
Tubuh Putri sesaat membatu, wajahnya pias karena tidak menyangka jika Darma akan melakukan itu, mencoba memberanikan diri menatap ke dalam manik hazel milik Darma hanya ada keseriusan dengan ucapannya lebih tepatnya ancaman yang terdengar pada di telingan Putri.
"O,---oke, Nia bisa bantu aku, tapi jangan pernah pisahkan Embun dari ku."
"Semua tergantung dari bagaimana kerjasama kita merawat Embun."
"Ish...Dasar egois," cicit Putri dengan menghentakan kedua kakinya.
Putri melangkah kembali ke ranjang Embun, menitipkan putri kecilnya pada Nia lalu dirinya mengambil rice box yang dibawa Alfian, Darma diikuti Aasisten pribadinya melangkah keluar untuk segera berangkat ke kantor setelah sebelumnya berpamitan pada Putri juga Embun.
Tentu saja Darma tak lupa memberikan beberapa arahan pada Nia dalam membantu mengasuh serta merawat Embun, Putri melanjutkan makan paginya setelah terhenti sesaat karena terkejut menerima kecupan dari Darma di puncak kepalanya.
"Apa coba maksudnya bertingkah semaunya sendiri? dia pikir siapa dia? dasar tuan egois," Putri mengomel sendiri sambil menyuapkan nasi dengan chiken katsu ke dalam mulutnya.
Nia yang melihat interaksi antara Darma dan Putri hanya bisa mengulum senyum walau ada rasa penasaram berkecamuk dalam benaknya, siapa sebenarnya wanita yang sedang menikmati sarapan paginya juga batita cantik yang sedang di gendongnya sekarang ini, wajahnya begitu mirip dengan lelaki yang mempekerjakannya sebagai pengasuh.
Putri merasa jika Nia memperhatikan dirinya dari tadi segera diselesaikan sarapannya, setelah membereskan bekas makanya mendekat ke arah wanita yang sedang menidurkan Embun.
Entah kenapa Putri merasa jika Embun cepat akrab dengan Darma juga Nia padahal biasanya gadis kecilbya paling susah jika harus berinteraksi dengan orang yang baru di kenal.
"Maaf Nyonya, biasanya Non Embun di tidurkan dengan posisi bagaimana supaya nyaman?" ,suara Nia memecah lamunanku.
"Eh---agak miring ke kanan, depan belakang tubuhnya di kasih jagaan bantal guling," aku memberi tahukan posisis tidur Embun seperti biasa.
"Iya Nya."
"Maaf Bu, jangan panggil nyonya, panggil Putri aja, terus kalau Embun juga jangan di panggil nona, nggak biasa kami." Putri merasa jengah serta risih m dengan panggilan seperti orang orang kaya.
__ADS_1
"Tapi Nyah, saya takut kalau Tuan Darma marah, atau saya panggil Mbak Putri saja."
"Boleh juga, nggak apa apa panggil mbak, Udah nggak usah dengerin dia, kalau Bu Nia masih mau jadi pengasuh Embun, maaf saya panggil Bu nggak apa apa kan?"
"Ta---tapi, nanti Tuan gimana, Mbak?"
"Itu urusan saya nanti."
"Saya ikut Mbak Putri gimana baiknya saja."
"Siip, makasih ya Bu, udah mau bantu jagain Embun."
"Saya justru yang berterimakasih sudah di beri pekerjaan lagi, di kampung nggak ada kerjaan bingung mau ngapain Mbak."
"Emang Bu Nia nggak ada keluarga?"
"Walah sepi dong kalau gitu, ya sudah nemenin kami saja Bu, biar ada keluarga juga kami."
"Iya Mbak."
Obrolan berlanjut hingga saat visite dokter, kondisi Embun secara keseluruhan sudah baik hanya luka di kepalanya yang harus tetap dirawat dengan intensif, sebenarnya besok Embun sudah di ijinkan pulang, namun Darma menginginkan Embun di rawat sampai benar benar pulih kondisinya.
Hal ini menjadi perdebatan antara Putri juga Darma, mereka sama sama merasa sebagai orang tua batita lucu itu, merasa berhak untuk menentukan apa yang terbaik untuk Embun. Dan seperti biasa keputusan sang ayahlah yang tidak bisa di ganggu gugat, apalagi menyangkut putri kecilnya.
"Kalau Embun terlalu lama di rumah sakit gimana dengan kerjaanku, aku nggak bisa seenaknya ijin lama lama," oceh Putri saat dirinya bersama Darma menikmati makan malam di cafetaria rumah sakit.
"Keluar aja lah, nggak usah kerja, urus Embun aja." Darma menanggapi dengan santai sambil tetap fokus dengan macbook-nya.
__ADS_1
"Terus kami makan apa kalau aku nggak kerja, Tuan Darma yang terhormat?" ,Putri mulai jengkel dengan sikap Darma yang semaunya sendiri, masih dengan santainya Darma menatap wanita yang sedang duduk di hadapannya dengan alis yang terangkat sebelah.
"Kalau begitu aku beli saja perusahaan tempat kamu bekerja, biar kamu bisa bebas masuk atau ijin kapanpun kamu butuhkan."
"Ck, dasar gila, orang kaya memang selalu bersikap semaunya sendiri," omel Putri dengan mulut maju sepersekian centi, hal itu membuat Darma tersenyum merasa jika wanita dengan hijab berwarna peach seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tak di berikan permen kesukaanya.
"Kenapa senyum-senyum?" ,bentak Putri pada Darma, yang dibentak justru semakin terkekeh.
"Lucu tahu, kamu kalau kaya gitu, nih pakai buat kebutuhanmu juga Embun." Darma menyodorkan kartu berwarna hitam gold kehadapan Putri.
"Kalau kurang nanti bilang saja aku isi lagi." Putri hanya bisa memandang kartu di hadapannya bergantian dengan lelaki yang selalu bertingkah memaksakan kemauannya dengan tidak percaya jika Darma memberikan fasilitas kartu tanpa limied pada dirinya.
"Ma--maksudnya gimana?"
"Kan sudah aku bilang, kamu dan Embun sekarang tanggung jawabku, jadi semua kebutuhan kalian harus ku yang jamin, apapun itu."
"Ta--tapi, aku nggak bisa terima ini, kita tidak ada hubungan apa apa, maaf jika aku harus tetap bekerja untuk membiayai hidup kami, aku nggak mau terlalu banyak hutang budi, nggak mau bergantung padamu itu akan membuat ku jadi pemalas, nggak bertanggung jawab atas kehidupan Embun, tapi kalau soal Bu Nia tetap kamu yang gaji nggak masalah karena aku pun nggak sanggup kasih gaji ke dia," panjang kali lebar Putri memberi alasan penolakan menerima tunjangan dari Darma.
"Udah ngomongnya? terus mau kamu gimana, supaya bisa terima tunjangan juga fasilitas dari ku tanpa ada beban, apa kita nikah saja biar kamu nggak sungkan terima semua ini?" ,dengan enteng Darma memberikan solusi sebuah pernikahan di antara mereka untuk rasa sungkan Putri.
"Whait? Nikah? dasar sinting, buatku pernikahan bukan hal yang main main, mungkin kamu memganggap pernikahan sesuatu yang bisa di jadikan permainan, menikah dengan mudah lalu bercerai begitu saja kalau tidak cocok, anda salah Tuan Darma jika melakukan itu pada saya." dengan kasar Putri bangkit dari duduknya bergegas meninggalkan Darma kembali ke kamar rawat Embun.
Kemarahan sudah bercokol di hatinya hingga membuat kepalanya hampir pecah menghadapi sikap Darma yang selalu seenaknya. Entah apa yang dipikirkan lelaki egois itu, sehingga bisa mengutarakan solusi di luar nalar Putri.
Sikap Putri terhadap Darma berubah 180 derajad, tidak ada senyum, berusaha selalu menghindar, bahkan jarang sekali menanggapi pertanyaan yang dilontarkan lelaki itu.
🌈🌈🌈🌈
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka.selanjutnya, tunggu episode yang akan datang ya