
Menyusuri tanah becek dengan rimbunnya pohon kamboja saat ini yang sedang ku lakukan. Mendekat pada tanah kuburan yang masih merah dan basah karena hujan semalam, gundukan tanah kecil dengan taburan bunga yang baru beberapa hari lalu ku ganti, di dalam sana ada malaikat kecilku yang terbaring sendirian.
Aku memang baru saja kehilangan bayiku setelah mengalami kecelakaan, ada sebuah mobil yang menabrakku sepulang dari tempat kerja, banyak yang mengatakan jika mobil itu memang sengaja mencelakaiku, satpam perusahaan tempatku mengais rejeki mengatakan jika mobil tersangka beberapa kali mondar mandir disekitar pabrik.
Karena benturan yang cukup keras maka janin dalam kandunganku terpaksa harus di keluarkan sebelum waktunya, saat itu usia kandunganku masih 8 bulan dan bayi perempuan yang mungil sudah membiru keadaannya saat berhasil dikeluarkan dari rahimku melalui operasi secar.
Setela puas melepas kangen pada buat hatiku segera ku langkahkan kaki kembali kerumah sederhana peninggalan orang tuaku, dirumah penuh kenangan indah masa kecilku ini, tinggal sendiri saat ini yang ku lakukan, sebagai anak tunggal dan kedua orang tuaku sudah meninggal praktis aku selalu merasa kesepian. Jangan tanyakan dimana suamiku karena bagaimanapun aku pernah hamil, tentunya semua orang berpikir jika diriku sudah menikah, kalian salah jika berpikir demikian, Putri Maharani wanita berusia 25 tahun, adalah diriku, anak yang pernah ku kandung adalah hasil pelecehan manager perusahaan tempatku bekerja sebelumnya.
Karena tidak mau menimbulkan masalah, setelah tahu sedang mengandung benih dari hasil perbuatan bejad lelaki itu, maka sesegera mungking aku resaing dan meninggalkan kota tempat aku mengadu nasib, pulang kekampung halaman dengan kondisi berbadan dua tanpa suami, tentu menjadi santapan empuk para biang gosip dilingkungan rumahku.
Tak bisa dipungkiri tajamnya mulut-mulut biang gosip, yang sepertinya tidak punya anak perempuan dan sungguh ini membuatku sedikit tertekan, namun jika mengingat mahluk mungil yang sedang tumbuh dirahimku, justru menjadi moodboster untukku, supaya tetap tegar menjalani kehidupan ini, walau hanya berdua dengan malaikat mungilku kelak.
Hampir dua bulan aku sudah menetap dikota kelahiranku ini, mencoba bertahan dengan uang pesangon yang ku terima, karena kondisi yang masih teler karena ngidam mau nggak mau aku tetap bertahan dulu dengan kondisi ini hingga kondisiku kembali membaik.
Berbekal anjuran dari dokter kandungan tempatku cek up, memang wajar jika kehamilan trimester pertama akan terasa berat, apalagi jika harus mabuk seperti dirinya saat ini, entah mengapa aku jadi begitu suka sekali makan bubur kacang hijau, padahal jika tidak sedang hamil aku paling tidak suka dengan yang namanya bubur kacang hijau.
Pagi ini aku sengaja jalan pagi agak jauh ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang sudah menipis stoknya, tiba tiba ada yang memanggil namaku saat berjalan ke arah pulang.
"Put...putri, kamu Putri kan yang juara tilawah waktu SMP dulu ?" ,seorang wanita dengan pakain semi formal mendekat ke arahku.
"Betul, maaf siapa ya ?"
"Aku Risma, temen SMP Kamu." sejenak ku mengingat masa masa SMP dulu.
__ADS_1
"Risma yang dulu suka gangguain anak anak cewek kan ?"
"Haiis...jadi dulu aku memang bengal ya." wajah Risma langsung ditekuk, dan aku hanya tersenyum melihatnya.
"Walau kamu bengal tapi Kamu selalu membela ku jika ada anak lain yang mengganggu diriku." ku memeluk Risma dan ia pun segera membalas pelukan hangatku
"Kapan kamu pulang Put ?"
"Sudah hampir 3 bulan aku pulang dan menetap di sini."
"Main kerumah deh Put, kita ngobrol ngobrol."
"Iya Ris, insyaallah kalau kamunya udah nggak repot."
"Alaikumsalam."
Pertemuan kembali dengan Risma yang akhirnya membantuku mendapatkan pekerjaan dikota ini, bahkan Risma dan keluarganya juga yang membantu aku saat dirumah sakit hingga memakamkan bayiku, begitu banyak aku merasakan hutang budi pada Risma dan keluarganya.
Putri masih berjalan dengan perlahan untuk segera pulang, terdengar sayup suara tangis bayi saat Aku semakin dekat dengan arah rumahku, tangis bayi itu semakin keras saat melewati rumah Bu Wahyu yang hanya berjarak satu rumah dari rumahku, terlihat Pak Wahyu dan anak lelakinya Bagas keluar karena penasaran dengan suara tangis bayi yang cukup mengusik heningnya malam ini.
Malam itu gang menuju rumahku jadi ramai warga, karena penemuan bayi perempuan yang mungkin baru berumur beberapa hari, Aku jadi teringat dengan alharmumah bayi mungilku, seandainya Ia masih hidup mungkin ku sudah mendekapnya dalam pelukan hangatku malam ini.
"Put, Putri, Put." aku tersentak Bu RT memanggil namaku.
__ADS_1
"Eh iya Bu."
"Ngalamun aja kamu, sudah gini aja dari pada urusan bayi ini jadi berkepanjangan kalau kita lapor polisi, gimana kalau kamu yang rawat, Put?"
"Lah nggak bisa gitu juga bu, nanti saya di kira yang nyulik bayi itu kalau ada yang kehilangan bayinya," jelas ku sedikit keberatan walau dalam hatiku merasa kasihan dengan bayi tak berdosa yang sedang digendong Bu Wahyu.
"Put malam ini biar bayi ini tidur sama kamu dulu, besok pagi kita rapat di rumah saya untuk membahas nasib bayi ini," Pak RT akhirnya ambil suara.
"Tapi Pak saya takut."
"Saya juga seluruh warga RT yang menjamin kalau kamu nggak bakal kenapa napa jika merawat bayi ini, bagai mana Bapak bapak juga Ibu ibu?" ,Pak RT meminta saran pada warga, dan karena warga juga sudah setuju maka malam ini juga Putri membawa bayi cantik itu kerumahnya, warga sangat berterimakasih pada Putri karena mau merawat sert menampung bayi tak berdosa itu.
Bayi kecil yang sangat cantik dan masih kemerahan kulitnya, sungguh membuat Putri merasa sempurna menjadi Ibu, walau pun kenyataanya Bayi itu bukan anaknya.
"Sayang Kamu belum di kasih nama ya, gimana kalau Bunda kasih nama Embun, karena kamu seperti embun yang menyejukkan hati Bunda."
Putri mencium pipi halus milik bayi yang juga sedang menatapnya, seakan menyukai nama yang diberikan Putri padanya, bibir mungil Embun bergerak gerak lucu, seolah olah ingin mengatakan terimakasih pada Bundanya yang sudah memberikan kasih sayang tulus.
Embun sudah tertidur dengan nyenyaknya, Putri pun membasuh kedua *********** dengan air hangat, Ia sadar jika asinya sudah keluar bahkan sejak usia kandungannya memasuki 8 bulan, bahkan saat ini *********** terasa penuh hingga berdenyut nyeri, setelah selesai membersihkan diri Putri segera membaringkan tubuh lelahnya disamping Embun.
Tangis kencang Embun membuat Putri terbangun, saat melihat jam dinding masih menunjukkan angka 2 dini hari, segera Putri memeriksa popok yang dipakai Embun, namun masih kering, Putri mengangkat tubuh mungil itu dan membawa dalam dekapannya, segera di keluarkan satu pabrik Asi miliknya, di dekatkan ke bibir mungil bayi cantik itu, rupanya si kecil cukup cerdas untuk mengenali sumber Asi milik Bunda Putri.
🌈🌈🌈🌈
__ADS_1
Bagaimana kisah Embun dan Putri selanjutnya? tunggu ya