Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka

Terpaksa Menikahi Tuan Majikan : CEO Yang Terluka
Episode 14


__ADS_3

"Ho ... ney....?" kuulangi kalimat yang diucapkan Tuan Ken. Apa telingaku tak salah dengar? Dia memanggilku Honey? Kutatap mata Tuan Ken.


"Kau memanggilku apa?"


"Iya, aku memanggilmu Honey. Kenapa kau tak suka?" tanya Tuan Ken.


"Ehm ... bukan. Aku suka kok ...." sahutku sambil tertunduk.


"Baguslah, jika kau suka, Honey." Tuan Ken mencium tangan kananku. Aku masih canggung untuk membalas perlakuannya.


"Oh ya, jurusan apa yang kau ambil? Sampe mana skripsimu?" tanya Tuan Ken.


"Aku mengambil jurusan Akuntansi, Hubby. Skripsiku sudah sampe tahap pembuatan angket. Sudah sampe bab 3 ...."


"Baguslah, cepatlah selesaikan. Agar kau bisa bebas menemaniku pergi."


"Pergi?" kutatap Tuan Ken tajam. "Pergi kemana?"


"Kenapa kau sangat polos? Apa kau tak pernah membaca kisah romance tentang pasangan yang sudah menikah? Menurutmu kemana kita akan pergi?"


"Entahlah, urusan bisnis mungkin ...." sahutku asal.


"Ck! Bukan!" sahut Tuan Ken.


"Mengunjungi keluarga jauhmu?"


"Bukan!"


"Pergi mengunjungi proyek keluargamu?"


"Bukan! Kita akan pergi honeymoon!"


"Hah? Honeymoon?!" teriakku.


Mulutku langsung kubekap. Pergi honeymoon? Tuan Ken dan aku? Kenapa aku jadi merasa canggung saat membayangkannya ya?


"Jangan khawatir. Masih lama, Honey. Selesaikan dulu skripsimu baru setelah itu kita pergi bersenang-senang. Aku pastikan perjalanan itu takkan pernah kau lupakan seumur hidupmu!" bisik Tuan Ken. Duh, Tuan Ken, kau semakin membuat halusinasiku kemana-mana.

__ADS_1


"Rupanya banyak hal sudah berubah!" tutur Tuan Ken sambil menatap ke arah jendela mobil. "Sudah banyak apartemen dan gedung tinggi dibangun di kota ini. Gery, apa itu tower apartemen yang ...." Tuan Ken menunjuk ke sebuah tower apartemen berwarna biru muda.


"Benar, Tuan. Itu adalah tower apartemen milik Tuan. Penyewanya sudah mencapai 75%, kemungkinan tahun ini akan penuh," sahut Tuan Gery.


Astaga! Ternyata tower apartemen mewah di dekat kampusku itu milik Tuan Ken? Aku tak percaya ini.


"Benar kan prediksiku. Apatemen akan menjadi lifestyle baru di kota ini. Meski tak keluar secara langsunh tapi aku masih bisa melihat dunia lewat internet."


"Tower kedua sedang dalam tahap pembangunan, Tuan. Tuan Besar sempat memuji rencana Anda ini."


"Heh! Aku hanya memanfaatkan pemberian Kakek. Oh ya, Gery. Ambil dua unit yang paling bagus dan ganti perabotannya dengan yang lebih mewah. Aku ingin memberikannya pada istriku." Tuan Ken mencium tangan kananku lagi.


Ah! Tuan Ken, kenapa sih, kau membuatku semakin baper. Jantungku semakin dag dig dug nih.


"Baik, Tuan. Tuan, kita sudah memasuki area kampus tempat Nona Vio belajar," ujar Tuan Gery.


Mobil memasuki area kampus yang rindang. Gedung-gedug berwarna krem nampak dari jendela mobil. Nampak air mancur tingkat dua belas yang menjadi icon Universitas XXY. Pancuran air menari-nari memgelilingi tingkatan air mancur itu. Di belakangnya nampak gedung tingkat tujuh berwarna krem. Itu adalah gedung rektorat.


"Jadi ini area kampusmu, Honey. Cukup megah juga bangunannya. Dimana fakultasmu?"


"Fakultasku ada di tengah area kampus ini, Hubby. Kita bisa parkir mobil di sana."


Tuan Gery dan Pak Supir menggangguk. Aku baru sadar jika ada dua mobil memgiringi mobil yang kutumpangi di bagian belakang. Pasti itu mobil berisi pengawal Tuan Ken.


"Sudah sampai, Tuan." ujar Pak Supir. Tuan Gery sudah membukakan pintu mobil untuk Tuan Ken. Entah mengapa Tuan Ken nampak ragu untuk turun dari mobil. Pintu mobil di sebelahku juga sudah terbuka dari arah luar.


"Pergilah, Vio. Aku menunggu di dalam mobil saja!" Tuan Ken nampak tertunduk.


"Kenapa? Apa kau merasa tak enak badan?" tanyaku sambil menatap ke arahnya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Kau cepat turunlah . Aku akan menunggumu di mobil."


"Ken, tatap aku!" kupegang dengan lembut dagu Tuan Ken. "Kenapa? Bukankah kau bilang akan menemaniku?" Tuan Ken tak menjawab. Dia menghempaskan tanganku.


"Aku hanya akan membuatmu malu, Vio. Kau kemari untuk bimbingan. Aku tak mau dirimu terganggu akibat tatapan aneh dan cibiran dari orang-orang yang melihatku. Aku lumpuh, Vio. Itu pasti akan mengundang cibiran dari banyak orang."


"Sudah, ayo kita turun, Hubby!"

__ADS_1


Kudorong kursi roda Tuan Ken keluar dari mobil. Tuan Gery dengan sigap menurunkan semacam bidang miring di pintu mobil agar kursi roda itu bisa turun ke permukaan tanah. Pintu mobil juga direnggangkan oleh Tuan Gery agar bisa terbuka lebar.


"Apa yang kau lakukan, Vio?! Hentikan! Aku tak mau turun!" teriak Tuan Ken.


Ken, kau harus menghadapi ketakutanmu sendiri. Dunia tak sekejam yang ada di kenangan lamamu. Biar kutunjukkan jika masih ada keramahan di dunia ini untukmu.


"Kau sudah janji padaku, Hubby. Kau berjanji akan menemaniku! Janji tak bisa ditarik kembali."


Kudorong kursi roda Tuan Ken. Tuan Ken nampak cemberut. Dia tak menatapku sama sekali. Jika dia merajuk seperti ini wajahnya lucu juga. Seperti anak kecil saja. Dia memang tampan dan babyface, kuakui pesonanya tak bisa kuhindari.


"Mari, Pak," kusapa seorang dosen.


"Dia dosen?" Tuan Ken menatapku. Matanya nampak terbelalak. Aku hanya menggangguk.


"Ya, dia salah satu dosenku."


"Tapi, dia lumpuh sepertiku dan di atas kursi roda juga!"


"Memangnya kenapa? Kampusku kan sudah inklusi. Jadi semua orang bisa mengajar dan belajar di sini."


"Inklusi?" Tuan Ken nampak berpikir. Kudorong kursi rodanya menaiki bidang miring di loby fakultas. Di dekat loby itu terdapat kamar mandi. "Kamar mandinya ada tiga? Untuk perempuan, laki-laki dan pengguna kursi roda sepertiku?" Tuan Ken memperhatikan tiga tanda berwarna biru di depan pintu kamar mandi itu. "Astaga! Apa mereka teman-temanmu?" Tuan Ken melihat ke arah dua orang mahasiswa yang memakai kursi roda dan juga kruk. Keduanya baru saja keluar dari lift.


"Hay, Kak Ella!" sapa keduanya. Aku pun membalas sapaan itu dengan senyuman. Kurasa itu sudah menjawab pertanyaan Tuan Ken.


"Mereka adek tingkatku, Ken!" Kudorong kursi roda Tuan Ken masuk ke dalam lift. Kupencet tombol menuju lantai tiga.


"Vio, kampusmu berbeda. Aku merasa tenang dan nyaman. Tak ada yang memandang dengan tatapan aneh ke arahku."


"Hubby, dunia ini luas. Mungkin ada beberapa waktu kau bertemu orang yang tak begitu ramah. Tapi, tak semua tempat dan orang seperti itu. Sudahlah, kau suamiku. Aku menerima segala yang ada dalam dirimu," kucium pipi kanan Tuan Ken.


Entah darimana keberanian ini berasal. Tapi setelah melakukannya tetap saja aku merasa dag dig dug. Pintu lift terbuka. Nampak lorong yang memanjang. Ini adalah lorong kantor dosen. Di sinilah pejuang skripsi berjuang menanti dosen pembimbingnya.


"ELLA!" terdengar suara memanggilku.


Nampak tiga orang sudah duduk di kursi depan pintu tuang dosen. Aku memgenali ketiganya. Mereka temanku, Dwi, Astri dan Danny. Tunggu! Danny sudah kembali? Bukankah dia menjalani pertukaran pelajar di luar negeri?


"Ella!" Danny berlari ke arahku. Aku tak tahu apa yang dia lakukan tapi dia langsung memelukku dengan erat tepat di hadapan Tuan Ken. "Ella! Jangan khawatir! Aku sudah tahu semuanya! Aku siap menikahimu!"

__ADS_1


WHAT? Dann! Apa yang kau bicarakan? 😨


__ADS_2