
Darma bergegas ke belakang untuk mengambil wudu, sedang Putri ke kamar mengambil kain sarung milik ayahnya dulu yang masih tersimpan rapi dalam lemari, digelarkannya sajadah untuk Darma.
Pada awalnya ada rasa canggung di antara ke duanya saat akan memulai jama'ah namun Darma yang terbiasa mendominasi bisa mencairkan keadaan, hingga selesai menjalankan kewajiban empat rekaat mereka, Putri begitu terhanyut dengan bacaan solat Darma yang begitu fasih, suaranya pun terdengar merdu.
Putri sedang membereskan perlengkapan solat saat terdengar rengekan Embun dari dalam kamar, Darma bergegas masuk ke kamar untuk melihatnya, batita cantik yang baru terjaga dari tidurnya langsung mengembangkan senyum saat melihat ayahnya datang.
Darma mendekat dan segera mengendong Embun keluar kamar, Putri di bantu Bu Nia terlihat sedang menyiapkan makan siang untuk mereka, menu pepes tahu kemangi, bacem ayam, sambel bawang, sayur asem dan kerupuk nasi yang kebetulan dibuat sendiri sudah terhidang di meja.
Darma memakan semua hidangan sederhana yang tersaji dengan lahap, bahkan sampai nambah, Putri merasa jika sebenarnya lelaki yang duduk di hadapannya adalah lelaki yang baik, mungkin karena ia seorang pemimpin perusahan maka sifat egois juga pemaksa lebih mendominasi.
"Jangan diliatin terus, aku memang tampan sudah tidak diragukan lagi itu," tiba tiba Darma bersuara dan itu cukup mengejutkan Putri yang memang sedari tadi memperhatikannya.
"Ish, apaan sih ge er banget." wajah Putri sudah menghangat malu karena ketahuan memperhatikan Darma, Bu Nia hanya tersenyum melihat tingkah kedua majikannya.
Mereka melanjutkan makan siang dengan suasana yang hangat, sesekali diselingi obrolan ringan, Bu Nia juga ikut bergabung seperti biasa, awalnya pengasuh Embun itu menolak karena merasa sungkan pada Darma, bukan Putri namanya kalau tidak memaksa dengan meyakinkan wanita yang seusaia kakaknya itu.
Darma semakin kagum dengan pribadi Putri, selain cantik parasnya, hatinya juga begitu baik, memperlakukan Bu Nia seperti kakaknya sendiri, sungguh hal ini semakin membuat rasa sayang dihatinya semakin besar pada Bunda anaknya.
Selesai makan siang Darma membawa Embun ke halaman, memperlihatkan mini playground yang baru saja jadi, gadis kecilnya terlonjak kegirangan, melihat ada berbagai mainan di rumahnya.
"Ain mol, ain mol," seru Embun sambil berlari ke arah ayunan setelah turun dari gendongan sang ayah.
"Hati hati sayang, nggak usah lari," Darma mencoba mengimbangi langkah Embun yang berlari sambil sempoyongan.
Darma mendudukan Embun pada bangku ayunan, lalu perlahan mulai mengayun gadis kecilnya yang tertawa riang, merasa senang dengan semua yang sudah diberikan ayahnya.
Putri melihat keakraban dua manusia beda generasi itu dengan senyum mengembang, sejumput rasa bahagia menyelusup dalam hatinya, andai mereka bisa bersatu, tentu Embun akan merasa bahagia.
Haduh, mikir apa aku ini, Putri menggelengkan kepala, mengusir khayalan yang sesaat singgah dipikiranya.
Cukup lama Embun bermain di tempat main barunya, tubuh montoknya sudah bermandi keringat, gadis kecil berkulit bersih itu memang sangat aktif, tidak mau diam, terkadang Putri merasa khawatir jika anaknya itu sampai terjatuh atau terluka karena tingkah aktifnya.
Selesai memandikan Embun, Darma pamit pulang, rencananya malam ini dia akan terbang ke Malang, untuk bertemu beberapa petani apel yang akan bekerja sama dengan perusahannya.
Embun seakan enggan berpisah dengan ayahnya, setelah dibujuk sang bunda baru mau melepas rangkulan tangannya di leher Darma, begitu juga sang ayah yang terasa berat harus berpisah dengan gadis kecilnya, walau hanya beberapa hari.
__ADS_1
"Titip Embun ya," Darma berpesan pada Putri.
"Kenapa bilang begitu, dia kan anak ku, pasti akan aku jaga dengan baik," jawab Putri.
"Iya, aku tahu, tetap saja aku khawatir."
"Ck, kan bisa telepon, bisa video call, nggak usah merajuk gitulah, nanti anaknya malah rewel."
"Ya sudah, aku permisi, assalamualaikum."
"Alaikumsalam, hati hati, kalau sudah sampai sudah sampai kabarin ya?"
"Iya."
Dikecupnya kening batita yang sudah terlelap dalam gendongan sang bunda, mengusap lengan Putri perlahan, lalu beranjak meninggalkan rumah munggil yang menghadirkan kehangatan untuk dirinya.
πΈπΈπΈπΈ
Waktu terus berjalan, keseharian Putri masih seperti biasa pagi setelah beres dengan Embun, dirinya lalu berangkat ketempat kerja, sepeda motor matic dengan cc besar pemberian Darma menjadi tunggangannya.
Putri selalu berusaha menolak setiap pemberian Darma, tetapi lelaki itu selalu bisa memaksanya untuk menerima barang barang yang memang sangat dibutuhkannya.
Di kantor Putri termasuk karyawan yang di segani, dedikasinya pada perusahaan membuatnya dirinya dekat dengan jajaran komisaris, bahkan Dereksi pemasaran menganggapnya teman dekat selain Risma.
"Assalamualaikum Mpok," tiba tiba bahu Putri di peluk dari belakang.
"Alaikumsalam, bikin kaget aja Ris, naik apa, kok nggak bawa motor?" ,ternyata Risma yang menyapa Putri saat sedang berjalan ke arah kantor.
"Dianter laki ku lah, motor tiba tiba macet," terang Risma.
"Kok nggak telepon aku, kan bisa bareng."
"Lupa, kirain kamu dianter pake mobil lagi, kan nggak enak ganggu yang lagi berduaan."
"His, apa sih Ris, ayo masuk, telat finger absen entar," ajak Putri mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Nggak usah ngeles Mpok, aku mah pengertian sebagai teman, kapan dikenalin nih, gini gini aku kan udah kaya saudaramu."
"Iya, insyaallah kalau udah nggak sibuk orangnya."
"Cie....cie....,kayaknya Embun bakal punya bapak beneran nih," goda Risma.
"Apaan sih Ris, dia cuma nolongin Embun." Putri masih belum berani mengakui jika ada sesuatu diantara dirinya juga Darma.
"Nolongin Embun, kepincut Emaknya, ha ha ha," godaan Risma sukses membuat Putri blusing dan salah tingkah.
"Kalaupun iya, aku dukung deh, kamu dan Embun juga berhak bahagia Put," Risma memeluk Putri sebagai dukungan untuk sahabatnya.
"Makasih Ris, doakan yang terbaik untuk kami ya."
"Ada apa ini, main peluk peluk, aku di tinggalin," tiba-tiba terdengar suara perempuan dari arah belakang mereka, dan langsung ikut memeluk dua sahabat yang sedang berpelukan.
"Eh, Bu Naoumi, pagi Bu," sapa Risma juga Putri pada Direktur Pemasaran yang merupakan atasan mereka.
"Pagi juga, ada apa, kayaknya aku ketinggalan berita."
"Enggak Bu, ini si Putri mau dilamar," Risma masih saja menggoda Putri.
"Benarkah, ikut seneng dengernya."
"Eh, enggak....enggak Bu, Risma apaan sih, bohong Bu, Risma jangan di tanggapin, ngawur aja kalau ngomong," kaget Putri saat mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Put, itu doa ku buat kamu, siapa tahu pulang kerja kamu beneran di lamar, iya kan Bu Naoumi?"
"Iya, juga sih, entar kita yang siapin acaranya ya Rim," kata Naoumi sambil merangkul Risma meninggalkan Putri yang masih cengo dengan kelakuan abstrud dua sahabatnya.
"Kalian ya, emanga dasaaaaaar," teriak Putri setelah tersadar sambil mengejar dua sahabatnya.
ππππ
kira kira Putri beneran dilamar enggak ya? penasaran kan? tunggu lanjutannya ya, jangan lupa like, komen dan vote ya, terimakasih sudah mampir.
__ADS_1