Tersesat Dalam Kesepian

Tersesat Dalam Kesepian
Simpanan Ibu


__ADS_3

Mobil yang membawa Almond akhirnya berhenti. Gedung besar berwarna putih, saat Almond melangkah ke dalam, suara teriakan terdengar sangat keras. Almond menatap orang-orang yang membawanya, mereka seperti tidak memedulikan Almond.


Tiba-tiba mereka terhenti di sebuah ruangan, gelap, mengerikan, tidak ada suara sama sekali di sana. Almond dilempar ke dalam ruangan itu, pintu dikunci oleh orang-orang itu, dan mereka langsung meninggalkan Almond seorang diri. Almond berteriak kencang sembari memukul pintu ruangan itu. Namun, tak ada satu pun yang mendengarnya. Tiba-tiba dari sebelah kanan ruangan itu datang keluarganya. Almond langsung menghampiri mereka, tapi antara ruangan Almond dan keluarganya terpisah oleh sebuah kaca yang sangat besar. Terlihat seorang wanita cantik memakai gamis biru langit dan hijab berwarna biru air mendekati ibunya. Mereka terlihat sangat dekat, seperti seorang ibu dan anak kandungnya. Kakak-kakaknya pun menyambut kedatangannya dengan senyum bahagia. Pak Ezra tersenyum sinis ke arah Almond seakan berkata


“Mereka bahagia tanpa kamu, kamu sudah tidak dianggap lagi oleh mereka, jadi, jangan pernah kamu dekati mereka,”


Almond menangis sembari memukul-mukul kaca. Namun, tak ada seorang pun yang memedulikan Almond.


“Ibu, ini Almond, tolong Almond, bu,” ringis Almond.


Almond mencoba memecahkan kaca itu dengan kedua tangannya. Tiba-tiba Almond terjatuh ke lubang yang entah datang dari mana.


“Syukurlah kamu sudah sadar,” ujar seorang wanita di sisinya.


Almond melihat sekelilingnya, Almond terbangun diranjang rumah sakit.


“Kamu siapa? Kenapa aku dibawa ke sini? Orang-orang tadi menculikku,” ujar Almond sembari mengingat kejadian sebelum ia pingsan.


“Saya dokter di rumah sakit ini, soal orang-orang tadi, sepertinya kamu salah paham, mereka tadi hanya membantumu menaiki ambulace, oh iya, bagaimana keadaanmu? Dan bagaimana kamu bisa tertidur di tengah lapangan?” tanya Wanita yang ternyata seorang dokter.


“Aku baik-baik saja, aku mau pulang,” balas Almond.


“Kau masih lemas, beristirahat lah sebentar di sini,” ujar wanita itu.

__ADS_1


“Tidak mau, lagi pula bila aku di sini terus, nanti aku harus membayar mahal, aku tidak punya uang,” ujar Almond.


“Orang tuamu ke mana?” tanya Wanita itu.


“Hmm, ibuku, ibuku di mana? Ibu! Di mana ibu?!” teriak Almond.


“hai, tenang lah, kamu kenapa?”


“Ibu kemarin dibawa Pak Ezra, ibu, aku ingin ibu, huaa.”


Wanita itu mencoba menenangkan Almond, tapi dia masih saja menangis. Mimpi itu terlihat sangat nyata, Almond takut ibunya melupakan dia. Almond terus meminta pulang, dan akhirnya Wanita itu mengizinkannya.


***


“Aku harus bersabar sebentar, bila aku terus coba mencari mereka, aku tidak akan pernah mendapatkan ibu kembali, aku juga harus bersyukur, setidaknya aku masih bisa tinggal di rumah ini. Aku akan merencanakan sesuatu untuk bertahan hidup,” ujar Almond.


Setelah Almond selesai dengan rutinitasnya, dia beristirahat sejenak untuk menenangkan pikiran. Tiba-tiba Almond teringat pesan ibunya, Almond bergegas ke kamar ibunya. Sebuah kotak yang mulai rapuh tersimpan rapi di lemari bagian bawah.


“Simpanan yang ibu maksud itu kota ini? Lumayan berat juga, coba kuperiksa deh,” ujar Almond.


Saat Almond membuka kotak itu, ternyata isinya uang pecahan 5 ribu sampai 10 ribu. Mungkin ini tabungan ibunya untuk uang sekolah Almond. Bulan ini Almond memang belum membayar setengah lagi untuk uang sekolah, walaupun Almond mendapat beasiswa, tapi ada sedikit yang harus ia bayar sendiri.


Setelah Almond hitung, ada sisa uang sedikit yang bisa Almond gunakan untuk kebutuhannya. Walau hanya sedikit, Almond masih bisa bersyukur dengan apa yang dia miliki. Entah apa yang akan dia lakukan untuk uang itu. Saat Almond hendak memasukkan kembali uang itu, ada sebuah bingkai foto kecil yang direkatkan oleh selotip. Karena posisinya terbalik, Almond tidak tahu apa yang ada dibingkai itu, sepertinya sangat penting sampai disembunyikan. Karena penasaran, Almond mencoba mengambil bingkai itu dan mencabuti semua selotip yang menempel tadi.

__ADS_1


“Nah, akhirnya terbuka, sulit sekali mengambilnya,” ujar Almond.


Ketika ia membalikkan bingkai itu, hanya foto sebuah rumah pohon. Almond penasaran dengan foto itu, berusaha mencari petunjuk.


***


Sementara itu, ibu Almond sedang melamun di kamarnya. Penyesalan menghantui pikirannya, ingin dia kembali dan menemui Almond. Namun, Pak Ezra tak mungkin mengizinkannya pergi menemui Almond. Belum diketahui alasan jelasnya, setiap ibu Almond bertanya, Pak Ezra selalu menjawab keluarganya tidak menyukai Almond.


Pak Ezra mendekati dia, dielus rambut istrinya itu. Tatapan puas terlukis di wajah Pak Ezra.


“Muna, kenapa kamu sedih terus sih? Lupakan dia, kamu kan masih punya kedua anakmu di sini.”


“Aku tahu itu, tapi aku juga mau Almond bersama kita, mas, Muna minta tolong, terima Almond di sini,” ujar Muna – ibu Almond –


“Mas juga aneh banget, padahal Almond sangat baik, bahkan dia anak yang pintar, kenapa mas malah membenci dia?” lanjut Muna.


“Aku sudah pernah bilang padamu, keluarga aku tidak menyukai dia,” balas Pak Ezra.


“Tapi itu tidak masuk akal,” ujar Muna.


“sudah lah, aku mau mandi, kau jangan bersedih terus, tidak baik untuk kesehatan,” perintah Pak Ezra.


Pak Ezra pergi menjauhi Muna.

__ADS_1


__ADS_2