Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta
Bab 41


__ADS_3

"Baik lah nona."Jawab Vena.


Tidak butuh waktu lama mereka pun tiba di Fila yang telah di beli oleh Nevan untuk Zia tempati.


"Wahh bibi, ini sangat luas dan besar."Ucap Nian saat turun dari mobil mereka.


"Iya sayang ayo masuk cuaca masih dingin sekarang kau harus lebih banyak istirahat."Ucap Zia kepada Nian.


"Nona muda sekarang aku ijin dulu untuk mengurus segala keperluan lomba melukis itu."Ucap Vena kepada Zia.


"Baik lah aku percaya kan semuanya kepada mu."Ucap Zia kepada Vena.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam Fila sementara itu Vena kembali melanjutkan tugas nya.


Siang harinya.


"Bibi, kapan aku akan mulai sekolah?"Tanya Nian kepada Zia.


"Sabar sayang, Tante Vena masih sibuk mengurus perlombaan melukis untuk bibi."Ucap Zia kepada Nian.


"Hmm baik lah,kalau begitu apa yang akan kita lakukan selama di sini?"Tanya Nian kepada Zia.


"Apa kau sudah mulai bosan? Kita bahkan baru tiba pukul empat tadi."Ucap Zia kepada Nian.


"Bukan begitu bibi, aku hanya merindukan teman-teman ku."Ucap Nian kepada Zia.


"Hmm,baik lah, kalau begitu bagaimana jika nanti malam kita pergi ke taman bermain, bibi akan mengajak mu bermain di sana dan kau tidak akan bosan sampai waktu nya kau sekolah."Ucap Zia kepada Nian.


"Benar kah bi? Yey! Terima kasih banyak bibi."Ucap Nian bahagia sambil memeluk erat tubuh Zia.


Nian terlihat sangat bahagia tingal bersama dengan Zia, Zia juga sebaliknya ia malah tidak ingin berpisah dengan keponakan kecil nya itu.


Malam hari nya mereka bersiap-siap untuk pergi ke taman bermain karena Zia sudah berjanji akan membawa Nian bermain agar tidak bosan.


"Nian apa kau bisa membantu bibi untuk menelpon asisten bibi terlebih dahulu?" Ucap Zia sambil menyerahkan ponsel nya ke pada Nian.


"Baik lah bibi, ini nomer Tante Vena aku juga sudah memangil nya." Ucap Nian sambil mengembalikan ponsel tersebut kepada Zia.

__ADS_1


Call on


"Hallo Vena kau sudah di mana?"Ucap Zia sambil menempelkan ponsel itu ke kuping nya.


"Maaf nona muda, aku mendapat sedikit kendala ketua penyelenggara lomba meminta ku untuk datang ke perusahaan mereka, ada sesuatu yang belum selesai aku kerjakan."Jawab Vena di sebrang telpon.


"Lalu kami akan pergi dengan siapa?"Ucap Zia kepada Vena.


"Tenang lah ,aku sudah menyuruh teman ku menemani kalian jalan-jalan malam ini, tunggu saja beberapa menit lagi mungkin dia akan tiba."Ucap Vena yang kemudian mematikan telepon secara sepihak karena ada suara dari arah belakang yang memanggil nya.


Call off.


"Bagaimana bibi, apa ada sesuatu yang terjadi?"Ucap Nian mendekati Zia dan memegang dress yang Zia pakai.


"Tidak sayang, hanya saja Tante Vena tidak bisa pergi bersama dengan kita karena dia sedang ada urusan dan dia meminta teman nya untuk menemani kita."Jawab Zia sambil tersenyum paksa.


"Ouh begitu, baik lah bibi."Ucap Nian kepada Zia.


Sebenarnya Zia bingung karena setaunya Vena tidak ada teman di kota ini dan itu membuat nya takut harus pergi dengan orang yang tidak ia kenal.


Namun di sisi lain hatinya Zia juga khawatir akan bertemu dengan Rafael, tetapi ini lah rasiko ia pulang ke kota tersebut, mau tidak mau, cepat atau lambat ia akan bertemu dengan Rafael meskipun tujuan nya hanya ingin balas dendam terhadap keluarga Prasetya yang telah membuat berantakan hidup nya dan termasuk mama Rianti yang jahat.


Tidak lama kemudian mobil yang biasanya di gunakan Vena untuk menjemput Zia pun tiba tepat di depan Fila mereka.


"Bibi lihat lah, itu dia sudah tiba."Ucap Nian sambil memegang tangan Zia.


"Permisi."Ucap seorang laki-laki yang turun dari mobil tersebut.


"I-iya."Jawab Zia.


"Silahkan masuk nona, aku adalah teman Vena, dia meminta bantuan ku untuk menemani kalian ke taman bermain."Ucap laki-laki tersebut terdengar sopan dan berwibawa.


"Teman? Sejak kapan Vena memiliki teman di sini?"Ucap Zia memastikan.


"Kami sudah lama berteman, namun jarang bertemu karena aku pindah tugas ke kota ini dulu nya aku juga satu kota dengan Vena."Jawab laki-laki tersebut.


"Benar juga, mana mungkin Vena akan menceritakan masalah peribadi nya kepada ku,aku sangat bodoh,dan Vena juga tidak akan mungkin menyuruh orang sembarangan menemani aku."Batin Zia.

__ADS_1


"Bibi, kenapa diam?"Ucap Nian kepada Zia.


"Ah iya, aku mengerti ayo lupakan saja pertanyaan konyol ku,ayo kita berangkat sebelum malam semakin larut."Ucap Zia kepada Nian dan teman dari asisten nya tersebut yang namanya belum di ketahui oleh Zia.


Mereka pun masuk ke dalam mobil tersebut untuk menunju taman bermain.


Di dalam mobil suasana menjadi hening dan tidak ada seorang pun yang ingin angkat bicara sampai pada akhirnya.


"Siapa nama mu?"Tanya Zia kepada laki-laki tersebut.


"Nama ku Alan nona."Ucap Alan sambil terus fokus menyetir mobil nya.


"Baik lah dengan begitu aku bisa memanggil mu dengan mudah."Ucap Zia lagi.


"Maaf sebelumnya nona, aku juga ingin bertanya siapa nama nona."Ucap Alan kepada Zia.


"Nama ku? Apa Vena tidak mengatakan nama ku kepada mu?"Tanya Zia lagi.


"Sebenarnya aku lupa nama mu nona."Jawab Alan salah tingkah.


"Nama ku Calista Ardiwinata."Ucap Zia kepada Alan.


Zia kini mengunakan nama dari keluarga kandung nya.


"Nama yang bagus nona Calista."Ucap Alan sambil tersenyum manis.


Tidak lama setelah itu mereka pun tiba di taman bermain tersebut.


Zia meminta bantuan Alan agar di belikan tiket untuk masuk ke taman bermain karena jika ia yang akan pergi itu akan lama apalagi dengan kondisi matanya yang tidak bisa melihat.


Setelah membeli tiket masuk ke taman bermain tersebut mereka pun akhirnya masuk bersama-sama.


Jika orang yang tidak tau mereka terlihat seperti keluarga kecil dengan ibu,ayah dan seorang anak perempuan dan itu terlihat sangat romantis sekali.


Sementara itu di sisi lain.


"Rafael, apa yang kau lakukan?"Ucap Niko saat masuk ke dalam kamar Rafael dan mendapati Rafael yabg sedang bercermin.

__ADS_1


Sejak hilang nya Zia dari hidup nya Rafael tidak bada hentinya merasa bersalah, bahkan setiap merindukan Zia ia selalu menatap cermin, karena baginya ia bisa melihat mata Zia di dalam dirinya dan itu sedikit menenangkan hati nya.


Bersambung ....


__ADS_2