Tersesat Dalam Kesepian

Tersesat Dalam Kesepian
Ojek gratis Alvaro


__ADS_3

“Fyuh, rupanya jalan kaki pulang pergi dari sekolah ke rumah melelahkan, istirahat dulu saja kali, ya?” ujar Almond


Almond duduk di sebuah halte yang tak jauh dari sekolahnya. Sembari beristirahat, Almond memikirkan sebuah rencana untuk bisa menghemat uang agar dia bisa bertahan hidup hingga bertemu ibunya nanti. Saat Almond sedang asyik melamun, Alvaro riba-tiba datang dan mengajak Almond pulang bersama, karena kebetulan rumah mereka searah.


“Almond, lo ngapain di situ?” tanya Alvaro


“Dugem, ya duduk lah,” canda Almond


“Dih, Almond ternyata ... dah lah, ikut gue yuk,” ajak Alvaro


“Ke mana sih? Jangan-jangan kamu mau culik aku, ya? Jangan, culik perempuan imut ini dong, kasihan dunia,” canda Almond sembari memperlihatkan ekspresi sedihnya


“Hilih, pakai acara kasihan sama dunia segala lagi, gue mau karungin lo yang katanya makhluk paling imut di dunia, lumayan kalau dikilo,” balas Alvaro sembari cengengesan


“Dih dih, menyebalkan banget sih kamu, to the point saja, kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Almond


“gue mau antar lo ke rumah lo, rumah kita kan searah, lumayan tumpangan gratis plus dibonceng cowok tertampan di sekolah, iya gak,” ujar Alvaro sembari bergaya keren mirip artis-artis jaman batu. (Bisa dibayangin gak tuh? Wkwk)


“Tidak usah deh, aku bisa jalan sendiri kok, lagi pula aku tidak mau merepotkan kamu, kamu pulang saja sendiri, nanti fansmu dendam sama aku gara-gara terlalu dekat,” ujar Almond sembari mengibas-ngibaskan tangannya


“Sudah ayo,” balas Alvaro sembari menarik tangan Almond.


“ih apaan sih? Nanti kalau ditilang polisi gimana? Kamu kan belum cukup umur,” ujar Almond kesal


“Haduh, bawel banget sih, cepat naik,”


Almond menurut dan langsung menaiki motor Alvaro. Anak-anak SMP di sana banyak sekali yang sudah menggunakan motor di usia yang masih sangat kecil. Jadi tidak heran bila saat razia motor, banyak sekali anak SMP yang kena razia. Karena Alvaro tidak terlalu diperhatikan oleh orang tuanya, jadi tidak ada yang terlalu memedulikan keselamatannya. Karena sudah lama Alvaro jalan-jalan menggunakan motor, dia jadi hafal tempat-tempat yang jarang sekali diadakan razia.


Saat di perjalanan, Almond dan Alvaro mengobrol asyik tentang sekolah dan lajn-lain. Mereka juga sesekali mengobrol tentang pacar. Saat di lampu merah, Almond hampir terjatuh karena Alvaro mengerem mendadak, membuat Almond memeluk erat tubuh Alvaro. Saat Almond sedang asyik melihat jalanan, tiba-tiba dia melihat sepasang kekasih sedang berjalan menuju mobil. Sepasang kekasih itu adalah Muna dan Pak Ezra. Almond ingin sekali menghampiri mereka, tapi Pak Ezra dan Muna sudah lebih dulu pergi. Alvaro yang melihat Almond melamun mengira bahwa Almond sedang ingin minum di kafe pinggir jalan.


“Almond kenapa melihat kafe itu, ya? Apa dia haus?” batin Alvaro


Lampu hijau pun menyala, Alvaro melajukan motornya ke arah kafe.

__ADS_1


“Loh? Kenapa kita berhenti di sini?” tanya Almond heran


“Jangan bawel, gue haus, mau beli sesuatu, lo tunggu saja di sini, sebentar kok,” ujar Alvaro sembari langsung pergi ke dalam sedangkan Almond menunggu di luar.


Almond malah melamun, memikirkan tentang ibu dan ayah tirinya tak peduli orang-orang yang lewat di depannya menatapnya aneh. Tanpa Almond sadari, Alvaro sudah ada di sampingnya sembari menempelkan es kopi ke pipi Almond.


“Ah, dingin tahu, kamu ini,” ujar Almond sembari mengusap pipinya.


“Nih ambil, lo pasti haus kan,” ujar Alvaro


Pipi Almond seketika memerah, ia tak menyangka Alvaro membelikan es kopi untuknya.


“Jangan salah paham, ini buat ganti minuman lo yang tadi pagi,” ujar Alvaro polos.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah Almond. Almond mengajak Alvaro untuk beristirahat sebentar di rumahnya. Alvaro menurut, dia langsung duduk di ruang tamu, sedangkan Almond pergi ke dapur membawakan camilan yang ia miliki. Alvaro melihat sekeliling rumah Almond, dia terfokus pada foto masa kecil Almond. Saat itu Almond menggunakan kostum stroberi di acara sekolahnya saat taman kanak-kanak.


“Dia waktu kecil lucu juga, gue simpan satu gak masalah kan?” ujar Alvaro.


“Kamu ngapain di situ?” tanya Almond sembari meletakan camilan di meja


“Eng-enggak tadi gue cuman lihat foto lo waktu kecil, lo dulu lucu juga, ya?” balas Alvaro sembari langsung menghampiri Almond


“Oh, itu, foto waktu aku yang masih mengenal kata bahagia, dulu memang sangat menyenangkan, andai waktu bisa terulang, aku ingin sekali terus bersama ibu dan kakak-kakakku,” ujar Almond


Seketika mata Almond berkaca-kaca menahan tangis, teringat kejadian saat ia masih bahagia bersama keluarganya.


“Memangnya sekarang lo gak bahagia?” tanya Alvaro


Almond hanya menggelengkan kepala, seketika air matanya mengalir deras. Almond menangis teringat saat dia dipisahkan dari keluarganya. Alvaro tak melanjutkan pertanyaannya, dia langsung memeluk Almond agar Almond bisa menenangkan dirinya.


“Maafin gue, ya, gue salah ngomong tadi,” ujar Alvaro


“Kalau lo kesepian, gue mau kok menemani lo terus,” lanjut Alvaro

__ADS_1


“Tapi bagaimana dengan fansmu? Mereka pasti akan membullyku karena aku dekat denganmu,” tanya Almond sembari mengelap air matanya


“Tenang saja, mereka tidak akan berani apa-apain lo, gue akan pastikan lo bahagia, mulai sekarang kita sahabat, ya?” ujar Alvaro sembari memberikan sapu tangan miliknya


“Terima kasih, Alvaro, kamu mau jadi sahabat aku,” ujar Almond


“Iya, sama-sama, sekarang lo berhenti menangis, ya, air mata lo itu terlalu berharga untuk dibuang,” ujar Alvaro


“Iya, terima kasih, Alvaro” balas Almond singkat


“Kayaknya ada yang kurang enak didengar, Almond, mulai sekarang lo panggil gue Varo aja, ya, kayak teman gue yang lain, itu lebih enak didengar,” perintah Alvaro


“Oke deh, Varo, terima kasih,” ujar Almond


“Sama-sama,” balas Alvaro


Setelah Almond tenang, Alvaro pamit untuk pulang karena dia terlalu lama di rumah Almond, takut menimbulkan fitnah, apalagi posisi mereka masih remaja, dan tidak ada siapa-siapa selain mereka di rumah itu.


“Gue pamit pulang, ya,” ujar Alvaro


“Iya, hati-hati di jalan,” balas Almond


“Mulai besok lo bareng gue ke sekolah, gue jadi ojek yang antar jemput lo, gimana? keren kan?” ujar Alvaro sembari siap-siap menyalakan motor


“Tidak usah, aku tidak mau merepotkan kamu,” ujar Almond sembari menggelengkan kepala


"Bilang aja lo takut bayar, tenang saja, ini gratis kok, lumayan tahu," ujat Alvaro


"Tapi ...." belum selesai Almond bicara, Alvaro memotongnya


“Pokoknya besok gue jemput lo, jangan terlambat, ya,” ujar Alvaro sembari melajukan motornya


“Haduh, ada-ada saja dia, gimana kalau dia beneran ke sini, ya? Ah sudah lah, itu tidak mungkin terjadi,” ujar Almond sembari berjalan ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2