Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta
Bab 37


__ADS_3

"La-lalu."Ucap Zia dengan bibir yang gemetar.


"Mama dan papa meningal di tempat, sedang kan aku mengalami koma dan kau, kami tidak tau kau berada di mana."Ucap Nevan sambil terus menyeka air matanya karena mengingat kejadian masa lalu itu sangatlah memilukan hati.


"Dan ibu panti asuhan bilang orang tua paruh baya mengantar kan aku ke panti asuhan tersebut,apa mungkin dia yang menemukan aku? Hiksss mama, papa."Lirih Zia sambil menundukkan kepalanya.


"Nama mu adalah Calista,bukan Zia aku sangat senang bertemu dengan mu adikku, ikut lah dengan ku,kau tidak perlu bekerja seperti ini kau memiliki separuh dari kekayaan keluarga kita."Ucap Nevan kepada adik nya.


"Hiksss, kakak, aku akhirnya menemukan keluarga ku,maaf kan aku yang telah membuat cerita palsu dan berbohong kepada kalian."Ucap Zia menangis haru sambil memeluk erat Nevan.


"Lupakan, dan satu hal yang ingin aku tanyakan pada mu, apa yang terjadi padamu sehingga kau menjadi buta?"Ucap Nevan terlihat menahan emosi nya.


"Aku,aku memberikan mata ku kepada suamiku."Ucap Zia yang kini tak ingin lagi merahasiakan apapun dari keluarga nya.


"Apa? Apa yang terjadi? Mengapa bisa?"Ucap Nevan mengerutkan dahi nya.


"Iya,aku di adopsi oleh sebuah keluarga yang cukup kaya raya, namun mereka memiliki anak perempuan yang di jodohkan dengan seorang CEO buta, dan pada saat pernikahan itu anak perempuan keluarga angkat ku kabur,dan aku di paksa untuk mengantikan anak perempuan mereka untuk menikah dengan laki-laki itu, awalnya semua baik-baik saja,aku mulai mencintai nya dan dia juga mulai mencintai ku, namun tidak lama kemudian anak perempuan keluarga angkat ku kembali dan memfitnah ku merebut calon suami nya dan menuduh ku sebagai orang yang menyekap nya di hari pernikahan itu, dia juga menghasut mama mertua ku sehingga membeci aku, dan aku memiliki masalah dengan mantan kekasih ku dia bilang akan mendonorkan mata adik nya yang sakit untuk Rafael suamiku jika aku kembali kepada nya, namun aku menolak dan ibu mertua ku mendengar kan semua itu dia pun mencaci maki duriku, karena aku benar-benar mencintai suamiku aku memutuskan untuk mendonorkan mata ku dan meningal kan dirinya."Ucap Zia dengan deraian air mata membasahi pipi mungil nya yang cantik.


Nevan menahan amarahnya yang begitu mendalam mendengar cerita dari Zia,ia memeluk Zia dan berkata jika dirinya akan membalas dendam atas perbuatan orang-orang yang telah menyiksa adik nya.


"Lihat saja, bagaimana aku akan membalas mereka."Gumam Nevan dengan suara bergetar cukup marah.


"Mereka yang memperlakukan mu dengan buruk tentu akan mendapatkan ganjaran nya Sayang."Ucap Ariana mengelus rambut Zia.


"Mama,papa,apa dia benar-benar bibi ku?"Ucap Nian yang memegang tangan Zia.


Saat itu juga Nevan melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata Zia.


"Lihat lah dia keponakan kecil mu, kau tidak perlu bersedih lagi ada kami di sisi mu."Ucap Nevan kepada Zia.

__ADS_1


"hiksss Sayang kemari lah."Ucap Zia meraba-raba Nian yang berdiri di samping nya.


Sontak Nian memeluk Zia dengan erat dan terlihat sangat menyayangi bibi nya itu.


"Bibi,aku senang bertemu dengan mu,ayo pulang lah kerumah bersama kami."Ucap Nian kepada Zia.


"Bibi juga senang bertemu dengan mu sayang."Ucap Zia kepada Nian.


"Zia Nian benar, kau lebih baik tingal bersama kami, ini rumah yang kecil dan aku rasa kau tidak perlu lagi bekerja di toko bungga itu."Ucap Ariana kelas Zia.


"Tapi kak, aku merasa senang memiliki pekerjaan."Ucap Zia kepada Ariana.


"Sayang kau memiliki segala nya, tidak perlu kerja di sana lagi, dan kau juga bisa menemani Nian di rumah."Ucap Ariana mencoba membujuk Zia.


"Aku akan memikirkan nya kak."Jawab Zia yang sama sekali tidak tergiur akan harta yang memang telah di wariskan untuk nya.


"Nona muda."Panggil seorang wanita cantik berpakaian rapi dan terlihat sangat cantik.


"Kau memanggilku?"Tanya seorang wanita dengan dres hitam pekat selutut rambut di gerai cantik namun mata nya berbalut dengan sebuah pita merah yang besar cukup untuk menutupi mata nya.


"Ia nona Calista di depan ada nona kecil Nian ingin bertemu."Ucap Vena, yang notabennya adalah asisten pribadi Zia/Calista.


Ya itu adalah Ziana/Calista,yang kini adalah seorang pelukis terkenal di kota (K) Ia melukis dengan mata tertutup.


Satu tahun yang lalu Zia memutuskan untuk ikut dengan keluarga kandung nya dan berhenti menjadi karyawan toko bungga, namun sebelum pergi ia berpamitan dengan nenek dan kakek yang telah baik hati mempekerjakan dirinya di toko bunga tersebut, namun bukan hanya itu Zia juga memberikan cek senilai satu miliar untuk biaya pengembangan toko bungga milik nenek dan kakek tersebut sebagai tanda terima kasih.


Sejak itu Zia menjadi kepribadian sedikit dingin terhadap orang luar kecuali Nevan, Ariana dan Nian.


Ia pun memutuskan untuk mengembangkan bakat alami nya ya itu melukis,dan ia juga memutuskan untuk menutup mata nya mengunakan pita merah.

__ADS_1


Zia juga telah memenangkan begitu banyak lomba melukis berbagai macam lukisan dan banyak lukisan nya yang telah masuk ke pameran.


"Bawa saja dia masuk."Ucap Zia sambil berjalan duduk di kursi nya.


"Baik nona muda."Ucap Vena kembali keluar dari ruangan tersebut untuk menjemput Nian.


"Bibi!"Teriak Nian berlari memeluk Zia.


"Sayang kau ke sini bersama siapa?"Ucap Zia membalas pelukan Nian.


"Aku bersama supir bi,aku ingin melihat lukisan yang ku inginkan apakah sudah selesai?"Ucap Nian kepada Zia.


" lukisan bungga mawar itu ya?"Ucap Zia kepada Nian.


"Iya bibi,itu akan ku pajang di kamar ku."Jawab Nian dengan suara imut nya.


"Tenang sayang itu sebentar lagi akan selesai,dan bibi ingin bertanya di mana mama dan papa mu mengapa mereka tidak ikut serta?"Tanya Zia bingung.


Zia sudah mulai terbiasa melukis menggunakan imajinasi nya dan karena keunikan dirinya itu lah yang mampu memberikan hasil lukisan yang cantik dan menjadikan nya pelukis terkenal di kota tersebut.


"Mama sibuk di kantor begitu juga dengan papa."Jawab Nian terlihat sedikit sedih.


"Baik lah-baik lah jangan bersedih, bagaimana sekarang kau temani bibi untuk melanjutkan lukisan ini."Ucap Zia kepada Nian.


"Siap bibi."Jawab Nian terlihat bahagia.


Zia pun melanjutkan lukisan mawar tersebut sambil di temani oleh Nian, ia terlihat begitu teliti dan lukisan itu pun cukup terlihat nyata dan indah.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2