Tersesat Dalam Kesepian

Tersesat Dalam Kesepian
Mencari kebenaran


__ADS_3

Hari ini sepulang sekolah, Almond benar-benar datang ke rumah Alvaro.


"Almond, maafin papa gue, ya kalau nanti dia agak kasar atau gimana gitu kesannya sama lo," ujar Alvaro memecah keheningan.


"Iya, gak apa kok, santai aja," balas Almond sembari tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, papa Alvaro menghampiri Alvaro dan Almond. Almond langsung menyaliminya dan memperkenalkan diri. Setelah itu, ia langsung memberitahukan maksud dari kedatangannya.


"Maaf, om, maksud kedatangan saya ke sini inginmenanyakan suatu hal," ujar Almond sembari menundukan kepalanya.


Ia pun menghela nafas panjang sebelum melanjutkan obrolannya. Diangkatnya kepala hingga menatap lurus wajah papa Alvaro.


"Saya ingin bertanay tentang hubungan om sama Pak Ezra dan masalalu Pak Ezra. Lalu, apakah ada seseorang yang pernah membuat Pak Ezra marah hingga ia membenci orang itu? Apa yang menyebabkan ia membencinya? Maaf bila saya lancang," ujar Almond panjang.


"Ezra, ya, saya kenal dia sejak umur kami masih muda, ia orang yang sangat baik dan tak pernah dendam pada satu orang pun, emang ada apa, ya?" tanya papa Alvaro balik.


"Mm, saya hanya ingin tahu saja, apa ia pernah membenci seseorang? Mungkin ia pernah melakukannya sesuatu atau masalalu yang buruk," ujar Almond memastikan.


"Seperti yang saya bilang, dia orangnya tidak pernah mendendam," jawabnya.

__ADS_1


Ia terlihat berpikir sejenak. Ditatapnya langit-langit rumah, mencoba mengambil semua ingatan masalalu.


"Oh iya, aku ingat, dulu dia pernah suka sama salah satu wanita, dia orangnya sangat cantik dan baik hati, sudah lama Ezra mencoba mendekat dengan wanita itu, bahkan hampir melamarnya, tapi, saat hendak melamar, wanita itu sudah memiliki pasangan," lanjutnya.


"Lalu, apa lagi yang ia lakukan? Tolong beritahu saya semuanya," pinta Almond.


"Maaf, sebelumnya saya ingin tahu, kamu siapa? Mengapa sangat ingin tahu info tentang dia?" tanya papa Alvaro sembari melirik Almond.


"S-saya a-anak tirinya, saat pertama kali bertemu dengannya, dia terlihat sangat membenci saya, sejak saat itu juga dia memisahkan saya dengan keluarga saya, itu sebabnya saya ingin mencari tahu hal ini, saya ingin berkumpul dengan keluarga saya lagi," ujar Almond penuh harap.


"Eh? Benarkah itu?" tanya dia memastikan.


"Alvaro! Pelankan sedikit suaramu! Jangan ikut campur dulu!" bentak papanya.


Almond mencoba menenangkan Alvaro. Setelah itu, ia langsung menanyakan lagi apa yang ingin ia ketahui.


"Sebenarnya ini sudah lama sih terjadi, dan saya tidak sengaja mengetahui ini saat berkunjung ke rumahnya," ujar dia.


"Apa itu?" tanya Almond.

__ADS_1


"Dia ... mmm Di-dia yang sudah membunuh a-ayah mm ayahmu, saat itu dia menusuknya berkali-kali membuat dia lemas dan saat itu juga ada seorang anak yang menyaksikan kejadian itu, anak itu hanya menangis memanggil ayahnya, lalu ... dia membenturkan kepala anak itu ke tembok hingga berdarah, setelah itu, dia langsung membuang mayat orang itu dan anaknya ke jelan, bisa dibilang anak itu lupa ingatan, aku rasa anak itu adalah kamu, mengapa dia sangat membencimu itu mungkin karena dia takut kamu mengingat semuanya dan melaporkan semua yang ia lakukan," jelas dia panjang lebar.


Almond hanya bisa terdiam sembari menundukan kepalanya. Ia berusaha mengingat semua yang terjadi, tapi tak ada satupun memori yang muncul dalam pikirannya. Hening, tak ada satupun suara yang keluar di rumah itu. Alvaro langsung membuka suara untuk memecah keheningan.


"Y-yang sabar, ya, Almond," ujar Alvaro. Almond hanya terisak, suaranya tertelan tangis.


"Pah, terus sekarang harus apa dong? Kenapa papa gak laporin orang itu ke polisi, sih?" ujar Alvaro.


"Saat itu papa sedang sangat membutuhkan bantuannya, jadi papa tak berani melaporkan dia, lagipula papa tak punya bukti nyata kok, nanti malah papa yang ditahan karena kasus pencemaran nama baik," jawabnya enteng.


"Terus sekarang gimana dong? Masa papa gak ngerekam sama sekali sih kejadian itu? Secara kan papa orangnya paling anti membuang-buang kesempatan," ujar Alvaro kesal.


"Oh ada, dulu papa sempat rekam suara, tapi papa simpan di dalam kartu memori, dan kartu itu ada di brangkas gudang, apa masih bisa digunakan?"


"InsyaAllah bisa, kita coba saja dulu," ujar Alvaro bersemangat.


"Baiklah, ayok kita ke gudang mencari brangkasnya."


Mereka langsung pergi ke gudang.

__ADS_1


__ADS_2