
Keakraban ketiga wanita cantik tersebut terkadang membuat iri beberapa karyawati di kantor yang bergerak di bidang properti.
Seharian Putri begitu sibuk metting dengan beberapa klien hingga hampir melupakan makan siangnya, saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua siang.
Setelah membereskan beberapa berkas yang baru saja di pakai untuk metting, Putri berniat makan di resto yang tidak jauh dari kantornya.
"Siang Bu Putri," Niken yang merupakan bawahannya menyapa saat melihat Putri melangkah keluar ruangan.
"Siang Mbak, apa ada berkas yang harus saya teliti lagi?"
"Enggak Bu, maaf sebelumnya tadi saya lupa menyampaikan kalau ada kiriman bunga untuk Ibu," ucap Niken sambil menyerahkan buket bunga mawar putih yang kebetulan bunga kesukaannya.
"Dari siapa Mbak?" tanya Putri dengan keheranan.
"Maaf Bu, di situ ada kartunya," tunjuk Niken ke arah bunga yang sudah berada di tanganku.
"O iya, makasih Mbak, saya permisi dulu mau makan, kalau ada yang nyari bilangin saya lagi istirahat makan."
"Baik Bu."
"Saya permisi ya Mbak, assalamualaikum," pamit Putri pada Niken.
"Alaikumsalam, hati hati Bu."
Putri sengaja berjalan kaki ke resto yang tak jauh dari tempat kerjanya, wanita cantik berhijab itu memilih meja yang agak kedalam namun masih bisa melihat ke arah pintu utama, hingga bisa sambil memperhatika aktifitas keluar masuk resto ini.
Selat Solo dan jus alpukat jadi menu andalan Putri siang ini, sambil menunggu makanan yang dipesannya datang, dia sempatkan untuk menghubungi Bu Nia, sekedar mengecek kondisi Embun.
Dilihatnya kartu yang terselip di buket bunga dari Niken tadi, dibukanya kertas memo berwarna purple, terlihat tulisan tangan yang rapi di dalamnya.
Selamat bekerja Bunda, semoga hari ini berjalan lancar.
__ADS_1
~ Darma ~
Putri tersenyum setelah tahu siap pengirim bunga untuknya, hatinya terasa berbunga bunga, dirinya sungguh tidak menyangka akan mendapat perlakuan manis dari lelaki pemaksa itu.
Menikmati makan siang saat perut terasa lapar sangatlah nikmat, ditambah suasana hati yang sedang bahagia serta resto yang sejuk dengan beberapa tanaman hias, membuat Putri merasa betah berlama lama di sini, kalau tidak ingat masih jam kerja ingin rasanya masih menikmati suasana yang bikin nyaman.
Selesai menikmati makan siangnya, Putri menuju meja kasir untuk membayar makanan yang sudah menempati lambungnya, saat sedang melakukan transaksi ada yang memanggil namanya.
"Putri."
Wanita yang merasa dipanggilpun mencari sumber suara pemanggilnya, tak jauh di belakangnya ada Bu Naoumi sedang makan di resto ini juga, setelah selesai dengan transaksinya Putri segera mendekat, saat langkahnya tinggal beberapa meter dari meja atasannya itu, terlihat sosok lelaki yang tak asing di penglihatannya.
Darah Putri terasa membeku saat melihat siapa lelaki yang sedang makan siang bersama Bu Naoumi, ingin rasanya dirinya berbalik arah dan lari sejauh mungkin dari tempat ini, namun atasannya sudah berjalan menghampirinya, mau tidak mau dia harus mendekat ke meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Put, kenalkan ini Mas Adi, calon tunangan ku, dan ini Pak Romi rekan kerja Mas Adi," terang Bu Naoumi pada Putri.
Dua lelaki yang dikenalkan pada Putri ternyata sudah mengenalnya namun dengan situasi yang berbeda.
Dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya Putri membalas uluran tangan kedua lelaki yang membuatnya ingin segera meninggalkan tempat ini sekarang juga.
Lelaki yang diperkenalkan bernama Adi tak lain adalah Darma, lelaki yang beberapa waktu terakhir sudah mulai mengusik hatinya, ternyata calon tunangan atasan sekaligus sahabatnya, Putri tidak mau menetap wajah ayah anaknya.
Sedangkan Romi lelaki tak punya hati yang sudah merusak masa depannya, merampas kehormatannya hingga dirinya hamil, sungguh siang ini hati Putri sudah tak berbentuk lagi, luka lama yang baru sembuh terkoyak lagi, lalu tersiram air garam hingga pedihnya tak terperi.
Dadanya terasa sakit sekali, tubuhnya tiba tiba terasa lemas tak bertulang, kepalanya berdenyut nyeri, bahkan air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi, namun dirinya tetap bertahan agak tidak sampai tumbang di hadapan dua lelaki yang sudah menghancurkan hati dan juga hidupnya.
"Maaf, saya harus kembali ke kantor, permisi, assalamualaikum." Putri berlalu dari tempatnya berdiri, tak dihiraukan panggilan Bu Naoumi yang pasti merasa herasn dengan tingkahnya.
"Maaf ya Mas, Pak, mungkin Putri sedang banyak kerjaan jadi buru buru," Naoumi mencoba menjelaskan kondisi yang baru saja terjadi.
"Nggak apa apa Bu, santai aja," Romi menjawab pernyataan Naoumi.
__ADS_1
Akhirnya aku menemukanmu Put, kali ini tidak akan aku lepaskan kamu, suara hati Romi merasa senang karena menemukan wanita yang sudah lama dicintainya.
Darma hanya bisa terpaku ditempatnya, tidak menyangka kalau akan bertemu Putri di sini, terlihat jika wanita yang dicintainya itu sangat kecewa dan terluka, ingin rasanya saat ini dirinya mengejar wanita pujaannya dan menjelaskan semua kesalah pahaman ini.
Arrrgggh, ini semua gara gara mama, coba kalau mama nggak maksa jodohin aku sama Naoumi, nggak bakalan Putri tersakiti seperti ini, rasa marah dan penyesalan memenuhi hati Darma.
"Mas, mas kenapa?" Naoumi mengembalikan kesadaran Darma dari lamunannya.
"Hmm, enggak, nggak apa apa, baru inget kalau harus ketemu klien lagi, saya permisi dulu ya Naoum, mari Pak," pamit Darma pada kedua orang yang berada satu meja dengannya.
"Ya sudah, Mas hati hati ya."
"Silahkan Pak, sebentar saya juga mau pamit, tapi ada yang perlu saya bicarakan dulu dengan Bu Naoumi."
"Silahkan Pak, permisi." bergegas Darma meninggalkan resto dan menuju ke rumah Putri, karena nggak mungkin juga dirinya menemui Putri di kantor.
Sepeninggal Darma, Romi mencoba mencari tahu tentang Putri pada Naoumi, bahkan secara terang terangan meminta pada rekan kerjanya itu untuk mengenal Putri lebih dekat lagi.
Naoumi yang tidak pernah tahu masa lalu antara Romi dengan Putri tentu sangat setuju, karena selama ini sahabatnya itu tidak pernah dekat dengan lelaki manapun.
Romi yang mendapat dukungan Naoumi merasa bahagia, apalagi setelah tahu jika wanita yang pernah disakitinya itu sudah mempunyai seorang anak yang diyakininya adalah darah dagingnya dari hasil paksaannya pada Putri dulu.
Sementara itu, di ruang kerjanya Putri menjatuhkan tubuhnya kekursi kerjanya, menagis dengan menelungkupkan badannya ke meja, sungguh tak mengira jika rasa sakit akan diterimanya lagi, bahkan secara bersamaan.
Ya Rabb cobaan apa lagi ini, kenapa harus bertemu dengan lelaki tak punya hati itu, jerit Putri dal hati.
Drrrt
Getar ponsel terasa dari dalam tas, segera diambilnya, terlihat nama Darma tertera dilayar benda pipih berwarna purple itu, semakin deras airmata yang membanjiri kedua pipinya, perih rasa di dadanya, digeser tombol warna merah yang tertera di layar, lalu dimatikan benda pipih itu.
🌈🌈🌈🌈
__ADS_1
Gimana akhirnya kisah Putri? penasaran kan? tunggu kelanjutannya ya.