Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta
Bab 43


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain.


"Pagi nona Zia."Ucap Vena kepada Zia.


"Kau datang begitu pagi, ada apa?"Tanya Zia sambil meminum teh hangat nya.


"Bukan kah hari ini aku harus membawa nona kecil ke sekolah nya untuk mendaftar?"Tanya Vena kepada Zia.


"Astaga maaf kan aku, aku melupakan hal penting ini."Ucap Zia.


"Apakah nona kecil sudah siap?"Tanya Vena lagi.


"Sudah bibi!"Jerit Nian berlari turun dari lantai atas Fila.


"Nona kecil jangan berlari!"Ucap Vena dengan wajah cemas.


"Nian, bibi sudah bilang bukan jika kau harus patuh dan jangan berlari."Ucap Zia.


"Iya bibi, maaf kan aku, mungkin aku terlalu bersemangat."Ucap Nian dengan wajah imut nya.


"Ayo nona kecil kita pergi."Ucap Vena kepada Nian.


"Bibi, apa bibi tidak ikut?"Tanya Nian memegang tangan Zia.


"Sayang, bibi hari ini harus melukis jadi bibi tidak bisa menemani ku, percaya saja Tante Vena akan menjaga mu."Ucap Zia membujuk Sena.

__ADS_1


"Begitu ya, baik lah, Tante Vena ayo!"Ucap Nian berjalan ke arah Vena.


"Nona muda, aku dan nona kecil berangkat dulu."Ucap Vena kepada Zia.


"Jaga dia baik-baik, setelah selesai mendaftar kalian segera pulang."Ucap Zia wanti-wanti.


"Siap nona muda."Jawab Nian terlihat bahagia.


"Aishhh kau ini."Ucap Zia sambil tertawa kecil mendengar ucapan keponakan nya itu.


Mereka pun akhirnya pergi menuju sekolah.


Sementara itu Zia mulai melukis di ruang lukis nya.


"Aku masih bingung dengan apa yang harus aku lukis, aku benar-benar bingung."Ucap Zia sambil duduk di kursi dan memegang kuas nya.


Entah apa yang Zia pikir kan, ia mulai merenung dan membayangkan wajah seseorang yang kini ada di benak nya seseorang yang wajah nya tidak pernah bisa ia hapus dari ingatan nya, tangan nya mulai bergerak lembut mengoles kan kan beberapa cat ke kanvas dan mulai melukis.


Sementara itu di sisi lain.


Niko masuk ke dalam ruang kerja Rafael sambil membawa kertas undangan dari acara penyelenggara pertandingan melukis.


"Kita harus pergi."Ucap Niko memberikan secarik kertas undangan tersebut.


"Apa ini?"Tanya Rafael.

__ADS_1


"Undangan penyelenggaraan pertandingan melukis."Ucap Niko.


"Aku tidak tertarik."Ucap Rafael sambil fokus ke komputer nya.


"Tidak bisa, kita adalah tamu penting di sana, dan apa kau masih ingat? Lukisan yang di pajang di pameran perusahaan beberapa hari lalu itu, itu dari mereka."Ucap Niko.


"Baik lah, kapan?"Ucap Rafael lagi.


"Minggu depan."Ucap Niko lagi.


"Baik lah atur saja."Jawab Rafael dengan wajah datar nya.


"Siap."Ucap Niko kepada Rafael.


Seminggu kemudian.


Tidak terasa seminggu sudah berlalu,kini tiba lah saat di mana perlombaan itu di mulai.


"Nona muda cepat lah, acaranya akan mulai sebentar lagi."Ucap Vena sambil beberapa kali melirik jam tangannya.


"Ayo."Ucap Zia berjalan pelan sambil menggandeng tangan Nian di sebelah nya.


Zia sangat terlihat cantik hari ini, ia memakai gaun biru tua yang simpel dan tidak terlalu mencolok begitu juga dengan Nian.


"Astaga perfek sekali."Ucap Vena bertepuk tangan melihat penampilan Zia yang begitu cantik dan mempesona.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2