
Tuan Ken mendekat ke arahku. Dia mengamatiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan dari matanya dingin dan menusuk. Aku hanya diam saja sambil menunduk.
"Kau ternyata bukan gadis kaku seperti yang kuperkirakan...." terdengar ucapan yang mengagetkanku. "Mengapa kau tertunduk? Ayo, turun. Kita sarapan bersama! Kubantu kau mengemasi peralatanmu!" nampak sedikit kehangatan di wajah Tuan Ken.
What? Apa ini mimpi? Dia tak marah pada apa yang kulakukan? Bahkan dia sekarang mengajakku sarapan dan ingin membantu membereskan alat-alatku. Tuan Ken mematikan laptop dan speaker itu. Aku membenahi kameraku. Aku pun turun bersamanya dengan naik lift. Tuan Ken memimpin di depan, akhirnya sampai di depan kamarku. Kubuka pintu kamarku.
"Ck! Dasar tak setia!"ucapnya. Astaga, apa dia marah karena aku memasang banyak foto idol boyband K-Pop?
"Ehm...Tuan...to...long jangan marah...."
"Untuk apa marah? Aku hanya terkejut gadis sepertimu punya lebih dari satu idola. Kau tak setia pada idolamu. Ternyata kau mirip denganku...sangat terobsesi pada sesuatu...." Tuan Ken mengamati setiap sudut kamarku. "Hanya saja, aku lebih terobsesi pada karakter animasi 2 dimensi." Tuan Ken melihatku.
Aku sedang duduk di meja rias untuk melepas softlens-ku. Setelah itu aku hendak membersihkan make up-ku. "Apa yang kau lakukan? Jangan bersihkan make up atau mengganti bajumu!" perintah Tuan Ken. Dia suka aku terlihat seperti ini? Ehm...ini memgejutkan. "Sudah, ayo sarapan!" Tuan Ken mengajakku menuju ke dapur kurasa.
Dapur itu juga bernuansa putih, alat masaknya memang berwarna perak tapi seluruh perabotnya termasuk kursi dan meja makan berwarna putih. Tuan Ken sudah menempatkan diri di meja makan. Di sana sudah ada para pelayan dan juga koki.
"Apa kau tunggu? Cepat kemari!" perintah Tuan Ken.
"Ehm...Tuan, saya menunggu ehm...arahan dari Tuan. Daya tak ingin mengusik tempat Nona My Love," sahutku lirih.
"My Love hanya perlu duduk di pangkuanku saja. Dia tak butuh tempat di meja makan. Kemarilah!" Tuan Ken menyuruhku duduk di dekatnya.
Aku pun menurutinya, nampak berbagai hidangan telah disajikan. Hidangan itu sebagian besar sejenis masakan Jepang kurasa. Aku mengambil sumpit lalu memegang mangkuk nasi itu. Tuan Ken nampak mulai makan.
"Kau harus merasakan ini!" dia menunjuk potongan sushi itu. Aku mengambil potongan sushi itu dengan sumpit seperti yang biasa kulakukan saat makan di restoran Jepang. Kumasukkan sushi itu ke dalam mulutku.
"Ehm...rasanya enak!" pujiku.
"Nampaknya kau bukan gadis yang kaku dan norak ya," Tuan Ken menatapku. "Kau bisa makan menggunakan sumpit dengan cukup baik. Bisa berdandan ala cosplay. Menyanyi lagu Jepang, Barat dan Korea dengan pelafalan dan gerakan yang yah lumayanlah walau pengucapannya masih perlu perbaikan. Tapi dance-mu cukup bagus. Kenapa kau tak pernah menunjukkannya padaku?" tanya Tuan Ken.
__ADS_1
"Ehm...Tuan. Bukannya saya bermaksud menyembunyikannya tapi Tuan tahu sendiri. Ehm...saya tak mau mengganggu Tuan dan Nona My Love," jawabku jujur. Dia tak lupa kan bagaimana kakunya dia saat malam pertama kemarin.
"Kau masih memikirkan ucapanku saat malam pertama itu ya?" tanya Tuan Ken lagi. Aku hanya diam sambil menunduk. "Aku berkata begitu karena kukira kau gadis yang kaku dan norak. Kukira kau tak bisa berpikiran terbuka dan mengganggapku aneh seperti keluargaku. Ehm...tapi ternyata kau juga ehm...hampir sama sepertiku terobsesi pada sesuatu yang dianggap orang lain mungkin ehm...aneh..."
"Saya tidak merasa Tuan aneh. Bukankah normal jika seseorang memiliki kegemaran? Tuan suka pada karakter anime dan menggapnya sebagai ratu di hati Tuan itu normal menurut saya. Itu seperti saya yang mengganggap para idolaku seperti seorang raja atau pangeran di hatiku," aku tersenyum ke arah Tuan Ken. Tuan Ken nampak tertegun. "Ada apa Tuan?" tanyaku. Apa ada yang salah dengan ucapanku?
"Ehm...tak apa-apa. Sudah lanjutkan sarapan kita!" Tuan Ken kembali makan. "Kau harus merasakan ini dan juga ini!" dia mengambikkan lauk untukku. Aku pun menggangguk.
"Ini masakan yang lezat, Tuan," pujiku dengan tulus.
"Ehm...kau...." panggil Tuan Ken.
"Iya, Tuan?" aku menatap ke arahnya.
"Ehm...bagaimana aku harus memanggilmu?" Tuan Ken tertunduk.
"Tuan bisa memanggiku Vio," ucapku ramah.
"Ehm...tapi Tuan..." aku ragu mengatakannya. "Tuan kan majikan ehm...saya...."
"Jangan kaku! Kau sudah menikahiku! Aku ingin hubungan kita tak kaku ya setidaknya kau bisah jadi ehm...temanku di rumah ini..." sahut Tuan Ken malu-malu. Ini di luar dugaanku. Aku tak menyangka karena take video itu Tuan Ken mulai terbuka padaku.
"Ehm...baiklah...Tu...an...ehm...maksudku...Ken," aku memanggil namanya langsung untuk pertama kalinya.
"Ehm...kau suka nonton ehm...anime?" tanya Tuan Ken.
"Anime? Cukup suka, saya suka menonton genre robot-robotan. Jika tak salah namanya Gun...." aku berusaha mengingat namanya.
"Namanya Gund*m. Ya, itu salah satu anime yang bagus. Aku kebetulan memiliki beberapa koleksi di kamarku. Kau mau melihatnya?" ajak Tuan Ken.
__ADS_1
"Tentu saja!" sahutku antusias. Aku pun mengikuti Tuan Ken kembali ke kamarnya. "WOW!Ini menakjubkan!" di kamar itu ada banyak miniatur Gund*m yang tersusun dalam rak-rak kaca.
Ada juga action figur dan merchandise dari berbagai karakter anime. Dan action figur dan merchandise yang paling mendominasi tentu saja karakter yang dipanggil oleh Tuan Ken sebagai My Love. Ada sekotak miniatur Gund*m yang belum dirakit di atas meja kerja.
"Tuan...ehm...maksudku Ken, kau luar biasa bisa merakit ini!" pujiku sambil menunjuk ke arah kotak itu. "Ada apa?" Tuan Ken nampak tertegun.
"Kau orang pertama yang memuji kegemaranku ini. Keluargaku hanya mengganggap ini hal aneh," Tuan Ken nampak bersedih. Aku harus segera memgalihkan pembicaraan. Mataku menangkap ada rak berisi baju-baju terbungkus plastik. Aku menuju ke arah rak ganting itu.
"Ken, kau juga suka cosplay, ya?" aku melihat-lihat kostum itu. "Oh, ini pasti baju untuk Nona My Love ya?" kostumnya kebanyakan baju perempuan. Ken kan pria dan tubuhnya cukup besar, tak mungkin berdandan atau memakai kostum ini.
"Akhirnya ada yang mengerti!" ucap Ken. Dia mendekat ke arahku. "Iya, aku membelinya hanya sebagai koleksi karena kecintaanku pada My Love. Bukan karena aku mulai berperilaku menyimpang," Tuan Ken menatapku. "Vio!" panggil Tuan Ken.
"Iya, ada apa?" tanyaku.
"Berjongkoklah sebentar!" perintahnya. Aku pun berjongkok di hadapannya. "Manis sekali!" ucap Tuan Ken sambil menyentuh pipi kananku. "Ah, maaf...." Tuan Ken tiba-tiba menarik tangannya. "Ehm...seharusnya aku meminta ijin padamu untuk menyentuhmu!" ia berbalik membelakangiku. Astaga, ternyata dia sangat menghormatiku.
"Tak apa-apa, Ken," aku berjongkok di depannya lagi. "Sudah hakmu untuk menyentuhku!" kedua tangan Tuan Ken kutempelkan di kedua pipiku. Tangannya terasa hangat dan lembut.
"Berdandanlah seperti ini setiap hari!" ucapnya. Matanya menatapku dengan hangat.
"Tapi, Tuan..." aku teringat sesuatu.
"Kenapa kau menolak? Kau menolak menuruti perintahku?" ia nampak mulai murka.
Jangan lupa vote ya 😄
Cara vote gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol di pojok kiri bawah 😄
__ADS_1
Thank you 😍