
"Kapan kau akan melupakan semua ini?"Ucap Niko yang sengaja sering datang ke Fila untuk menjenguk Rafael dan menghibur nya agr ia tidak berbuat nekat atau bunuh diri.
"Melupakan? Melupakan Zia maksud mu?"Ucap Rafael menatap wajah Niko.
"Tidak bukan begitu maksud ku, kau bisa mencari nya bukan dan kau tidak seharusnya berdiam diri di kamar seperti ini, karena kau akan gila, apa kau mau jika nanti Zia pulang namun dia Melihat mu dengan kondisi gila? Aku rasa dia akan kembali meningal kan mu."Ucap Niko memanas-manasi Rafael.
"Biar pun aku seperti ini aku juga tidak akan gila."Ucap Rafael Tampa menatap Niko.
"Kalau begitu temani aku jalan-jalan."Ucap Niko lagi.
"Pergi lah, aku tidak ada mood untuk bersenang-senang."Ucap Rafael tidak bersemangat sama sekali.
"Ini yang kau katakan tidak gila?Kau seharian di dalam kamar mu dan duduk di depan cermin apa ini yang di namakan waras?"Ucap Niko lagi.
Mendengar ucapan Niko Rafael pun berdiri dari duduknya.
"Ayo."Ucap Rafael yang kemudian keluar dari kamar nya.
"Yes, berhasil."Ucap Niko merasa lega karena bisa membujuk Rafael untuk bisa di ajak jalan-jalan agar tidak terlalu stres dan menimbulkan penyakit lain dalam dirinya.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil Niko dan melaju entah ke mana Tampa tau tujuan.
"Kemana?"Tanya Rafael singkat sambil menatap kosong jalan raya yang terlihat banyak orang tersebut.
"Kemana saja."Ucap Niko lagi.
"Aku ingin ke taman bermain."Ucap Rafael kepada Niko.
Niko terdiam dan menatap wajah sepupunya tersebut.
Baru kali ini ia mendengar Rafael ingin berjalan ke taman bermain.
Mereka pun akhirnya pergi menuju taman bermain kota tersebut.
"Sudah sampai."Ucap Niko memberhentikan mobil nya.
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk di taman tersebut dan membeli dua tiket masuk.
Setelah itu mereka pun berjalan masuk ke dalam taman bermain sambil melihat sekeliling taman bermain yang begitu banyak orang.
__ADS_1
"Saat itu aku pergi bersama Zia ke sini, dan aku belum bisa melihat bagaimana indah nya tempat ini."Batin Rafael sambil memberhentikan langkah nya melihat ke atas biang Lala yang tinggi.
"Aku ingin naik benda itu."Ucap Rafael menujuk biang Lala.
"Apa? Kau ingin naik biang Lala? Apa kau gila? Apa kau benar-benar Rafael sepupu ku?"Ucap Niko kaget melihat tingkah sepupu nya itu.
"Mengapa? Apa kau tidak mau? Kalau begitu kita pulang saja."Ucap Rafael cuek.
"Astaga tidak, bukan begitu aku fobia ketinggian."Ucap Niko dengan raut wajah yang aneh.
"Aku tidak peduli,ayo temani aku!"Ucap Rafael menarik Niko menuju biang Lala tersebut.
Mereka pun akhirnya naik biang Lala, dan hal itu mengingatkan tentang bagaimana Zia dulu begitu ceria saat naik benda tinggi dan berputar ini.
"Seandainya aku menemukan dirimu."Batin Rafael sambil menatap kosong arah orang-orang yang sibuk menikmati keindahan di atas biang Lala.
Namun siapa sangka Zia,Alan, dan juga Nian juga berada di biang Lala yang sama dengan mereka.
"Bibi lihat lah indah sekali."Ucap Nian sambil menunjuk langit yang terlihat indah dari atas biang Lala tersebut.
"Iya sayang bibi tau."Jawab Zia berusaha menyembunyikan rasa sendih bercampur rindu terhadap Rafael.
Tidak peduli apa yang di ucapkan oleh Niko di sebelah nya namun Rafael cukup tertarik akan menatap wanita itu.
"Seperti apa wajah Zia sebenarnya?"Ucap Rafael kepada Niko.
"Mengapa kau tiba-tiba bertanya? Bukan kah di Fila mu ada foto pernikahan kalian dan kau juga sering menatap foto itu?"Ucap Niko menahan rasa mual.
"Aku bahkan tidak bisa mengenali nya di dunia nyata, bahkan ketika aku bertemu dengan nya."Ucap Rafael lagi.
Sontak Niko bingung dan melihat arah pandangan Rafael.
"Kau melihat apa?"Ucap Niko yang sama sekali tidak mengenal Zia karena Zia memakai pakaian berbeda dan juga penutup mata.
"Apa yang aku lihat?"Ucap Rafael balik bertanya.
"Sebuah keluarga kecil ,eh maksud ku nanti kau juga akan bisa seperti itu."Ucap Niko menghibur.
"Omong kosong."Ucap Rafael lagi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka pun turun dari biang Lala tersebut.
Niko memuntahkan seluruh makanan yang ia makan tadi karena pusing nya menaiki biang Lala.
"Sumpah aku tidak akan menaiki permainan sialan ini."Ucap Niko sambil memegang perutnya.
"Dasar cengeng."Ucap Rafael yang sebenarnya ikut menahan rasa mual.
Namun mata Rafael kembali tertuju kepada wanita tadi, seorang wanita cantik namun tidak bisa melihat dan tangan nya di genggam oleh seorang anak kecil, di samping nya juga ada laki-laki tampan dengan tubuh tegap.
"Niko, lihat mereka."Ucap Rafael menujuk arah Zia.
"Aku tidak mau, sebaik nya kita pulang aku sangat pusing."Ucap Niko menyeret tangan Rafael keluar dari taman bermain tersebut.
Rafael tidak bisa membantah Niko karena ia juga kasihan terhadap Niko yang mata nya merah akibat muntah-muntah.
Dan mereka pun akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.
"Lain kali aku tidak akan kembali ke taman ini lagi."Ucap Niko kesal.
"Dasar bodoh, begitu saja sudah mau mati."Ucap Rafael mengambil alih kemudi karena ia tau Niko tidak akan bisa mengemudi mobil dengan kondisi seperti itu.
Dan setelah itu pun mereka melaju pulang ke Fila.
Keesokan harinya.
Rafael terbangun dari tidurnya,dan kembali membayangkan wajah cantik dengan mata yang tertutup pita merah.
"Astaga, mengapa aku terus membayangkan wajah istri orang?"Ucap Rafael mengelus kasar wajah nya kemudian turun dari ranjang nya.
Setelah selesai mandi Rafael pun mengunakan pakaian kantor nya dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Terlihat Niko yang masih tidur pulas di ruang tengah Fila di atas sofa.
"Anak ini, aku kira dia sudah balik."Ucap Rafael dengan wajah kesal.
Rafael pun memilih untuk meningal kan Niko yang masih tertidur pulas karena jika menunggu nya bangun itu sangat lama.
Bersambung ....
__ADS_1