
"Hah? Tidur sekamar denganku?!" teriakku spontan.
"Kenapa kau berteriak? Cepat, bantu aku berpindah ke atas ranjangmu!" perintah Tuan Ken.
"Ehm...ba...ik...lah, Ken...." sahutku lirih.
Kudorong kursi roda itu mendekat ke dekat ranjang. Kupapah Tuan Ken agar bisa berpindah ke atas ranjang itu. Di berbaring di sebelah kiri. Aku pun membaringkan diriku di ranjang sebelah kanan. Ada space yang cukup luas di bagian tengah ranjang.
"Hoahm! Aku sudah mengantuk," Tuan Ken menatap ke arahku. "Hey, apa yang kau lihat, Vio? Kenapa kau menjaga jarak dariku? Cepat, kemari! Cepat, memdekatlah ke sini!" Tuan Ken menarik tangan kananku.
"Ken!" teriakku kencang. "Aku belum pernah tidur dengan seorang pria!" teriakku spontan.
"Apa kau pikir aku pernah tidur dengan wanita sungguhan? Aku tak pernah tidur dengan wanita, kecuali ibuku sendiri. Itu pun saat aku masih kecil. Sudah, jangan lebay! Cepat, kemari!" Tuan Ken menarik tangan kiriku lagi dengan lebih kuat. Aku pun memberanian diri naik ke atas ranjang. Tubuhku kubaringkan.
"Kemari, Vio!" Tuan Ken menarik tangan kiriku lagi. "Ayo, mendekatlah!" perintahnya.
"Ampun, Ken! Ampun!" teriakku lagi.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan? Aku tak akan menyakitimu. Sudah, cepat mendekat!" perintah Tuan Ken lagi.
Aku pun mendekat ke arah Tuan Ken. Diriku dan dirinya jaraknya sangat dekat, hanya dibatasi oleh sebuah guling. Aku dan dia dalam posisi saling berhadap-hadapan. Astaga, jantungku berasa berdebar kencang. Ini pertama kalinya seumur hidupku aku tidur seranjang dengan seorang pria. Mataku menatap mata Tuan Ken.
"Ck!" Tuan Ken menyingkirkan guling itu. Dia langsung memeluk tubuhku.
"Ke...." ucapku spontan. Kedua tangan Tuan Ken memegang kedua pipiku. Bibirnya kembali bersentuhan dengan bibirku. Mataku melotot karena terkejut.
"Ciuman sebelum tidur," ucapnya santai. Bibirku terasa hangat. Jantungku semakin berdebar. Tuan Ken kembali memberi ciuman di dahiku.
"Ini terlalu cepat...." ucapku spontan.
"Apa maksudmu?" Tuan Ken membuka matanya lagi. Dia kembali menatapku. "Kau tak suka tidur denganku?" tanya Tuan Ken.
"Ehm...bukan begitu...hanya...ehm...hanya saja...ini terlalu cepat...." kungkapkan isi pikiranku. "Kau dan aku ehm...belum mengenal secara dekat tapi ehm...kita sudah ehm...berciuman, mandi bersama bahkan ehm...sekarang tidur ehm...seranjang...." ucapku lirih.
"Memangnya kenapa? Kau dan aku sudah menikah, Vio. Tak akan ada yang akan protes jika kita melakukan hal itu," sahut Tuan Ken.
__ADS_1
"Tapi, Ken...ehm...apa kau tak merasa ehm...muak denganku?" tanyaku pada Tuan Ken.
"Muak? Mengapa aku harus muak denganmu sekarang? Apa kau masih memikirkan perilakuku sebelumnya?" Tuan Ken menatapku. "Aku minta maaf jika sudah kaku dan terkesan kasar. Sekarang, aku hanya ingin...ehm...menjadikanmu teman ehm...dalam hidupku," ucap Tuan Ken sambil membelai pipiku.
"Teman hidup?" aku tertegun. Tuan Ken, apa ini berarti kau mulai membuka hatimu untukku? "Tapi...ehm...aku merasa minder...."
"Kenapa? Kenapa kau merasa minder, Vio?" tanya Tuan Ken. Aku tak berani menatapnya. Mulutku sekan terkunci. "Tatap mataku dan jawab aku!" Tuan Ken mencengkeram daguku. Tuan Ken, bagaimana aku harus mengatakan hal ini padamu? 😢
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1