Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta
Bab 36


__ADS_3

"Heem,kak, mengapa kau diam?"Ucap Zia.


"Ah tidak maaf kan aku, aku sama sekali tidak mengetahui jika kau tidak bisa makan kepiting."Jawab Nevan tersadar dari lamunannya.


"Tidak apa, kakak makan saja."Ucap Zia sambil tersenyum.


"Aku akan mengganti pesanan ini agar kau bisa makan."Ucap Nevan.


"Baik lah."Jawab Zia lagi.


Nevan pun meminta pelayan untuk menganti pesanan mereka.


Selesai makan Nevan pun mengantar kan Zia ke tempat kerja nya.


"Terima kasih banyak."Jawab Zia turun dari mobil Nevan sambil membungkuk untuk menandakan ia begitu berterima kasih kepada Nevan.


"Sama-sama, kalau begitu aku lanjut kekantor."Ucap Nevan menyalakan mesin mobil nya dan kembali melaju menuju kantor.


Zia pun berjalan pelan masuk ke dalam toko bunga.


"Zia, ada apa nak? Mengapa kau datang terlambat apa kau baik-baik saja di jalan? Apa kau di ganggu oleh orang jahat?"Tanya nenek pemilik toko bungga yang khawatir terhadap Zia.


"Aku, baik-baik saja nek, maaf kan aku sudah membuat mu khawatir dan menunggu lama,tapi aku sedikit ada urusan."Jawab Zia tidak mengatakan tentang ia yang ikut sarapan dengan Nevan.


"Huh, syukur lah kalau begitu ayo masuk nenek sudah menyiapkan teh untuk mu."Jawab sang nenek yang terlihat begitu menyayangi Zia.


Zia pun mengangguk setuju,ia benar-benar beruntung di kelilingi orang-orang baik dan sayang kepada nya meskipun ia sangat merindukan Rafael suaminya.


Sementara itu di sisi lain.


"Aku semakin yakin jika dia adalah adiku, dia bukan hanya mirip dengan almarhum mama, dia juga tidak bisa makan kepiting seperti seluruh keluarga Ardiwinata."Ucap Nevan yang saat ini sedang duduk di depan laptop nya.


Sejak beberapa hari ini Nevan tidak fokus terhadap pekerjaan nya ia benar-benar memikirkan sosok Zia yang di duga adalah adik nya yang hilang.


Sementara itu di sisi lain.


"Hari ini aku harus kembali menemui Zia."Ucap Ariana sambil mengemudi mobil nya dengan kecepatan sedang.


Ariana kembali tidak masuk ke kantor nya karena rasa penasaran nya terhadap Zia cukup lah besar.


Ariana pun akhirnya mendatangi kembali toko bungga tersebut.

__ADS_1


Terlihat Zia yabg sedang melayani beberapa pelanggan yang sedang membeli bunga.


"Huh, mengapa ramai sekali, kalau begini bagaimana aku bisa bicara berdua dengan nya, sial sekali."Ucap Ariana mengurungkan niat nya untuk turun dari mobil.


Karena merasa begitu banyak orang yang ada di toko bungga tempat Zia bekerja Ariana pun tak kuasa turun dari mobil nya dan memilih mengurungkan niat untuk bertemu Zia hari itu dan ia pun memutuskan untuk kembali ke kantor.


Sore harinya.


Nevan mengemudi mobil nya dengan kecepatan tinggi agar bisa menyaingi jam di mana Zia akan pulang dari toko bunga tersebut.


Dan seperti nya Nevan cukup beruntung,ia kembali melihat Zia yang baru keluar dari toko untuk berjalan pulang dengan tongkat nya.


Nevan pun kembali memberhentikan mobilnya dan menawarkan Zia untuk di antar pulang.


Sungguh usaha yang dilakukan Nevan tidak ada habis-habisnya untuk menemukan sang adik.


Karena Zia mulai mengenal dan merasa Nevan adalah orang baik ia pun tidak ragu lagi untuk masuk ke dalam mobil Nevan dan bersedia untuk di antar pulang.


Tidak butuh waktu lama mereka pun akhirnya tiba di kontrakan Zia.


"Kak, apa kau ingin mampir dulu?"Tanya Zia kepada Nevan.


Mereka pun turun dari mobil bersama, dan Nevan memegang tangan Zia menuntun nya menuju pintu masuk rumah.


"Sebentar aku ambil kuncinya."Ucap Zia meraba-raba saku tas nya dan mengeluarkan kuci rumah tersebut.


Namun siapa sangka hal yang begitu tidak di duga terjadi di detik itu juga.


Sebuah gelang emas dengan banyak permata jatuh mengiringi kunci tersebut.


Mata Nevan melotot melihat gelang yang tentu saja sangat ia kenal.


"Astaga, sepertinya gelang ku jatuh, kak apa kau melihat nya?"Ucap Zia terlihat panik.


"Ge-gelag ini."Gumam Nevan membungkuk dan mengambil gelang tersebut.


"Apa kau menemukan nya? Ini gelang ku."Jawab Zia meraba-raba tangan Nevan hendak mengambil gelag tersebut.


Perlahan air mata Nevan mulai menetes di pipi nya,kini tidak ada alasan yang mengatakan jika Zia bukan adik nya.


"Calista."lirih Nevan sambil mengengam erat gelang tersebut.

__ADS_1


Zia sontak kaget dengan ucapan Nevan yang suaranya terlihat serak karena menangis.


"Kak, ada apa dengan mu?"Ucap Zia khawatir.


"Kau Calista, kau adiku."Ucap Nevan yang kemudian memeluk erat tubuh Zia.


"Aku? Apa yang terjadi? Adik siapa?"Ucap Zia kebingungan.


"Calista, mungkin kau tidak mengenal aku,aku Nevan laki-laki yang tadi malam datang ke rumah mu."Ucap Nevan kepada Zia sambil memegang kedua pipi sang adik.


"Apa? Ja-jadi kau suami dari Ariana?"Ucap Zia kaget.


"Iya, mengapa? Mengapa kau membohongi aku? Kau bilang mata mu buta sejak lahir, jelas-jelas kau mendonorkan mata ku untuk orang lain?"Ucap Nevan menguncang tubuh Zia.


Tepat saat itu Ariana tiba di sana bersama dengan Nian, mereka memang berniat pergi menemui Zia ketika Zia sudah pulang dari kerja.


"Mas Nevan, apa yang kau lakukan?"Ucap Ariana kepada Nevan saat melihat Nevan menguncang tubuh Zia.


"Sayang,dia adik ku, dia benar adiku, lihat ini, ini adalah gelang yang pernah ku ceritakan kepada mu."Ucap Nevan menunjukkan gelang tersebut.


"Calista? Dia benar Calista mas?"Ucap Ariana kaget.


"Iya dia adiku yang hilang."Ucap Nevan kembali memeluk erat Zia.


Zia pun akhirnya menitikkan air matanya dan membalas pelukan Nevan.


"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kalian katakan,tapi aku merasakan pelukan seorang kakak saat ini."Ucap Zia dengan air mata yang kian deras mengalir di pipi mulus nya.


"Aku akan menjelaskan nya,ayo masuk."Ucap Nevan tak ingin adik nya ragu jika ia adalah kakak kandung nya.


Mereka berempat pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah kontrakan tersebut.


"Calista,aku sangat senang bisa bertemu dengan mu,aku bahkan sudah lama mencari keberadaan mu."Ucap Nevan kepada Zia.


"Sebenarnya apa yang terjadi dan siapa aku?"Ucap Zia di sela Isak tangis nya.


"Kau adalah putri bungsu keluarga Ardiwinata,saat umur mu lima bulan,kita sekeluarga berniat pergi berlibur, namun di tengah jalan hujan turun dan papa kehilangan kendali karena saat itu kau juga sedang menangis karena takut dengan suara petir akibat nya mobil kita tergelincir dan jatuh ke jurang."Ucap Nevan.


Zia terdiam, cerita tersebut benar-benar seperti terbayang di benak nya dan itu membuat nya sakit hati.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2