Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Buta
Bab 38


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain.


"Mas apa kamu yakin Inggin kembali ke kota kelahiran mu?"Ucap Ariana kepada Nevan.


"Tentu saja, jika tidak bagaimana aku tau ujud orang-orang yang menyiksa adik ku dulu."Jawab Nevan yang ternyata masih menyimpan dendam meskipun Zia melarang nya untuk tidak lagi memikirkan orang-orang itu.


"Tapi apa kita akan membawa Zia?"Ucap Ariana kepada Nevan.


"Aku mendengar ada lomba melukis di kota kelahiran kami, dan seperti nya Zia akan tergiur untuk ikut lomba itu, apa kau tidak tau jika Zia juga menyimpan sebuah rasa sakit yang harus ia balas, dia hanya menunggu waktu untuk menjalankan aksinya."Ucap Nevan yang memang sudah mengerti prinsip Zia.


"Aku mengerti mas, jika begitu aku setuju."Ucap Ariana yang selalu mendukung keputusan suaminya.


"Baik lah,aku akan mengurus segala sesuatu untuk kepindahan kita di sana termasuk rumah, namun kita tidak bisa pergi bersama dengan nya, karena aku masih banyak urusan pemindahan usaha atau perusahaan ke sana sekitar satu atau dua bulan baru kita akan menyusul."Ucap Nevan kepada Ariana.


"Tapi apa mungkin Zia akan mau pulang ke sana sendiri?"Ucap Ariana bingung dengan pemikiran suaminya itu.


"Tunggu saja, cepat atau lambat dia akan menemui aku dan membicarakan hal ini, dan sebelum ia bicara kita tentu akan mempersiapkan nya terlebih dahulu dari sekarang."Ucap Nevan bijak dalam berfikir.


Beberapa hari kemudian.


"Kak,aku ingin bicara sesuatu."Ucap Zia kepada Nevan.


Hari ini Zia sengaja datang ke rumah Nevan untuk membicarakan hal penting.


"Perlombaan itu?"Tanya Nevan lagi.


"Mengapa kau mengetahui nya?"Ucap Zia kaget.


"Kami tentu sudah mengetahui nya."Jawab Ariana kepada Zia.


"Lalu."Ucap Zia menaikan satu alisnya.


"Kita memang akan segera pindah ke sana, namun satu bulan lagi."Jawab Ariana kepada Zia.


"Satu bulan lagi?"Ucap Zia kaget.


"Iya,tapi kau tenang saja, kau bisa pulang lebih awal."Jawab Nevan kepada Zia.


"Benar kah?"Ucap Zia kepada Nevan.


"Iya, dan aku minta kepada mu semasa kami di sini mengurus segala sesuatu kau harus menjaga Nian di sana."Ucap Ariana.


"Apa itu artinya Nian akan ikut bersama ku?"Ucap Zia menatap wajah Nevan dan Ariana sambil bergantian.

__ADS_1


"Iya, karena jika dia di sini dia akan sendiri dan merindukan mu, sebaiknya dia pergi bersama dengan mu terlebih dahulu,dia bisa menjadi mata untuk mu, dan aku juga sudah mengurus sekolah untuk nya dan rumah yang akan kalian tinggali di sana."Ucap Nevan yang notabennya sangat cepat dalam bertindak.


"Baik lah kak, terima kasih."Ucap Zia kepada Nevan.


Nevan mengganguk mengiyakan ucapan sang adik.


Beberapa hari kemudian.


"Berhati-hatilah dalam bertindak."Ucap Nevan kepada Zia.


"Aku mengerti."Ucap Zia sambil tersenyum manis.


"Ayo bibi, pesawat nya sudah mau berangkat."Ucap Nian yang tidak sabar ingin masuk ke dalam pesawat.


"Baik lah ayo."Ucap Zia sambil mengengam erat tangan Nian.


"Nian,mama akan merindukan mu."Ucap Ariana kepada Nian.


"Tenang lah mama, jangan sedih Nian akan sering menelpon mama."Jawab Nian terlihat menghibur sang mama yang ingin menangis.


"Baik lah Nian, papa juga minta kepada mu jaga bibi mu dia membutuhkan mu, saling jaga itu lebih baik sayang,dan jangan nakal."Ucap Nevan sambil mencubit pipi anak nya.


Nian mengangguk mengerti akan ucapan sang ayah.


Tidak lama kemudian pesawat itu pun lepas landas menuju kota tujuan mereka.


"Nian,apa kau takut?"Tanya Zia sambil memegang tangan Nian yang terlihat berkeringat.


"Iya bibi aku takut."Jawab Nian memeluk lengan Zia.


"Tidak apa, kita akan baik-baik saja,dulu bibi juga seperti dirimu saat pertama kali bibi naik pesawat."Jawab Zia menghibur Nian.


"Benar kah?Aku juga pertama kali."Jawab Nian mulai terhibur.


"Iya jadi tidak perlu takut kau akan terbiasa nanti."Jawab Zia sambil tersenyum.


"Baik lah bibi aku mengerti, oh iya bibi di sana kita akan di jempol oleh siapa?"Ucap Nian kepada Zia.


"Asisten bibi sudah ada di sana sayang."Jawab Zia.


"Tante Vena?"Tanya Nian lagi.


"Iya, sebelum kita pergi papa mu meminta bibi untuk mengirim asisten bibi ke sana agar dia bisa mengurus segala sesuatu yang kita butuhkan."Jawab Zia kepada Nian.

__ADS_1


Vena adalah asisten pribadi Zia yang sangat sigap, meskipun ia perempuan namun ia adalah orang yang teliti dan dan tegas dalam segala urusan.


"Yasudah sayang sebaiknya kau tidur perjalanan masih lama, kita mungkin akan tiba pukul empat subuh nanti."Ucap Zia.


"Baik lah bibi aku mengerti."Jawab Nian yang memang adalah seorang anak yang penurut.


Mereka pun akhirnya Istirahat karena merasa cukup mengantuk.


Sementara itu di sisi lain.


"Tuan muda,di depan ada nyonya Rianti ingin bertemu dengan tuan muda."Ucap asisten Rafael.


"Usir dia, jangan biar kan dia masuk ke dalam Fila ku."Ucap Rafael.


"Baik tuan muda."Ucap asisten tersebut berjalan keluar dari kamar Rafael.


"Maaf nyonya, tuan muda tidak bisa di ganggu,dia sedang istirahat."Ucap asisten Rafael dengan nada bicara yang sedikit tinggi.


"Apa hak mu melarang ku! Dia anak ku,Fila nya juga Fila ku aku ingin bertemu dengan nya!"Ucap mama Rianti menjerit.


"Seret dia keluar!"Ucap asisten Rafael kepada bodyguard yang berjaga di sana.


"Tidak jangan! Rafael ini mama nak, mama ingin bertemu dengan mu! Maaf kan mama Rafael maaf kan mama!"Teriak mama Rianti sambil menangis.


Rafael berdiri dari duduknya, berjalan menuju balkon kamar nya.


Ia menatap mama Rianti yang di seret oleh bodyguard nya.


"Rafael tolong maaf kan mama! Rafael!"Teriak mama Rianti sambil memberontak.


"Lepaskan."Ucap Rafael dingin.


Kedua bodyguard itu pun melepaskan mama Rianti dan menatap Rafael yang berdiri di lantai dua Fila.


"Rafael,mama boleh masuk kan?"Ucap mama Rianti kepada Rafael.


"Tetap berdiri di sana."Jawab Rafael dingin.


"Rafael mama mohon lupakan apa yang telah mama perbuat nak mama mohon,mama juga tidak tau jika Zia di fitnah oleh keluarga Prasetya mama mohon maaf kan mama."Tangis mama Rianti sambil menatap Rafael yabg berdiri tegak di balkon kamar nya.


"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah injak halaman Fila ku, termasuk kantor ku dan jangan temui aku lagi,kata maaf tentu tidak akan bisa mengembalikan istri ku ke sisi ku."Ucap Rafael dengan nada suara dingin nya.


Mama Rianti menundukkan kepalanya, ia benar-benar merasa bersalah atas perbuatan yang telah ia lakukan.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2