
Tunggu, Tuan Ken memintaku membantunya menyelesaikan pekerjaannya? 😯 Memangnya seperti apa pekerjaan yang dia lakukan? 😮 Lebih baik aku segera menyelesaikan riasanku. Kulangkahkan kakiku pergi ke kamar Tuan Ken. Kubuka pintu kamar itu.
"Hubby," panggilku sambil membuka pintu kamar itu.
Nampak Tuan Ken sudah duduk di atas ranjang. Ada sebuah meja lipat di depannya. Sebuah laptop dan beberapa dokumen nampak ada di atas meja itu. Tuan Gery nampak berdiri di samping Tuan Ken. Kurasa Tuan Ken sedang sibuk sehingga tak menjawab panggilanku.
"Selamat pagi, Pak Gery...." sapaku.
Tuan Ken dan Tuan Gery nampak tertegyn ketika melihatku. Mereka seolah tak berkedip. Apa ada yang salah dengan dandananku.
"Cantik...." ucap Tuan Gery.
"Apa?" ucapku spontan.
Apa Tuan Gery baru saja mengatakan kata cantik? Ehm...apa Tuan Ken dan Tuan Gery tertegun karena melihat penampilanku? Tapi, aku merasa penampilanku biasa saja. Tak sampai ke level yang pantas untuk dikatakan sangat cantik sampai membuat seorang pria tak bisa mengedipkan mata.
"Gery!" panggil Tuan Ken dengan nada meninggi. "Cepat! Pergi! Lakukan pekerjaanmu! Cepat!" perintah Tuan Ken dengan ketus. Apa Tuan Ken marah karena Tuan Gery menyebutku cantik? 😮.
"Ehm...baik....Tu...an...." sahut Tuan Gery terbata-bata. Dia segera kekuar dari kamar ini.
Suasana menjadi hening. Tuan Ken masih saja diam tak berbicara. Dia memandangku dengan tatapan yang tak bisa kumengerti.
"Hubby...." panggilku sambil mendekat ke arahnya. Dia tetap saja tertegun sambil memandangku. "HUBBY!" panggilku lebih keras lagi.
"Eh...ya...." sahut Tuan Ken. Dia kurasa terkejut.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK! Terdengar suara ketukan pintu. Dua orang pelayan nampak masuk ke dalam kamar ini. Seorang pelayan membawa nampan dan seorang pelayan lagi membawa semacam rak besi tingkat tiga yang memiliki empat roda dan bisa didorong.
"Tuan, sarapan pagi sudah siap!" ucap pelayan itu.
"Taruh saja di situ. Kalian boleh pergi!" sahut Tuan Ken.
"Baik, Tuan," jawab kedua pelayan itu.
"Hubby," panggilku lagi. "Apa kau mau kusuapi?" entah kenapa aku bernisiatif mengajukan pertanyaan itu. Kejadian kemarin waktu makan malam teringat di kepalaku. Tuan Ken tak ragu untuk meminta kusuapi saat itu.
"Peningkatan, Vio. Kau sedikit peka terhadapku. Ehm...suapi aku!" ucap Tuan Ken.
Kulihat menu sarapan itu. Ternyata masakan lokal. Nampak nasi putih serta ayam goreng kremes. Selera makan Tuan Ken susah ditebak. Kuambil nasi dan lauk secukupnya. Aku lalu duduk di tepi ranjang. Kuarahkan sendok berisi makanan ke arah Tuan Ken. Dia menerima suapan itu dengan lahap. Sambil mengunyah suapan itu, Tuan Ken sibuk menatap layar laptop. Dia sibuk mengetik sesuatu. Aku melirik sekilas. Oh ternyata dia sedang mengerjakan dokumen untuk bisnisnya. Itu terlihat dari adanya lambang dan nama perusahaan di bagian atas dokumen berbentuk word itu.
"AAA!" Tuan Ken meminta suapan lagi. Aku pun menyuapinya kembali.
"Kau juga harus makan, Vio!" perintah Tuan Ken.
"Ehm...baiklah, Ken...." sahutku sambil beranjak untuk berdiri. "Eh!" tangan kananku tiba-tiba ditahan oleh Tuan Ken. Dia menatapku tajam. "Ehm...ada apa, Ken? Apa ada yang salah?" tanyaku lirih. Tatapan Tuan Ken mengerikan.
"Kau salah memanggilku! Jangan sampai terulang lagi, Vio!" ucap Tuan Ken dengan nada meninggi. Astaga, jadi karena itu? 😦. Kuhela napasku, kurasa Tuan Ken suka jika kupanggil dengan sebutan itu.
"Ehm...maaf, Hubby...." sahutku. Tuan Ken melepas cengkeraman tangannya dari bahuku. Aku pun makan sambil sesekali melirik ke arah Tuan Ken.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Tuan Ken.
__ADS_1
"Ehm...sudah, Ken...." sahutku sambil meletakjan piring itu.
"Kemarilah!" ucap Tuan Ken sambil melambaikan tangan kirinya.
Aku pun naik ke atas ranjang. Kudekatkan diriku dengan Tuan Ken. Tuan Ken langsung menyandarkan kepalanya di dekapanku. Astaga, ini reaksi yang tak kuduga. Ehm...sebaiknya aku memberikan belaian pada Tuan Ken. Aku tak mau dibilang tak peka lagi.
"Ehm...." Tuan Ken tiba-tiba memberikan ciuman pada bibirku. Jantungku menjadi berdetak kencang.
"Aku selalu ingin punya istri berambut panjang yang cantik dan bisa membelaiku seperti ini, Vio," ucap Tuan Ken sambil menatapku.
Tangan kanannya sibuk memainkan rambutku. Ujung rambutku dipelintir-pelintir. Aku harus bicara apa ya? Aku masih canggung, nih! 😶. Apa lagi Tuan Ken bersikap manja dan memujiku. "Vio!" panggil Tuan Ken.
"Ehm...iya, Hubby?" sahutku.
"Ayo pergi! Aku akan menemanimu ke kampus! Karenamu aku ingin melihat dunia luar kembali!" ucap Tuan Ken.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Ken dan Vio bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍