Tertambat Cinta Ayah Anakku

Tertambat Cinta Ayah Anakku
Part 2 Pertemuan Pertama


__ADS_3

Embun terlihat rakus saat menikmati Asi dari pabriknya langsung, Putri sempat meringis menahan ngilu karena bayi cantik dalam dekapannya menghisap terlalu kuat, bahkan urat urat di bukit pualamnya terlihat jelas kebiruan karena kuatnya hisapan mulut mungil pada puncaknya.


"Pelan-pelan sayang, nggak ada yang minta," guman Putri dengan tersenyum sambil membelai lembut kepala Embun, tangan mungil itu menggenggam erat jari wanita yang dengan tulus memberikan kasih sayangnya.


Sesuai kesepakan rapat yang dilakukan keesokan harinya di rumah ketua RT, Akhirnya Embun tetap berada dalam asuhan Putri dan pihak RT serta beberapa Warga akan membantu mengurus pembuatan Akte kelahiran Embun, kebahagiaan terpancar dari wajah Putri, ucapan syukur Alhamdulillah tak pernah berhenti keluar dari bibir merah alaminya.


Beruntung Putri mendapat cuti dari pabrik tempatnya bekerja selama 2 bulan hingga ia mempunyai banyak waktu untuk merawat dan memberikan kasih sayang pada Embun.


Siang ini saat dirinya sedang melipat baju bayi sambil melihat tayangan berita di televisi, menyiarkan berita tentang seorang pengusaha yang kehilangan bayinya karena diculik saat masih di rumah sakit.


Deg...


Putri merasa jika Embun lah bayi yang ada diberita itu, segera ia menghubungi Bu RT dan memberihatukan berita yang baru saja di lihatnya, seketika hati dan pikirannya dilanda keresahan ada rasa ketakutan jika harus berpisah dengan Embun, ya memang dirinya sudah terlanjur jatuh hati pada Embun, dan bayi mungil itu juga sudah begitu bergantung pada kasih sayang yang diberikannya. Pak RT juga warga meyakinkan Putri jika sampai ada permasalahan mengenai Embun maka mereka siap pasang badan untuk membela dirinya juga mempertahankan Embun.


🌺🌺🌺🌺


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dua tahun sudah Putri merawat Embun, memberikan kasih sayang yang tulus, bahkan ia masih memberikan ASI eksklusif pada Embun, saat dirinya bekerja Embun diasuh Bu Wahyu, Embun menjadi anak kesayangan warga digang tempat tinggalnya, tak pernah bayi menggemaskan itu merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian jika bundanya harus meninggalkan Embun untuk bekerja.


Pagi ini seperti biasa, Putri berangkat kerja setelah menitipkan Embun pada Bu Wahyu, semua berjalan lancar, bahkan sempat mendapat goodnews kalau mulai besok dirinya naik jabatan menjadi manager pemasaran.


Dedikasi juga kinerja yang apiklah hingga Putri menjadapat promosi untuk menempati jabatan tersebut, selesai meeting serta mendapat ucapan selamat dari jajaran direksi dan seluruh staf, Rizma mendekati dirinya, mengabarkan jika Embun mengalami kecelakaan.


Seketika tubuhnya membeku saat mendengar kabar tersebut, segera ia meminta ijin pada atasannya untuk ke rumah sakit, pihak perusahan memberikan ijin bahkan menyarankan Putri untuk memakai mobil kantor agar tidak kelamaan di jalan.


Putri mempercepat langkahnya bahkan Ia sudah setengah berlari dari parkiran rumah sakit menuju UGD sebuah rumah sakit swasta, Bu Wahyu mengabarkan jika embun terserempet mobil di depan warung soto Mak Nyak saat batita dengan pipi gembil itu diajak membeli soto.


"Pasien atas nama Bayi Embun Maharani." ,terengah Putri menanyakan nama anaknya pada petugas informasi.


"Yang barusan kecelakaan ya? di UGD kamar nomer 4, Bu."


"Terimakasih."

__ADS_1


Segera Putri melangkah cepat ke UGD, di dalam Bu Wahyu sedang berbincang dengan dokter yang menangani Embun, Putri segera mendekat.


"Assalamualaikum, Embun gimana, Bu?" wajah pias dengan kekhawatiran yang kentara tergambar sangat jelas dari raut wajah Putri.


"Maafkan ibu, Put, nggak bisa jaga Embun."


"Maaf anda keluarga Bayi Embun ?" ,belum sempat Putri menjawab perkataan Bu Wahyu, dokter sudah menanyainya.


"Saya ibunya, Dok, bagaimana kondisi anak saya?"


"Bayi Embun kehilangan banyak darah harus segera mendapatkankan tranfusi darah secepatnya, saya harap Ibu mengikuti perawat ke laboratorium untuk cek darah serta pengambilan darah."


"Baik dok, segera saya kesana, Bu nitip Embun ya," ucap Putri pada Bu Wahyu, wanita paruh baya itu hanya bisa mengangguk mengiringi kepergian Putri bersama perawat yang ditunjuk.


Kepala Putri terasa berdenyut, pening seketika menyergap saat hasil krostest darahnya dengan Embun tidaklah cocok, darah bayi mungilnya termasuk golongan darah yang langka, B rhesusu negatif, dengan langkah gontai Putri berjalan ke arah UGD, mendekat pada brangkar tempat tubuh mungil Embun terbaring dengan kepala yang terbalut perban, pelipis bayi bertubuh montok itu robek, kepala bagian samping bocor, hal itu yang menyebabkan Embun kehilangan banyak darah.


"Put..."


"Permisi, maaf mengganggu, saya Darma kakak dari Tristan yang menyebabkan putri Ibu kecelakaan." sesaat Putri menatap lelaki yang berdiri tegap di belakang Bu Wahyu.


Dirinya lantas berdiri, menatap mata elang lelaki yang berpenampilan formal dengan setelan jas yang harganya mungkin 10 kali lipat dari gaji Putri.


"Kita bicara di luar," tegas serta sarat kemarahan nada suara Putri terhadap lelaki yang melihatnya saja sudah membuat darahnya mendidih.


"Dimana adik anda? seharusnya adik anda yang berada di sini, bertanggung jawab atas perbuatannya." sorot tajam Putri penuh amarah setelah mereka berada di luar UGD.


"Maaf, saat ini Tristan masih syock dan sedang dalam penangangan psikiater juga pihak berwajib karena Tristan masih di bawah umur, oleh karena itu saya yang datang kesini."


"Orang kaya memang selalu bertingkah semaunya sendiri, belum cukup umur sudah diijinkan bawa mobil seenaknya, mana ugal ugalan lagi," cukup sinis nada bicara wanita yang sebenarnya jarang menampakkan emosinya.


"Atas nama Tristan dan keluarga saya minta maaf, Saya akan membiayai pengobatan putri anda sampai pulih seperti sediakala."

__ADS_1


"Anda pikir uang bisa membeli segalanya? pernah mikir nggak, jika perbuatan adik Anda sangat membahayakan orang lain? pasti tidak, karena untuk orang-orang kaya seperti keluarga Anda tidak pernah perduli dengan orang lain, egois itu sudah pasti, selalu memaksakan kehendak pada orang lain." Putri begitu emosi, apalagi saat teringat kejadian naas yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.


Kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya karena direnggut paksa atasannya, setelah itu harus kehilangan bayinya yang juga terenggut paksa karena kecelakaan, sekarang Embun juga mengalami hal yang sama, semua itu karena orang-orang kaya yang tidak punya hati.


"Sekali lagi saya minta maaf, saya pastika hal ini tidak akan terulang lagi, tolong pahami posisi kami, terutama Tristan," lelaki itu menatap lekat pada netra Putri dengan pandangan sarat permohonan maaf.


"Anda pikir semua akan selesai kalau adik anda tidak melakukan hal bodoh itu lagi, lalu bagaimana dengan anak saya?" ,cicit Putri masih dengan amarahnya.


"Saya sudah bilang, saya akan menanggung semua biaya pengobatan Put---"


"Maaf, keluarga Bayi Embun?" seorang perawat keluar dari ruang UGD dan memotong perdebatan Putri juga Darma.


"Iya sus, saya ibunya, ada apa?"


"Bu, Bayi Embun harus segera mendapat tranfusi darah, jika tidak adek Embun tidak bisa tertolong."


"Astaqfirulloh...., harus cari kemana lagi darah B rhesus negatif."


"Saya B rhesus negatif, suster bisa ambil darah saya sediperlukan untuk menyelamatkan Embun." ada geleyar aneh dihati Darma saat menyebutkan nama bayi itu.


Tanpa menunggu lama Darma melangkah mengikuti perawat pergi ke laboratorium, Putri yang masih syock hanya menatap kepergian lelaki berpunggung lebar itu hingga menghilang dari jangkauan penglihatannya.


Segera wanita dengan hijab biru langit itu melangkah ke arah kamar Embun, dan saat tiba di sana Embun sedang dalam proses pemindahan ke ruang rawat dengan kelas VIP atas permintaan Damar.


Dikantin Darma sedang menyesap segelas teh hangat setelah menikmati seporsi gado-gado, untuk memulihkan kondisi setelah proses pengambilan darah tadi, dalam benaknya berkecamuk berbagai pertanyaan, siapa sebenarnya wanita itu? pernah ada hubungan apa mereka? dibuangnya nafas secara kasar untuk sedikit mengurangi sesak didadanya.


Meningat serta memutar memori apakah dirinya pernah mengenal ibu dari bayi yang golongan darahnya sama dengan dirinya, golongan darah yang cukup langka, dan hanya secara genetik dapat diturunkan dari keturunan blasteran.


🌈🌈🌈🌈


Bersambung, penasaran ya? tunggu di episode selanjutnya, terimakasih sudah mampir untuk membaca.

__ADS_1


__ADS_2