
"Aku sangat ingin kau bisa melihat ku."Batin Zia kembali menangis.
Tiba-tiba ia mendengar suara mobil yang di mana itu adalah suara mobil Niko yang mengantarkan Rafael pulang ke Fila.
Zia pun bergegas menghapus sisa air matanya kemudian berjalan cepat keluar dari kamar menuju lantai bawah Fila.
"Sudah pulang ya."Ucap Zia melihat Rafael yang di tuntun Niko masuk ke dalam Fila.
"Itu istri mu,aku pulang dulu."Ucap Niko yang kemudian kembali keluar dari Fila untuk pulang.
"Sayang, lihat aku membelikan sesuatu untuk mu."Ucap Rafael memberikan sebuah kotak kecil yang terlihat indah dan mewah.
"Apa ini?"Ucap Zia sejenak melupakan rasa sedih nya dan mengambil kotak kecil yang di berikan oleh suaminya.
"Buka saja."Ucap Rafael yang kemudian mencium kening Zia sekilas.
Zia pun membuka kotak tersebut karena penasaran dengan kotak cantik itu.
"Astaga."Ucap Zia sambil membekap mulutnya melihat kalung berlian yang cantik berada di dalam kotak imut itu.
"Suamiku, aku tidak bisa menerima ini,ini terlalu mewah dan mahal."Ucap Zia kepada Rafael.
"Kau tidak pernah mengunakan kartu kredit ku, tidak pernah meminta apapun dari ku,dan apa salahnya membelikan hadiah ini untuk mu."Ucap Rafael sambil tersenyum manis.
"Tapi ini terlalu mahal."Ucap Zia terharu.
"Tidak ada yang terlalu mahal untuk calon ibu dari anak-anakku."Bisik Rafael ke telinga Zia.
Reflek Zia memeluk erat Rafael dan kembali menangis haru.
"Shhht, jangan menangis, air mata mu terlalu berharga."Ucap Rafael mengelus pelan rambut Zia.
"Terima kasih."Ucap Zia semakin mengeratkan pelukannya.
"Hmm,jika aku bisa melihat aku ingin orang pertama yang aku lihat adalah kamu."Ucap Rafael membalas pelukan sang istri.
Deg ... jantung Zia seakan ingin berhenti berdetak,ia benar-benar sedih akan ucapan Rafael barusan,ia pernah bertanya dan kini Rafael benar-benar menjawab nya,dan orang yang ingin ia lihat adalah Zia.
Hal itu semakin membuat Zia sedih karena Rafael sampai sekarang tidak kunjung mendapat donor mata.
"Mengapa kau diam?"Ucap Rafael menyadarkan lamunan Zia.
"Ah iya, bersabar lah kau pasti akan bisa melihat ku."Ucap Zia melepaskan pelukan tersebut dan memegang kedua pipi Rafael.
"Ayo ke kamar."Ucap Rafael memegang tangan Zia.
__ADS_1
"Ayo."Ucap Zia menuntun Rafael untuk pergi ke kamar.
Mereka pun akhirnya berjalan bersama menuju kamar.
Setelah tiba di kamar Zia membantu Rafael untuk berbaring di kasur nya karena Rafael sudah terlihat lelah.
Beberapa puluh menit berlalu,kini Rafael sudah tertidur lelap.
Namun Zia malah tidak bisa tidur, perkataan Dani selalu teriyang di telinganya.
Ia bangun dan bersandar di ranjang dan sesekali menatap Rafael yang sedang tertidur nyenyak.
Zia menatap kalung yang di berikan oleh Rafael tadi,air matanya kembali menetes rasanya tidak sanggup untuk menerima tawaran itu, namun ia benar-benar tidak tega melihat Rafael yang terus menderita karena pengelihatan nya.
Lima hari kemudian.
"Arghhh!"Jerit Rafael.
"Zia yabg sedang memasak di dapur Fila tiba-tiba kaget mendengar jeritan Rafael yang mengema di Fila tersebut.
Zia berlari kecil menaiki tangga menuju kamar.
Zia membuka pintu kamar dan melihat Rafael yang sedang terjatuh di kamar mandi.
"Astaga apa yang kau lakukan?"Ucap Zia melihat Rafael yang kepala nya kini berdarah karena terkena batu di kamar mandi.
Zia dengan cepat menelpon Niko untuk meminta bantuan agar bisa membawa Rafael kerumah sakit.
Satu jam kemudian.
Mereka pun kini telah berdiri tegak di depan ruang UGD tempat di mana Rafael sedang di tangani oleh dokter.
"Zia tenang lah, Rafael akan baik-baik saja."Ucap Niko memegang pundak Zia.
Zia menangis dan terus menangis,ia benar-benar merasa bersalah karena telah lalai menjaga Rafael hingga Rafael terjatuh.
Tidak lama kemudian terlihat mama Rianti dan Oma Lita datang tergesa-gesa menuju ruangan UGD tersebut.
"Niko,Zia apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa Rafael bisa jatuh?"Ucap mama Rianti terlihat marah.
"Ma,maaf kan aku,aku tidak menjaga mas Rafa dengan baik,dia terjatuh di kamar mandi."Ucap Zia menangis.
"Apa? Jadi ini semua gara-gara kamu? Zia seharusnya kamu lebih teliti,dia anak ku satu-satunya,kau seharusnya tidak membuat nya terluka! Istri macam apa kau ini!"Bentak mama Rianti kepada Zia.
"Rianti sudah,kau juga tidak boleh menyalakan Zia, dia juga sudah minta maaf ini semua adalah kecelakaan bukan di sengaja."Ucap Oma Lita mencoba untuk menenangkan mama Rianti.
__ADS_1
"Benar bibi,ini terjadi karena kecelakaan, bibi tidak sebaiknya bicara kasar kepada Zia."Ucap Niko kasihan melihat Zia.
Sementara itu Zia, karena merasa begitu bersalah,ia berjalan meningal kan ruang UGD sambil menangis.
"Zia! Zia kau mau kemana?"Ucap Niko berteriak memanggil Zia.
Zia sama sekali tidak mempedulikan Niko yang memanggil nya,ia terus berjalan menjauh dari tempat itu.
"Niko sudah biar kan,Zia mungkin butuh waktu sendiri."Ucap Oma Lita.
Tidak lama setelah itu dokter pun keluar dari ruangan UGD tersebut.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?"Tanya mama Rianti menghampiri dokter.
"Pasien mengalami sedikit cedera di kepala nya, namun tenang saja luka itu tidak terlalu parah dan ia akan baik-baik saja."Ucap dokter tersebut.
"Sukur lah."Ucap Oma Lita dengan raut wajah bahagia.
"Boleh kah saya melihat anak saya sekarang dokter?"Tanya mama Rianti kepada dokter tersebut.
"Silahkan nyonya,tapi jangan terlalu banyak bicara dengan pasien karena ia butuh istirahat."Ucap dokter tersebut.
Mam Rianti mengangguk kan kepala nya kemudian masuk ke dalam ruang tersebut.
Terlihat Rafael yang terbaring lemah dengan raut wajah yang sedikit pucat.
"Rafael."Lirih mama Rianti.
"Ma,di mana Zia?"Ucap Rafael kepada mama nya.
"Rafael,Zia sedang keluar, sebentar lagi akan kembali kau istirahat saja terlebih dahulu."Ucap Oma Lita kepada Rafael.
"Kemana?"Tanya Rafael lemah.
"Rafael apa yang kau rasakan?"Ucap Niko mengalihkan pembicaraan.
Niko dan Oma Lita tidak ingin Rafael tau jika Zia dan mama Rianti sempat bertengkar.
"Aku baik-baik saja."Jawab Rafael.
"Bagus lah kalau begitu."Ucap Niko.
"Di mana istri ku?"Lagi-lagi Rafael menanyakan Zia.
"Rafael,maaf kan mama,tadi mama sempat bertengkar dengan Zia mama benar-benar panik maaf kan mama."Ucap mama Rianti merasa bersalah.
__ADS_1
Rafael terdiam, ia benar-benar tidak menyangka jika mama Rianti berbuat demikian kepada Zia.
Bersambung ....