
"Lihat betapa sombongnya perempuan miskin ini," kata Bu Widya memandang Putri dengan tatapan yang mengejek, entah kemana perginya sosok wanita yang begitu ramah saat memeluknya tadi.
Mungkin tadi hanya khilaf saat memeluk dan mecium dirinya, guman Putri di hati.
"Ma, jangan seperti itu pada Putri." Darma sungguh merasa tidak enak dengan Putri.
"Sudah diguna guna rupanya kamu, Mama tahu perempuan sekarang hanya ingin menginginkan uangmu Darma, apalagi setelah tahu kalau bayi itu anak kamu."
"Maaf Nyonya saya memang miskin tapi saya masih punya akhlak untuk mengguna guna anak lelaki Anda yang egois dan pemaksa, satu hal lagi saya tidak membutuhkan uang keluarga Anda untuk merawat dan membesarkan Anak saya." geram terlihat dari suara Putri, kemarahan semakin menggunung dihatinya terhadap keluarga yang telah membuat anaknya tersakiti.
"Dasar perempuan miskin nggak tahu diri, sudah Pah, ayo pergi, dan kamu Darma segera pulang kalau urusanmu sudah selesai," lalu kedua orang tua Darma bergegas meninggalkan ruang rawat Embun dengan Darma mengikuti di belakangnya.
Sebelum Darma keluar terdengar Ia berbicara pada Alfin untuk tetap di ruangan itu sampai dirinya kembali, Putri benar benar meradang tak mau ambil pusing dengan permasalahan Darma dengan orang tuanya, segera di kemasi semua pakaian Embun juga barang barang yang berada di atas meja, Aflin yang melihat gelagat tidak baik segera mendekat ke arah Putri yang sedang berkemas.
"Maaf, Mbak Putri mau kemana?"
"Bukan urusan kamu!"
Setelah semua beres Ia bergegas mengangkat tubuh Embun yang masih terlelap dalam mimpinya lalu menempatkan di gendongannya, dengan membawa ransel di punggungnya serta tas jinjing di tangan kirinya bergegas Putri meninggalkan ruang rawat Embun menuju bagian administrasi, menanyakan berapa biaya yang harus dibayar selama Embun di rawat, ternyata Darma sudah deposit biaya perawatan sampai 10 hari kedepan sehingga Putri sudah tidak perlu membayar biaya perawatan Embun lagi.
Tak mau menunggu lebih lama Ia segera memesan taksi online dan secepatnya membawa Embun pulang, obat obatan untuk rawat jalan Embun bisa diurus besok pagi kata perawat jaga bagaian bangsal tempat Embun di rawat, setelah mendapat surat ijin lepas rawat inap serta Embun mendapat pemeriksaan dokter sekali lagi, Putri segera menuju loby rumah sakit menunggu taksi yang sudah di pesanya.
__ADS_1
Di tempat terpisah Alfin segera menghubungi Darma, memberitahukan semua yang Ia lihat, Darma yang sedang berbincang serius dengan kedua orang tuanya di resto yang tak jauh dari rumah sakit segera pamit dan bergegas kembali ke rumah sakit, sesampainya dirinya di rumah sakit Putri sudah tidak ada, sedang kan Alfin mengikuti taksi yang membawa Putri dan Embun.
Dalam perjalanan Alfin menyempatkan untuk mengabarkan posisinya pada Darma dan memintanya untuk segera menyusul, setelah mendapat share lokasi dari Alfin bergegas lelaki yang tanpa di sadari sudah mulai jatuh cinta pada Putri kembali ke mobilnya lalu segera melaju membelah keramaian jalanan Ibu Kota menuju arah pinggiran Kota malam ini.
Sesampainya di rumah Putri disambut Bu Nia yang sedang istirahat ditemani Bu Wahyu, mereka terkejut mendapati Putri telah membawa pulang Embun tanpa mengabarkan pada mereka terlebih dahulu kalau mereka mau pulang.
Setahu mereka Embun akan tetap di rawat sampai benar benar pulih, Bu Nia segera mengambil Embun dari gendongan Putri sedang Bu Wahyu membantu membawakan tas jinjing, bertiga mereka melangkah beriringan ke arah kamar.
Putri bergegas keluar kamar karena mendengar ada yang mengetuk pintu, saat pintu terbuka ada lelaki yang sudah tidak ingin di temuinya lagi sudah berdiri di depan pintu.
Putri melangkah ke teras setelah menutup pintu tanpa mempersilahkan tamunya duduk, Ia sudah menjatuhkan tubuhnya di kursi teras, Darma menyusul duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Putri, diantara mereka hanya dibatasi meja kecil yang berada di tengah.
"Kenapa bawa Embun pulang paksa?" ,tanya Darma dengan sorot mata sarat emosi.
"Tapi aku belum mengijinkan," suara Darma naik satu oktaf, hal itu sukses membuat emosi Putri yang sudah mereda terpancing lagi.
"Anda pikir Anda siapa, bisa bersikap seenaknya sendiri terhadap kehidupan saya dan anak saya, masih kurang puas beberapa hari terakhir Anda selalu memaksakan kemauan Anda tanpa mempertimbangkan perasaan saya sebagai ibunya Embun?" ,kilat kemarahan terlihat jelas di kedua netra Putri, ada rasa nyeri dalam dada Darma saat menyadari bahwa dirnya telah membuat wanita di hadapannya terluka karena keegoisannya.
"Saya tidak pernah meminta apapun dari Anda juga pada keluarga Anda, apalagi tentang Embun tak sedikitpun terlintas dalam pikiran saya untuk memanfaatkan keadaan, biarpun saya miskin, saya masih punya harga diri untuk tidak mengemis belas kasihan Anda juga keluarga Anda, sudah sejak dua tahun yang lalu Embun adalah tanggung jawab saya, alhamdullillah kami tidak pernah kekurangan, hidup kami tenang dan bahagia sebelum terjadi kecelakan yang hampir merenggut nyawa anak saya karena ulah adik Anda." Wajah Putri sudah memerah menahan amarah, rasa perih di hati mengingat penghinaan Bu Widya padanya tadi.
Bergegas Putri masuk ke dalam rumah sebentar sudah keluar dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat, diserahkan amplop tersebut ke tangan Darma dengan menatap tajam ke manik hazel milik Darma.
__ADS_1
"Itu uang ganti untuk biaya perawatan Embun selama ini, terimakasih sudah banyak membantu dan terimakasih juga untuk darah yang sudah Anda berikan hingga bisa menyelamatkan nyawa anak saya, sekali lagi saya harap Anda tidak mengganggu kehidupan kami." diletakkan amplop berisi nominal yang tidak sedikit bagi Putri di telapak tangan Darma, hati lelaki itu berdenyut nyeri mendengar penuturan Putri dengan suara yang sarat kekecewaan serta luka hati.
"Simpan saja uangnya, sudah jadi tanggung jawab ku membiayai Embun, dia darah dagingku ja---."
"Darah daging yang tidak diakui karena dianggap aib, sudahlah silahkan pergi dari rumah saya sekarang juga, saya nggak mau timbul fitnah karena kita bukan muhrim," kata Putri yang penuh penekanan.
"Put, maafkan sikap Mama, maafkan aku juga." ada sorot kejujuran juga luka di mata Darma dan Putri tahu itu, namun rasa sakit dan terhina lebih mendominasi.
"Sudah saya maafkan sebelum Anda memintanya, setelah ini tolong jangan pernah menampakkan diri di kehidupan kami lagi, terutama untuk Embun, jujur saya tidak akan pernah terima kalau ada yang menyakiti hati anak saya, dia tahu apa tentang semua ini? Benar yang dikatakan Bu Widya bahwa Embun adalah kesalahan, kesalahan dua orang dewasa yang hanya mengedepankan nafsu tanpa memikirkan akibat yang akan timbul karena perbuatan mereka yang menjijikan, kesalahan Embun juga lahir dari orang dewasa yang tidak menerima dia bahkan tidak peduli jika Embun juga berhak memperoleh kehidupan dan kasih sayang yang layak," apa yang diutarakan Putri sungguh sebuah tamparan hebat yang tepat mengena sasaran di relung hati terdalam seorang Darma Adi Wiraguna, CEO Wiraguna Corp yang membawahi beberapa anak cabang perusahaan yang sudah tersebar di beberapa negara penghasil buah dan sayur terbesar terbaik di beberapa negara besar.
Darma tersadar jika apa yang dilakukan selama ini adalah salah, selalu berfoya foya dengan teman temannya, menghabiskan banyak uang di club club malam eksklusif, melakukan hubungan intim dengan beberapa wanita atas dasar suka sama suka, jujur selama hidupnya Darma sudah begelimang kekayaan keluarga yang mungkin tidak akan habis sampai keturunan yang ke ke sepuluh, namum Darma merasakan jiwanya kosong.
Hingga saat melihat Putri sholat dan membaca ayat ayat suci Al quran di rumah sakit waktu menemani Embun kemaren, membuat Darma menemukan kedamaian di hatinya, kesejukan pada batinya yang gersang, ada gejolak di jiwanya menuntut lebih untuk selalu mendengarkan lantunan ayat ayat Allah yang begitu syahdu di perdengarkan.
"Put tolong maafkan kami, aku tidak akan pulang jika kamu tidak benar benar memaafkan aku juga keluargaku," terdengar suara Darma sedikit bergetar, dengan mata yang sudah memerah bahkan ada kaca kaca bening yang menghias di sana.
Mengingat Darma yang biasa bersikap memaksa dan semaunya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang lain sekarang sedang memohon maaf pada dirinya dengan sikap yang tentu pasti menjatuhkan harga dirinya sebagai laki laki, hati Putri sedikit tersentuh dengan kesungguhan Darma.
🌈🌈🌈🌈
Apakah Putri akan memaafkan Darma
__ADS_1
? tunggu kisah selanjutnya.