
Malas rasanya harus berangkat kerja hari ini, bertemu dengan Naoumi, terlebih Putri takut jika Romi mendatanginya ke kantor, bisa apa dirinya, kepalanya terasa pening kembali, diputuskannya untuk ijin hari ini.
"Assalamualaikum Ris, aku minta tolong ya mungkin beberapa hari kedepan aku ijin, kepalaku pusing banget, masalah kerjaan sudah aku selesaikan semua, nanti biar Niken yang handel," Putri akhirnya menelpon Risma untuk ijin beberapa hari.
Kamu sakit apa say, udah ke dokter belum, nggak usah mikir kerjaan deh, entar aku bantu Niken buat handel, yang penting kamu sehat dulu, Risma merasa khawatir aja pada Putri.
"Cuma sakit kepala aja kok, habis ini berobat, makasih ya Ris, kamu memang paling ngerti aku."
Cepet sembuh ya Mpok, sepi kalau nggak ada kamu, ya udah aku mau berangkat dulu, assalamualaikum.
"Alaikumsalam Ris, hati hati."
Keluar dari kamar Putri ke dapur untuk membuatkan sarapan Embun, gadis kecilnya itu sedang di mandikan Bu Nia, selesai menyiapkan sarapan ia segera menyuapi anak kesayangannya.
"Sayang, mam dulu yuk," ucap Putri pada Embun.
"Maaf, Mbak nggak kerja?" Bu Nia sedikit heran karena Putri masih belum bersiap untuk berangkat.
"Ijin Bu, lagi pengen di rumah sama Embun, lagian nggak terlalu banyak kerjaan kok, main sama Bunda ya, Sayang?"
"Nda, di umah, ga eja?"
"Iya Sayang, Bunda libur buat nemenin Embun."
"Hoye, hoye, main ma Nda." gadis kecil itu terlihat sangat gembira.
Putri tersenyum kecil saat melihat rona bahagia dari batita cantik yang sedang duduk di depannya, wajah Embun yang sangat mirip dengan ayahnya, sesaat mengingatkan pada lelaki yang sudah membuatnya merasakan perihnya patah hati.
Senyumnya yang terkesan dingin dan pelit namun mampu membuatnya terpesona, cara bicaranya tegas namun berwibawa, rahang kokoh ditumbuhi bulu bulu halus, dada bidang yang selalu terasa nyaman saat bersandar padanya. Sungguh semua itu membuat Putri semakin jatuh cinta.
__ADS_1
"Mbak, Mbak Putri!" panggil Bu Nia saat melihat majikannya melamun saat menyuapkan makanan Embun, hingga gadis kecil itu kesusahan mengikuti arah sendok di tangan ibunya.
"Eh, i--iya Bu," keterkejutan Putri seketika membuyarkan lamunan tentang ayah anaknya.
"Maaf, itu Dek Embun sampai ngikut sendok yang salah arah," Bu Nia berkata sambil tersenyum.
"Masyaallah, maaf Sayang, maafin Bunda ya," Putri pun ikut tersenyum saat melihat mimik wajah Embun yang merasa kesal.
"Mam....Nda," ucap Embun.
"Iya Sayang, maaf ya." lalu di suapnya makanan Embun dengam benar.
"Mbak kalau ada masalah lebih baik di selesaikan, jangan di tunda tunda."
"Iya Bu, nanti pasti diselesaikan, saya hanya butuh menenangkan diri beberapa waktu saja."
Dengan berjalan kaki Putri menyusuri gang-gang yang menuju pemakaman umum tak jauh dari kampungnya, sepuluh menit cukup untuk sampai di sana, tak lupa sekeranjang bunga tabur serta tiga botol air bersih dibawanya.
Wajahnya tersenyum saat melihat nisan kecil yang baru saja diperbaiki, tertulis nama Alika Maharani binti Putri Maharani, masih segar dalam ingatannya saat Lika ditunjukkan padanya, dengan bentuk wajah bulat, kulit bersih, hidung mungil, sungguh malaikat kecil yang sempurna pernah dimilikinya.
Duduk bersimpuh di samping makam anaknya, Putri mulai melantunkan surah yasin, setelah selesai dengan bacaan doa-doanya ditaburkan bunga mawar dan melati yang menguarkan keharuman menenangkan, lalu disiraminya purasa kecil itu dengan sebotol air, perlahan dikecupnya nisan berwarna hitam, segera ia beranjak dari sana.
Kembali berjalan diantara makam menuju tempat kedua orangtuanya disemayamkan. Dua nisan dengan bentuk dan warna yang sama bersisihan, Putri bersimpuh diantaranya, memberiskan rumput liar yang tumbuh di sekitanya, mengusap perlaham batu alam yang tertulis nama orang tuanya, lalu melantunkan doa bagi keduanya.
Setelahnya menaburkan bunga serta menyiram pusara dengan air dari dalam botol, sambil mulai bertutur tentang kerinduannya serta gulana yang sedang berkecamuk dihatinya.
"Assalamualaikum Pak, Bu, maaf Putri baru sempat datang, akhir-akhir ini pekerjaan menumpuk, Embun juga baru keluar dari rumah sakit, kangen rasanya sama kalian," segala keresahan tertumpah di pusara kedua orangtuanya, airmata tak berhenti membasahi kedua pipinya, bahkan tubuhnya sampai gemetar karena tangis yang menyesakkan.
Tanpa Putri sadari di kejauhan ada seseorang yang memperhatikannya dari bawah pohon kamboja yang tumbuh timbun daunnya, matanya berkaca kaca saat melihat wanita jauh di depan sana sesenggukan menangis, ingin kakinya melangkah mendekat, namun hati kecilnya melarang, takut mengganggu wanita itu.
__ADS_1
Perlahan Putri bangkit berdiri setelah membersihkan sisa-sisa airmata di wajahnya, sejenak menghela nafan panjang untuk melepaskan beban yang menghimpit dadanya.
"Pak, Bu, Putri pamit dulu, assalamualaikum."
Kembali menyusuri jalan setapak diantara makam, suasana siang ini terasa sunyi, seperti hatinya yang tiba-tiba merasa sepi, entah karena apa namun terasa ada yang hilang dari sana.
Tengah asyik dengan pikirannya, sampai-sampai Putri tidak memperhatikan kalau Darma berdiri di bawah pohon yang dilewatinya, sama sekali dirinya begitu sibuk dengan dunianya hingga tak menyadari kehadiran lelaki itu di dekatnya.
"Assalamualailkum," sapa Darma tepat saat Putri di depannya.
"A--allaikumsalam, kamu!" pekik Putri terkejut dengan sapaan Darma yang kehadirannya tidak disadarinya.
"Maaf jika mengejutkanmu, aku berdiri di sini sejak tadi, tapi kamu terlalu asyik dengan pikiranmu hingga tidak memperhatikan sekelilingmu," kata Darma mencoba menjelaskan keadaan supaya Putri tidak bertambah marah.
Bukannya menjawab perkataan Darma, Putri justru meninggalkan lelaki itu dan bergegas pergi dari TPU untuk segera sampai di rumah demi menghindari lelaki yang masih mengekor langkahnya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Darma mengikuti langkah wanita yang tanpa disadari telah membuatnya jatuh cinta bahkan mampu merubah dunianya, semenjak mengenal Putri dirinya sudah tidak lagi menyentuh minuman beralkohol, stop berkeliaran ke club-club malam, dan yang pasti free sex life style sama sekali dihentikannya.
Hidupnya sekarang hanya terfokus pada putri kecilnya juga sang bunda, masa dapannya lebih punya tujuan kemana harus mengarahkan perahu kehidupannya yang sudah menemukan dermaga untuk berlabuh.
Tanpa terasa kakinya sudah memasuki halaman yang begitu asri dan tertata dengan apik dengan berbagai tanaman hias, bunga mawar lebih mendominasi taman itu.
"Yayah!" teriakan Embun dari dalam rumah terdengar nyaring saat melihat sosok lelaki dewasa yang berjalan tak jauh di belakang bundanya.
Hal itu tak membuat Putri terkejut, karena dirinya sudah tahu kalau Darma menguntitnya, namun tak ada niat untuk menghindar atau sekedar memperingatkan, dirinya sudah lelah berurusan dengan lelaki itu.
🌈🌈🌈🌈
bersambung
__ADS_1