Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta
Bab 30


__ADS_3

Malam semakin larut, Zia tidak tau kemana dia harus pergi,ia kini menyeret kopernya nya di sepanjang jalan setapak.


Langkah gontai, perut yang kelaparan membuat nya semakin lemah untuk melanjutkan langkahnya.


Setelah berjalan beberapa langkah ke depan,Zia melihat kursi di pojok taman kecil jalan tersebut dan itu membuat nya lega karena akhirnya bisa beristirahat.


Ia pun bergegas menuju kursi tersebut dan duduk di sana dengan menghela nafas.


Zia sejak kecil di asuh oleh keluarga Prasetya, bahkan ia tidak tau siapa keluarga aslinya,yabg ia tau ia hanya tinggal di panti asuhan dan di adopsi oleh keluarga Prasetya,Zia juga tidak memiliki teman atau sahabat dekat, sejak dulu ia hanya punya Dani yang notabennya adalah cinta masa SMA dan sahabat dekat nya, namun ia tidak menduga jika hal ini akan terjadi.


Tiba-tiba ia teringat akan gelag nya.


"Astaga,di mana gelag ku?"Batin Zia melihat tas yang ia bawa.


Saat usia nya menginjak sepuluh tahun Zia melepas gelang yang ia pakai sejak kecil itu, karena sudah tidak muat di tangan nya.


Gelang emas dengan banyak permata itu adalah satu-satunya yang ia punya dari panti asuhan,ia masih ingat jika pemilik panti asuhan tersebut mengatakan jika gelang itu sudah ia pakai sejak bayi sejak seorang wanita paruh baya mengantarkan nya ke pantai asuhan tersebut.


Namun sampai sekarang tidak ada yang tau siapa wanita tua itu dan dari mana asal nya,Zia juga tidak mencari jati dirinya karena terlalu sibuk dengan kehidupan nya sendiri.


Saat Zia merogoh tas nya dan di dalam sana ada sebuah dompet kecil yang memang ai gunakan untuk menyimpan gelang tersebut.


"Ah, syukur lah ternyata gelang ini masih ada."Batin Zia sejenak melupakan rasa sedih yang ia alami.


Namun beberapa saat Zia kembali teringat akan kehidupan nya yang kini tidak menentu.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menghubungi Dani?"Batin Zia menusukan kepala nya berfikir keras atas apa yang harus dia lakukan sekarang.


Lama termenung dan memikirkan tentang kejadian tadi siang serta nasip Rafael yang masih belum bisa melihat Zia menjadi semakin bingung apalagi saat mama Rianti mengatakan jika dirinya tidak mau berkorban itu sangat membuat nya sakit hati.


"Akan ku tunjukkan apa itu cinta sejati."Ucap Zia yang kemudian mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.


Call on.


"Jemput aku."Ucap Zia dengan bibir yang seakan tidak sanggup untuk berucap.

__ADS_1


"Kau di mana?"Tanya seorang laki-laki yang berada di sebrang telpon.


"Pinggir jalan setapak ***."Ucap Zia yang kemudian mematikan telepon secara sepihak.


Satu jam kemudian.


"Zia,apa yang kau lakukan di sini?"Ucap Niko kepada Zia.


"Niko."Ucap Zia menatap Niko yang kini telah berdiri tepat di depan nya.


Ya laki-laki yang di telpon oleh Zia adalah Niko.


"Ayo."Ucap Niko memegang koper Zia dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan Niko pun kembali menyalakan mesin mobil nya melaju entah ke mana mereka akan pergi saat ini.


"Aku akan mendonorkan mataku untuk nya."Ucap Zia kepada Niko.


"Apa kata mu? Apa kau gila?"Ucap Niko sambil fokus menyetir.


"Aku sudah tau apa yang terjadi siang ini, dan aku sarankan sebaiknya kau tidak mempedulikan mereka,dan berita tentang penculikan itu aku butuh penjelasan dari mu,aku yakin kau tidak benar-benar melakukan itu bukan?"Ucap Niko.


"Aku tidak melakukan apapun,aku di fitnah,tapi biar kan saja,aku baik-baik saja, kebenaran akan terungkap suatu saat nanti yang penting aku akan buktikan apa itu pengorbanan."Ucap Zia kepada Niko sepupu dari Rafael.


"Tapi apa kau sanggup menanggung semua resikonya? Kau akan buta mengatikan Rafael,dan jika dia tau dia akan selamanya menyalahkan dirinya sendiri karena telah menerima matamu."Ucap Niko tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Karena itu aku butuh bantuan mu, dan rahasiakan tentang pendonor Niko, setelah semua nya selesai aku akan pergi dari kota ini."Ucap Zia memegang tangan Niko memohon agar Niko bersedia membantu nya.


Niko tidak tau harus menolak atau menyetujui permintaan Zia, namun di sisi lain juga ia sangat kasihan terhadap Zia yang menderita karena ulah mama Rianti dan keluarga angkat Zia.


"Aku mohon Niko,biar kan dia bisa melihat,aku akan baik-baik saja,aku mohon."Ucap Zia mulai menangis.


"Huhhh, Astaga baik lah."Ucap Niko merasa serba salah saat melihat Zia menangis.


Niko pun akhirnya menyetujui keinginan Zia untuk memberikan mata nya kepada Rafael.

__ADS_1


"Benar kah? Berjanji akan menutup rapat rahasia ini? Berjanji?"Ucap Zia antusias.


"Iya aku berjanji."Jawab Niko dengan nada bicara pelan.


"Baik lah aku percayakan semua ini kepada mu."Ucap Zia kepada Niko.


Niko pun menghela nafas panjang kemudian kembali menyetir mobil nya menuju rumah sakit.


Sebenarnya Niko sangat keberatan melakukan hal ini namun ini permintaan Zia kepada nya.


Niko pun berusaha mengurus semua nya dengan teliti agar tidak ada yang tau jika pendonor adalah Zia, ia bahkan wanti-wanti dengan dokter agar tidak membocorkan rahasia ini.


Keesokan harinya.


"Permisi nyonya Rianti."Ucap dokter masuk ke dalam ruang rawat Rafael.


"Iya dokter,ada apa?"Ucap mama Rianti yang melihat dokter masuk ke ruangan itu.


"Begini,kami sudah mendapatkan donor mata untuk tuan muda Rafael."Ucap dokter tersebut dengan senyum di bibirnya.


"Benar kah?"Ucap mama Rianti dan Sena bersamaan.


"Iya,dan operasi akan di langsung kan siang ini."Ucap dokter tersebut.


"Astaga tuhan keajaiban apa ini terima kasih banyak aku sangat bahagia,Sena lihat lah sebentar lagi Rafael akan bisa melihat."Ucap mama Rianti kepada Sena, mereka sangat terlihat senang.


"Baik lah sebaiknya kalian bersiap-siap untuk pasien, saya permisi keluar dulu."Ucap dokter tersebut kepada mama Rianti dan Sena.


Sementara itu Rafael yang masih tidak percaya dengan kejadian yang semalam hanya bisa melamun dan memikirkan mengapa bisa dan kenapa Zia melakukan hal itu,bahkan tidak ada konfirmasi dengan dirinya Zia meninggalkan diri nya.


"Aku tidak membencinya karena dia menculik Sena atau tidak,tapi aku membencinya karena dia meningal kan aku di saat aku telah mencintai dirinya."Batin Rafael.


Itu lah yang di pikir kan oleh Rafael saat ini,bahkan ia tidak semangat mendengar jika dirinya sudah mendapatkan donor mata.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2