
"Ayo kita pergi."Ucap Zia kepada Vena.
"Ayo nona muda."Ucap Vena lagi.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam mobil bersama-sama dan menuju perusahaan yang mengadakan lomba pameran tersebut.
Sementara itu di sisi lain.
"Ma aku sangat ingin pergi ke sana."Ucap Sena kepada mama nya.
"Pergi lah, tapi kau cuma bisa jadi pelayan di sana kau ingat kita sekarang bukan lah orang penting lagi."Jawab mama Laura.
"Tidak usah pergi, di sana ada Rafael apa kau tidak malu?"Ucap papa Frey kepada Sena.
"Maaaa."Ucap Sena menarik tangan mama nya karena sang papa tidak menyetujui keinginan nya.
"Bair kan saja mas, siapa tau di sana Sena bisa mengenal laki-laki baru dan hidup kita akan kembali kaya raya."Ucap mama Laura seperti ingin menjual anak saja.
"Terserah pada mu."Ucap papa Frey tak ingin lagi bicara dengan anak dan istri nya yang tidak bisa di atur.
Sena pun akhirnya pergi ke pameran tersebut dengan menyamar menjadi pelayan di sana agar bisa masuk.
Satu jam berlalu, kini acara sudah di mulai.
"Lihat lah lukisan ini sangat Cantik dan terlihat seperti nyata."Ucap para juri yang berjalan menuju satu persatu lukisan dan memberikan nilai yang sempurna.
"Benar,aku rasa ini di lukis oleh orang yang profesional."Jawab juri lain nya yang mengerumuni lukisan tersebut.
"Permisi,apa aku boleh melihat lukisan nya?"Ucap Rafael yang berdiri tepat di belakang para juri.
__ADS_1
Semua orang pun berbalik dan melihat Rafael.
"Astaga, mirip,ini mirip."Ucap orang-orang di sana membandingkan wajah Yanga da di lukisan tersebut dengan wajah Rafael.
Rafael reflek menatap lukisan tersebut dan benar saja itu terlihat seperti dirinya seratus persen sangat mirip.
"Rafael, ini kau."Ucap Niko menatap wajah Rafael dan lukisan tersebut secara bergantian.
"Di mana pelukis nya?"Ucap Rafael melihat seluruh sudut ruangan.
"Pelukis nya akan muncul ketika pengumuman nanti."Ucap tamu-tamu lain.
Rafael pun melihat ke bawah pojok lukisan tersebut dan terlihat nama Calista Ardiwinata.
Nama itu cukup asing bagi Rafael karena di kota tersebut tidak ada keluarga Ardiwinata.
"Aku kira dia Zia."Batin Niko terus menatap lukisan tersebut.
"Apa kau mendengar ku?"Tanya Rafael lagi.
"Iya-iya, aku mendengar mu."Ucap Niko sambil membenarkan kancing kemeja nya yang terbuka satu.
"Tunggu apa lagi? Mereka pasti ada di sini."Ucap Rafael tidak sabar.
Niko pun berbalik dan mencari seluruh ruangan tempat para peserta menunggu keputusan para juri tersebut.
Brak ...
Angap saja suara tabrakan.
__ADS_1
"Astaga maaf kan aku, apa kau baik-baik saja?"Ucap Niko kepada seorang wanita yang di tabrak nya.
"Aku, aku baik-baik saja."Ucap wanita tersebut sambil meraba-raba sesuatu.
"Ini tongkat mu."Ucap Niko memberikan tongkat kepada wanita buta tersebut dan membantu nya berdiri.
"Zia!"Ucap Niko saat melihat wajah wanita itu dengan jelas.
Zia gemetar ia berusaha menutupi wajah nya dengan tangan ny, ia tau hal ini akan terjadi cepat atau lambat dan hal ini tidak akan bisa di hindari tetapi mengapa harus secepat ini.
"Kau benar-benar Zia bukan?"Ucap Niko yang kemudian beralih memeluk tubuh Zia.
"A-Aku."Ucoa Zia gugup dan bingung harus bicara apa.
"Niko!"Pangil seseorang dari arah belakang.
Ya itu adalah Rafael, karena Niko begitu lama Rafael akhirnya memutuskan untuk ikut mencari.
Suara yang tidak asing itu pun membuat tubuh Zia semakin gemetar, ia bingung harus bagaimana ini tak bisa ia hindari.
Melihat Niko memeluk seseorang Rafael pun berjalan pelan ke arah nya dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa wanita yang di peluk oleh Niko.
"Siapa dia?"Ucap Rafael kepada Niko.
Niko pun melepaskan pelukan nya dan berkata.
"Rafael, aku harap kau bisa mengenali nya."Ucap Niko yang kemudian membalikkan badan Zia menghadap Rafael.
Bersambung ....
__ADS_1