
Sebenarnya Putri sudah memaafkan Darma juga keluarganya sebelum Darma datang, walau belum bisa sepenuhnya melupakan hinaan Bu Widya, memang pada dasarnya Putri wanita pemaaf dan baik hati.
"Sudah ku maafkan, aku lelah maaf mau istirahat pulanglah, kamu juga butuh istirahat pastinya," senyum tulus tercetak di wajah cantik wanita berjilbab yang tak pernah bosan untuk di tatapnya.
Darma tersenyum saat melihat ketulusan Putri yang sudah memaafkan dirinya juga keluarganya, Darma meraih tangan Putri dan meletakkan amplop yang tadi diserahkan padanya untuk di kembalikan ke Putri, Ia tidak mau menambah beban hidup Putri, sudah cukup sikap Mamanya yang melukai hati wanita yang berdiri di hadapannya.
"Simpanlah uang ini, pakailah untuk kebutuhanmu juga Embun," di atas amplop itu ada kartu hitam gold yang pernah di serahkan Darma padanya tempo hari.
"Ak---aku nggak bisa terima ini," Putri menolak secara halus pemberian lelaki yang telah diam diam mengusik hatinya.
"Sudah pakai saja, kamu tahu kan aku tipe lelaki pemaksa, apa lagi untuk anakku juga wanita yang ku sayang," tanpa sadar Darma justru mengungkapkan isi hatinya, memang kalau cinta sudah menyapa terkadang pikiran, hati apa lagi mulut tidak bisa berkompromi.
"Maaf tadi yang terakhir ngomong apa?"
"Eh---enggak, nggak ada ngomong apa apa, aku pamit dulu titip peluk ciumku untuk Embun, assalamualaikum."
sial kenapa mesti keceplosan di saat lagi dalam suasana kaya gini, monolog Darma dalam hati.
"Alaikumsalam."
Darma bergegas meninggalkan rumah mungil itu, Ia merasa tidak akan bisa mengontrol detak jantungnya jika terus berdekatan dengan Putri.
Sepeninggal Darma, Putri masih berdiri di teras dengan senyum yang tercetak jelas di wajah ayunya, semoga Allah tidak salah menempatkan rasa di hatinya pada Ayah kandung anaknya.
Di sepertiga malamnya Putri bermunajat pada Sang Pemberi Kehidupan, selain memuji Ar Rahman-nya Putri juga menceritakan kegelisahan yang akhir akhir ini mengganggu pikitan, tentang perasaannya terhadap Darma, apakah rasa ini hanya perasaan sesaat atau memang sudah keketapan Allah pada kehidupannya.
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Putri menjalani hari hari seperti biasa pagi hingga sore Ia sudah kembali bekerja Embun juga sudah benar benar akrab dengan Bu Nia, Putri pun tidak perlu khawatir jika harus meninggalkan Embun.
Putri merasa bersyukur karena Darma memperkerjakan Bu Nia untuk membantu dirinya menjaga Embun, jujur saja sebenarnya Putri sedikit trauma kalau anaknya diasuh Bu Wahyu lagi sejak kejadian kecelakaan kemaren.
Sudah hampir dua minggu sejak kedatangan Darma untuk meminta maaf malam itu, lelaki yang diam diam mulai dirindukan Putri tidak ada kabarnya, entahlah mungkin Darma sengaja menghindar dan menuruti permintaanya untuk tidak mencampuri kehidupannya lagi, namun jujur Putri merindukan sosok Ayah kandung gadis kecilnya.
Pagi ini Putri ingin mengajak Embun juga Bu Nia jalan jalan di seputaran kampungnya, Putri sedang memakaikan baju gamis mungil dengan hijab warna senada, sedang Bu Nia mempersiapkan keperluan batita menggemaskan itu.
Putri memang membiasakan pada Embun untuk berpakaian tertutup sejak anaknya mulai bisa merangkak, Alhamdulillah batita cantik yang mempunyai rambut kecoklatan yang mirip ayahnya merasa nyaman nyaman saja dengan baju yang tertutup.
Embun di letakkan di stroler saat berjalan berkeliling sambil menikmati udara pagi yang masih sejuk, kampung Putri memang berada di pinggiran Kota jadi masih bisa menikmati sejuknya udara dari pepohonan yang masih banyak tumbuh di sepanjang jalan kampung bahkan disetiap halaman rumah warga pasti ada pohon buah, entah satu atau dua pohon, hingga semakin menambah kesejukan udara di Kampung tempat tinggal Putri.
Lelah berkeliling Putri mengajak Bu Nia untuk mampir ke pasar sekalian belanja keperluan harian yang memang sudah menipis stoknya, setelah mendapat apa yang diperlukan mereka bergegas kembali ke rumah, di samping hari juga semakin siang Embun sudah mulai tidak nyaman karena mengantuk.
Sesampainya di depan rumah terlihat mobil sport warna hitam terparkir di halaman rumah yang tak begitu luas namun cukup space untuk Embun bermain, terlihat di sisi sebelah kanan pintu masuk ke halaman beberapa orang pekerja sedang memasang beberapa alat untuk membuat mini playground sepertinya.
"Yayah." Embun ternyata mengenali Ayahnya walau dari belakang, Darma pun membalikkan badannya ke arah suara mungil yang memanggilnya tadi.
"Assalamualaikum gadisnya Ayah."
"Ayaicumcayam."
"Alaikumsalam," aku dan Bu Nia menjawab salam Darma.
"Kok nggak ngabarin dulu kalau mau kesini."
"Mau bikin kejutan aja buat sayangnya Ayah ini." Darma mengangkat tubuh Embun dari stroler lalu mengendongnya.
__ADS_1
"Masuk dulu, biar sekalian dibikinin minum, buat yang lagi kerja juga."
Bu Nia sudah masuk ke dalam rumah lebih dahulu lalu membuatkan minuman juga menyiapkan beberapa camilan yang tadi sengaja beli banyak di pasar, ternyata ada manfaatnya juga menborong jajan pasar, awalnya hanya merasa iba dengan penjualnya karena sudah sepuh.
Embun sudah terlelap dalam gendongan Darma, Putri menunjukan kamar di mana lelaki itu bisa membaringkan Embun, Putri segera membersihkan tubuh anaknya dengan air menggunakan washlap, lalu mengganti bajunya agar lebih nyaman dan nyenyak tidurnya, Embun memang sudah dibiasakan dari bayi kalau tidur harus dibersihkan dulu, jadi kalau enggak, tidurnya pasti tidak nyenyak.
"Kenapa boros boros keluar uang banyak untuk bikin mini playgroud segala? mainan Embun yang kamu belikan beberapa waktu lalu saja masih ada, bahkab ada yang tersimpan rapi," aku mulai membuka suara setelah Kami duduk di teras depan sambil memperhatikan para pekerja menyelesaikan pemasangan beberapa jenis permainan motorik untuk anak usia playgroup sampai SD kelas dua mungkin.
"Buat anak mana ada yang boros, yang penting Embun senang, kan bisa ajak teman temannya bermain bersama di sini juga."
"Iya tapi kan tetap saja terlihat mencolok di lingkungan yang sederhana ini, apa kata tetangga nanti?"
"Udah nggak usah denger omongan orang, nggak di bayarin mereka juga." masih dengan sikap cuek dan dingin Darma menyesap kopi hitam buatanku yang sekarang jadi favoritnya.
Memasuki waktu dzuhur para pekerja yang di bawa Darma sudah menyelesaikan pekerjaannya, sebuah mini playground di sudut halaman rumah peninggalan orang tua Putri, ada ayunan, prosotan, mini halang rintang bahkan ada dua kuda kudaan yang bisa anjrut anjrutan saat di naiki, Putri tersenyum membayangkan Embun pasti merasa senang melihat saat bangun tidur nanti.
Setelah membereskan urusan dengan para pekerja, Darma masuk kerumah, saat melihat Putri sudah memakai mukena bersiap untuk sholat dzuhur, dirinya pun memberanikan diri untuk meminta ijin berjamaah bersama Putri.
"Put, boleh tunggu sebentar?"
"Iya, mau jama'ah ?"
"Boleh kan?"
"Aku tunggu."
ππππ
__ADS_1
makin seru nggak ni ceritanya, jangan lupa, like, vote juga komennya, ya