi waktunya makan malam. Aku sudah memakai piyama berwarna ungu lavender berbahan katun. Tuan Ken pasti masih sibuk dengan urusannya. Kurasa jika aku menonton drama korea sejenak tak masalah sambil menunggu waktu makan malam tiba. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang.
"Nikmatnya!" ranjang ini terasa sangat empuk. Apalagi kamarnya juga dilengkapi AC dan wifi yang kencang. Ini suatu kenikmatan yang menyenangkan. "Mau nonton drakor apa ya?" kubuka smartphone-ku. "Ah, sepertinya yang ini bagus! Eh, yang ini juga bagus!" aku pun mulai menonton drama korea yang membuatku penasaran. Aku terlarut dalam kisah drama korea itu. Entah berapa episode yang sudah kotonton sambil berbaring tengkurap di atas ranjang.
__ADS_1
"Ah! Sayangku!" teriakku kencang saat aktor yang juga idolaku muncul dalam episode drama korea itu. "AAA!!!" teriakku spontan. Tiba-tiba saja kurasakan geli pada telapak kakiku. Secara refleks, aku bangkit lalu terduduk di atas ranjang. "TUAN KEN!" teriakku spontan. Nampak Tuan Ken sudah ada di dekat ranjangku, dia menatapku tajam dari atas kursi rodanya. "Ehm...Ken...ada apa?"
"Waktunya makan malam, Vio! Aku menyuruh pelayan umtuk memanggilmu berulangkali tapi tak ada jawaban. Ternyata kau sedang sibuk bermain HP! Kau harus menemaniku saat makan! Ingat itu!" ucap Tuan Ken. "Masuk!" teriaknya.
Beberapa pelayan masuk ke kamarku. Mereka membawa sebuah meja lipat lengkap dengan alat makan. Ada juga berbagai hidangan yang menggugah selera.
"Bantu aku duduk di sampingmu!" perintah Tuan Ken sambil menatapku.
"Ehm...baiklah, Ken...." aku pun menuruti perintahnya. Tuan Ken sudah duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah kiriku. "Eh!" dia langsung memeluk tubuhku. Dia menyandar dengan manja.
"Suapi aku, Vio...." ucapnya lirih. Tuan Ken, mengapa kau jadi sangat manja, sih? 😯. Kuamati hidangan yang tersaji di atas meja. Semuanya hidangan lokal. "Aku ingin makan nasi goreng saja...." ucap Tuan Ken. Kuambil beberapa centong nasi goreng lalu kuletakkan di atas piring. Tangan kananku menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Tuan Ken. Dia menerimanya lalu mulai mengunyahnya. "Apa kau akan diam terus-menerus?" ucapnya datar.
"Ehm...ada apa? Apa ada yang salah?" tanyaku. Apa aku melakukan kesalahan? 😯
"Belai kepalaku! Ingat itu mulai sekarang!" perintah Tuan Ken.
"Kau juga harus makan!" perintah Tuan Ken.
"Ehm...baiklah...." sahutku sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutku. Tangan kananku bergantian menyuapkan makanan ke mulut Tuan Ken serta ke mulutku. Apa setiap kali makan aku harus seperti ini mulai sekarang? 😮
"Aku sudah kenyang," ucap Tuan Ken. Dia menolak suapan potingan melon itu. "Apa kau masih lapar?" tanyanya sambil menatapku.
"Ehm...tidak, aku sudah tak lapar," sahutku.
"Baiklah. Pelayan, tolong bereskan ini!" perintah Tuan Ken. Para pelayan itu kembali masuk ke dalam kamarku. Dalam waktu singkat, peralatan makan malam itu sudah beres.
"Tuan, ini sikat gigi Anda!" seorang pelayan menyerahkan sebuah wadah bening. Di dalamnya berisi sikat gigi dan pasta gigi.
"Bantu aku pergi ke kamar mandi, Vio," perintah Tuan Ken. Aku pun membantunya kembali duduk di atas kursi roda.
__ADS_1
Kudorong kursi roda itu ke kamar mandi. Baru kusadari jika wastafel di kamar mandi rumah ini jauh lebih pendek daripada biasanya. Kurasa itu untuk menyesuaikan dengan keadaan Tuan Ken. Tuan Ken dengan santa mulai menggosok giginya.
"Apa yang kau lakukan, Vio? Apa kau amat terpesona padaku hingga saat aku menyikat gigi saja matamu sampai tak berkedip!" ucapnya. Ih, apaan sih! Apa benar aku seperti itu? 😳. "Cepat gosok gigimu!"
"Ehm...baiklah, Ken...." sahutku lirih.
Prosesi memggosok gigi segera kulakukan, tak lupa kucuci wajahku. Setelah selesai, kudorong kursi roda Tuan Ken keluar dari kamar mandi ini. Sebaiknya kuantar dia sampai ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan? Berhenti!" teriak Tuan Ken tepat saat kursi rodanya sudah sampai di dekat pintu kamarku.
"Ehm...Ken, bukankah sekarang waktunya tidur? Ehm...aku ingin mengantarmu ke kamarmu...." sahutku.
"Aku ingin berada di sini!" ucap Tuan Ken sambil menatapku.
"Ehm...apa masih ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyaku.
"Bicara? Bicara apa?" Tuan Ken terlihat bingung. "Aku berada di sini karena ingin tidur sekamar denganmu, Vio!"
"Hah? Tidur sekamar denganku?!" teriakku spontan.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1