
Hari mulai petang, Flora dan Alvaro terpaksa menghentikan pencarian Almond. Flora masih panik dengan hilangnya Almond secara mendadak. Mereka sudah mencari Almond kesemua tempat yang mereka tahu, rumah, taman dan lapangan dekat rumah Almond sudah mereka kunjungi. Namun, Almond tak ada di mana pun. Sempat terniat untuk menghubungi polisi, tapi Alvaro pikir itu berlebihan, lagi pula bila lapor polisi, 2 hari baru akan diproses.
Mereka berpisah di depan rumah Almond. Merencanakan pencarian di esok pagi. Karena besok sudah masuk akhir pekan.
"Flora, lo jangan sedih terus, ya, InsyaAllah besok Almond ketemu," ujar Alvaro sembari menepuk pundak Flora.
"Gimana gue gak khawatir, lo tahu sendiri, kan, Pak Didi bilang Almond berlali sembari menangis, kalau dia kenapa-napa gimana coba?" balas Flora sembari menutup wajahnya menggunakan kedua tangan.
"Iya, gue paham, lo berdoa aja yang terbaik buat Almond, besok kita lanjut cari dia," ujar Alvaro.
"Baiklah," balas Flora sembari menundukan kepala.
***
Di sisi lain, Almond sedang terduduk lesuh dipinggir sungai sembari melihat aliran sungai itu. Ia menangis sejadi-jadinya berharap semua beban di dalam hatinya hilang terbawa sungai.
"Kenapa harus aku?! Kenapa?!" teriak Almond.
"Ini semua tidak adil, aku hanya anak lemah yang bisanya cuman ngeluh dan ngeluh, jangan berikan cobaan ini padaku ya Allah, aku menyerah," ringis Almond.
Sekatika, Almond teringat kata-kata ayahnya sebelum meninggal.
__ADS_1
'Matahari selalu menyinari dunia, padahal sering ditutupi awan, tanpa pernah lelah dia terus melakukannya untuk memberikan manfaat bagi warga bumi, sedangkan bulan, ia menyinari malam sembari ditemani oleh bintang yang menghiasi malam, seakan melupakan matahari yang telah membantunya untuk bersinar,'
"Ayah, apa aku mampu untuk bersinar dengan perlakuan mereka semua? Bulan dan bintang menyerangku bersamaan seakan aku hama yang harus dibasmi, andai kau ada di sini, pasti aku akan merasa lega," ujar Almond.
Tiba-tiba, hujan turus sangat deras, Almond langsung berlari ke arah rumahnya.
***
"Sial! Aku masih enggan pergi ke sekolah, padahal kemarin aku sudah libur satu hari," ujar Almond sembari menutup tubuhnya dengan selimut.
'tok tok tok'
"Hmm, siapa sih pagi-pagi buta datang ke rumah?" tanya Almond sembari menutup telinganya dengan 2 bantal.
"Assalamualaikum, Almond." Suara itu terdengar tidak asing.
Almond segera bangkit dari peraduan.
"Wa'alaikum'salam," jawab Almond sembari membuka pintu.
"Eh? Alvaro, kamu ngapain ke sini?" tanya Almond.
__ADS_1
"Alhamdullilah, lo udah datang, tau gak, 2 hari ini gue sama Flora cari lo ke mana-mana, setiap hari bulak-balik ke rumah lo buat pastiin lo ada apa enggak, lo dari mana aja sih?" balas Alvaro.
"Kemarin gue di rumah aja, lagi males sekolah, gak apa kan sehari doang?" ujar Almond.
"Sekarang lo sekolah, ya. Kita lanjut bicara nanti di sekolah bareng Flora," balas Alvaro.
"Baiklah," ujar Almond.
***
"Almond! Lo ke mana aja sih? Gue khawatir sama lo," ujar Flora sembari memeluk Almond.
"Aku gak ke mana-mana, dari kemarin aku di rumah aja," balas Almond santai.
"Kamu kenapa? Kata Pak Didi kamu nangis," tanya Flora.
"Aku gak apa-apa kok," balas Almond.
"Terus, gue agak heran, dari kemarin satu sekolah ngomongin lo terus, gue gak tahu apa yang mereka omongin," ujar Flora.
"Sudah lah, biarkan mereka ngomongin aku sesuka mereka, toh yang mereka bicarakan itu benar, lagi pula, apapun yang aku lakukan mau itu benar atau salah tetap saja salah bagi mereka yang maha benar," balas Almond. Senyum sinis terukir di wajahnya, pemandangan yang baru bagi Flora membuatnya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama kamu sih?" tanya Flora.
"Aku baik-baik saja, sudah lah, kelas sudah hampir di mulai," jawab Almond mengakhiri pembicaraan.