
Setelah sekian lama mereka mencari, akhirnya brangkas itu berhasil ditemukan. Mereka langsung memeriksa apakah video yang mereka cari masih bisa dilihat?
"Nah! masih ada," ujar papa Alvaro tiba-tiba.
"Syukur Alhamdullilah," balas Almond bahagia.
Setelah selesai menonton video itu, Ada rasa dendam yang tumbuh dalam hati Almond. Marah, kecewa dan bingung, membuat Almond terpaku pada pemikiran negatif. Alvaro mencoba untuk menenangkannya, seketika pandangan Almond gelap, ia terjatuh dalam pelukan Alvaro. Ayah Alvaro malah menangis tak karuan memikirkan hal aneh pada anaknya.
"Papa! Bukannya bantuin, malah nangis diujung ruangan!" bentak Alvaro sembari menidurkan Almond di sopa.
"Hiks, papa terlalu sibuk dengan dunia papa sampai melewatkan pertumbuhanmu, nak," balas papanya sembari terisak.
"Perubahan apaan, sih? Mending bantu bangunin Almond!" ujar Alvaro kesal.
"Melihat kedekatan kalian, sepertinya kalian pacaran? Dan papa baru tahu hal ini sekarang, hiks," balas papanya.
"Makannya, kalau hidup itu jangan selalu memikirkan diri sendiri, ingat! Papa itu masih punya orang lain yang masih hidup! Bukannya memikirkan diri sendiri," ketus Alvaro.
"Alvaro, jangan kasar sama papamu," ujar Almond tiba-tiba.
"Almond, syukur deh lo udah sadar, biarin aja, papa kayak gitu emang pantes dikasarin, toh selama ini aku gak pernah diajarin etika ke orang tua sama mereka," jawab Alvaro asal.
Terjadi pertengkaran sesaat antara Alvaro dan papanya. Almond hanya bisa diam mematung dipertengahan antara Alvaro dan papanya. Setelah puas mereka bertengkar, semua kembali hening. Tiba-tiba, suara dering ponsel milik papa Alvaro mengejutkan mereka semua.
"Hallo, Ezra, ada apa?" tanya papa Alvaro, Almond terkejut saat tahu yang menelepon ternyata ayah tirinya.
"Baiklah, aku bersiap sekarang," ujar papa Alvaro.
"Ada apa? Pa?" tanya Alvaro.
"Pak Ezra minta ketemuan, ada urusan bisnis katanya," balas papa Alvaro.
"Om, boleh gak Almond minta alamat rumah Pak Ezra dan video tadi? Almond mau tunjukin bukti itu ke ibu," pinta Almond.
__ADS_1
"Boleh dong, bentar, gue mau kirim videonya ke hp gue dulu, biar kalau ada apa-apa, kita masih ada salinannya," jawab Alvaro sembari menyiapkan videonya.
"Avaro, sebentar! Kalau misalkan video itu sampai ke tangan ibunya Almond, bukankah papa bisa bangkrut?" bentak papa Alvaro.
"Papa! Kalau misalkan papa sembunyikan bukti ini, papa bakalan masuk ke penjara! Nanti siapa yang temani Alvaro di rumah! Papa tahu kan kalau mama hampir gak pernah pulang! Papa mau biarin Alvaro sendirian di sini?!" bentak Alvaro tak kalah keras.
"Papa milih mana? Anak atau harta! Katanya nyesal melewatkan semuanya! Tapi papa masih aja gak berubah! Sudahlah, ayo pergi!" lanjutnya sembari menarik tangan Almond keluar.
***
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Alvaro dan Almond bisa bertemu dengan Muna dan kakaknya. Tentunya tanpa sepengetahuan dari orang lain. Dengan cepat Almond menunjukkan video itu kepada mereka, karena dia tidak memiliki banyak waktu untuk itu. Perlahan Muna menitikkan air matanya.
"Kenapa jadi begini? Di-dia membunuhnya hanya karena patah hati," tanya Muna.
"Ibu, maafin Almond, ya, Almond udah bikin ibu sedih gini, andai aja Almond gak lupa ingatan, mungkin semuanya gak bakal terlambat," ujar Almond.
"Tidak apa, nak, yang pemting semua sudah jelas, dia pembunuh ayahmu, kita harus segera laporkan ke pihak berwajib, agar semuanya selesai," balas Muna.
"Mumpung tidak ada yang melihat, sebaiknya kita lakukan sekarang," usul kedua kakaknya.
***
Dengan susah payah, mereka semua berhasil sampai ke kantor polisi. Mereka langsung melaporkan kejadian itu, barang bukti diberikan. Tak lama setelahnya, Pak Ezra ditahan, papa Alvaro tidak disalahkan dalam kasus itu. Muna berpisah dengan Pak Ezra dan kembali tinggal di rumah lama mereka.
Hari-hari yang menyenangkan pun dimulai. Almond bersama keluarganya bermain ke sebuah sungai tempat mereka berkumpul dulu bersama ayahnya. Papa Alvaro mulai mengurangi waktunya bekerja dan menghabiskan waktu bersama Alvaro. Sejak lulus sekolah, Alvaro pindah ke tempat mamanya, saat itu juga, Almond tak pernah bertemu kembali dengan Alvaro.
***
5 tahun kemudian
"Almond!" teriak Flora sembari menghampirinya.
"Flora, kamu ada di sini juga?" tanya Almond.
__ADS_1
"Hehehe, iya, kebetulan aja lihat lo tadi, jadi gue hampiri lo," balas Flora.
"Oh iya, sejak lulus sekolah, apa lo sudah pernah mendapat kabar Alvaro? Sudah lama kan dia gak ada kabar, apa lo gak kangen sama dia?" lanjut Flora.
"Enggak, kenapa tiba-tiba kamu nanya dia?" balas Almond dengan bertanya.
"Yakin gak kangen Alvaro?" goda Flora.
"Bu-bukan gitu, maksudnya enggak ada kabar," balas Almond cepat.
"Oh, jadi lo kangen sama gue gitu maksudnya?" tanya Alvaro tiba-tiba muncil dari belakang Almond.
"Hah?! Alvaro!" ujar Almond dan Flora bersamaan.
"Hai, gimana kabar kalian?" tanya Alvaro sembari melambai tangan.
"Alhamdullilah baik, kamu apa kabar? Sudah 5 tahun kita tidak bertemu," balas Almond ramah.
"Baik juga, maaf, ya, gue tiba-tiba pindah dulu, pasti kalian kangen kan sama wajah tampan gue?" tanya Alvaro.
"Dih, dari dulu sampe sekarang, lo gak pernah berubah, ya, masih kepedean," balas Flora.
"Lo juga sama, gak berubah, dari dulu masih cerewet aja," ujar Alvaro sebal.
"Kecuali Almond, lo berubah banget, makin cantik aja, hehehe," lanjut Alvaro.
"Cie, ada yang mau nembak nih kayaknya? Ngodenya kurang pol tuh," sindir Flora.
Alvaro menatap tajam Flora. Flora hanya cengegesan sembari meninggalkan mereka berdua. Seakan paham maksud dari tatapan Alvaro tadi. Kini tinggal Alvaro dan Almond berdua. Mereka mulai mengobrol soal pengalaman mereka saat berpisah. Tiba-tiba, Alvaro menundukan tubuhnya sembari menunjukkan cincin berlian yang sangat indah.
"Mau kah kamu menikah denganku?" tanya Alvaro saat itu.
Almond terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya dia menerima lamaran itu. Setelah saling berjanji untuk saling melindungi satu sama lain, Almond dan Alvaro pun melalui kehidupannya dengan bahagia.
__ADS_1
Tamat