
"Siapa dia?"Lirih Rafael.
Zia tidak menjawab ia menangis dan Terus menangis,hatinya benar-benar sakit, sejujurnya ia masih sangat mencintai Dani.
"Maaf kan aku,hikssss maaf kan aku."Ucap Zia sambil mengengam kuat rumput yang di depan nya.
Rafael berjongkok meraba-raba pundak Zia, ia bisa merasakan betapa pilunya tangisan Zia saat itu.
"Berdiri lah."Ucap Rafael membantu Zia untuk berdiri.
Sedikit demi sedikit Rafael mengerti jika laki-laki yang tadi bertemu dengan Zia adalah kekasih Zia, karena ia begitu jelas mendengar apa saja yang di ucapkan Dani tadi.
Zia masih larut dalam kesedihan dan rasa bersalah nya,ia menangis sesenggukan dengan badan yang mulai melemah.
"Cari kursi agar bisa duduk."Ucap Rafael kepada Zia.
Zia pun menuntun Rafael ke kursi yang berada di taman kota tersebut yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Setelah duduk tangis Zia semakin pecah ia tidak sanggup untuk mengingat wajah Dani yang begitu kecewa melihat dirinya.
"Aku mengerti, menangis lah maka kau akan sedikit merasa lega."Ucap Rafael memegang kepala Zia yang kemudian menyadarkan di pundak nya.
Setelah beberapa menit kemudian Zia pun mulai tenang dan tidak menangis lagi,hanya mata yang sembab dan sedikit bengkak serta bibir yang basah.
"Maaf."Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Zia saat ia kembali duduk dengan posisi tidak menyandar di pundak Rafael lagi.
"Aku tidak memaksa kau untuk menceritakan nya, namun setidaknya kau mengerti posisi mu sekarang."Gumam Rafael yang seperti nya menahan cemburu.
"Dia cinta pertama ku,kami sempat berjanji untuk menikah, namun tidak dengan pacaran, hanya janji untuk menikah."Jawab Zia menatap kosong arah depan nya.
"Cinta pertama, apa kau menyalakan aku dalam hal ini?"Gumam Rafael pelan menekan kata cinta pertama di awal ucapan nya.
"Hmm, tidak begitu, takdir adalah takdir tidak ada yang bisa melawan takdir."Ucap Zia menoleh menatap wajah Rafael.
__ADS_1
"Apa dia tampan?"Tanya Rafael aneh.
"Hmm."Jawab Zia singkat.
"Dia bisa melihat mu?"Ucap Rafael semakin aneh.
Zia terdiam,ia kembali menatap Rafael yang matanya terbuka namun tidak berkedip sedikit pun.
"Tentu."Jawab Zia pelan.
"Pantas kau sangat mencintai nya,dia sempurna."Jawab Rafael sedikit menampilkan senyum hambar di bibirnya.
"Mencintai bukan karena fisik atau materi, cinta yang tulus itu datang nya dari hati bukan dari fisik atau lain-lain."Jawab Zia merasa jika Rafael sedang mencoba membandingkan dirinya dengan Dani.
"Tapi dia jelas lebih sempurna dari ku,jika kau bersamanya kau tidak perlu mengurusi laki-laki buta seperti ku bukan?"Ucap Rafael.
Seketika Zia menatap sedih wajah suaminya,dia memang laki-laki tampan,punya segalanya, namun ia tidak memiliki kebahagiaan karena matanya, karena kecelakaan itu.
"Tidak ada cinta yang bisa pergi begitu cepat dari hati wanita seperti mu."Ucap Rafael.
"Lalu?"Ucap Zia bingung.
"Jika kau benar mencintai nya, pergilah."Ucap Rafael tiba-tiba.
Deg ... jantung Zia rasanya ingin copot mendengar ucapan Rafael yang tidak masuk akal itu.
"Apa maksud mu?"Ucap Zia lagi.
"Jangan pura-pura, jika mencintai nya,kejar dia hidup lah bersama dengan nya,bukan kah dari awal ini kesalahan keluarga kami? Dan juga keluarga angkat mu? Niko benar, kau tidak ada hubungannya dengan mereka, tidak sepantasnya kau mendapatkan penderitaan ini bersama dengan ku, kau hanya korban penganti, pergilah."Ucap Rafael menahan sakit hatinya yang sebenarnya ia sudah mulai mencintai dan menyayangi Zia namun belum bisa mengatakan nya.
"Jangan gila,ayo cepat, sebaiknya kita pulang saja,ini sudah larut."Ucap Zia mengengam erat tangan Rafael.
Perlahan Rafael melepaskan genggaman tangan Zia.
__ADS_1
"Aku akan pulang sendiri."Ucap Rafael lagi.
"Apa kau membuang ku? Apa kau tidak membutuhkan aku lagi?"Ucap Zia marah.
"Justru aku membiarkan mu untuk bahagia! Tingal kan aku! Apa yang kau harapkan dari aku! Aku bahkan tidak bisa melihat wajah mu!"Ucap Rafael berdiri dan membentak Zia dengan kuat.
Sementara itu Zia kembali menangis, jujur ia hanya menginginkan satu kali pernikahan dalam hidupnya, siapapun suaminya itu adalah takdir dan ia tidak berhak melawan takdir, meskipun rasa cinta nya terhadap Dani masih ada namun perlahan-lahan ia juga sudah mulai mencintai Rafael, namun ia juga berusaha mengubur dalam-dalam perasaan itu karena ia merasa tidak pantas dan ia hanya penganti bukan yang asli.
"Aku tidak akan pergi, pernikahan dalam hidup ku hanya boleh satu kali,dan aku sudah menikah dengan mu,kau suamiku, meskipun aku tau posisi ku hanya lah sebagai istri penganti,jika suatu saat nanti kau menemukan penganti ku juga, maka saat itu lah aku akan pergi meninggalkan mu,tugas ku merawat mu, biar apapun yang dikatakan oleh orang kau tetap suamiku!"Ucap Zia yang baru kali pertama ia berbicara dengan nada tinggi di hadapan Rafael.
Rafael terdiam mendengar ucapan Zia, ia merasa bersalah atas apa yang sebelumnya telah ia lakukan terhadap wanita baik itu, ucapan yang kasar, kata-kata hinaan dan sebagi nya.
"Aku tau sampai kapan pun kau tidak akan mencintai ku,aku wanita yang tidak memiliki keluarga, aku juga di pungut dari panti asuhan oleh keluarga Prasetya,dan ... ",
"Cukup! Hentikan ucapan mu."Ucap Rafael kepada Zia.
"Mengapa? Bukan kah itu semua benar?"Ucap Zia sambil menyeka air matanya.
Tiba-tiba Rafael meraba-raba mencari tangan Zia kemudian menarik Zia ke dalam pelukannya.
Zia membiarkan dirinya di dekap oleh Rafael,ia sekarang benar-benar rapuh, tidak ada tempat untuk bersandar, sekarang ia hanya memiliki Rafael saja,mama dan papa angkat nya sudah tidak pernah mengabari atau menanyakan kabar nya setelah pernikahan itu.
"Aku membenci hidup ini aku benci aku muak hiksss, dunia benar-benar tidak adil aku benci diriku sendiri aku benci!"Racau Zia sambil memukul-mukul pelan lengan Rafael.
"Aku memang belum bisa mengatakan jika aku mencintaimu, karena aku tidak ingin kau menderita bersama laki-laki buta seperti ku."Batin Rafael sambil mendekap Zia untuk menenangkan nya.
Zia merasa begitu nyaman dalam pelukan Rafael, selama ini belum pernah ada seseorang yang memeluk nya sehangat ini.
"Ayo kita pulang."Bisik Rafael ke telinga Zia saat Zia sudah mulai tenang.
Zia melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Rafael,entah kenapa rasa nyaman yang ia dapatkan sangat lah besar ketika sedang bersama dengan Rafael.
Bersambung ....
__ADS_1