
Putri memasuki rumah lewat pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur, segera ia membersihkan diri sebelum menyentuh putri kecilnya, saat keluar dari kamar mandi dirinya agak terkejut karena Darma sudah menunggu di depan pintu kamar mandi.
Dengan sikap dingin Putri melangkah menjauh dari Darma, tanpa sapaan bahkan, Darma merasa sakit dihatinya mendapar perlakuan sedingin ini, setelah selesai membersihkan diri lelaki itu menuju ruang tengah yang di sana tengah ada Embun sedang bermain bersama Bundanya.
"Put, apa boleh aku bermain dengan Embun?" tanya Darma setelah berada diantara ibu dan anak itu.
Tanpa memberi jawaban, Putri beranjak dari tempatnya, melangkah pergi meninggalkan Embun dengan wajah kebingungannya.
"Nda, mana?" teriak Embun pada bundanya.
"Nda masuk dulu, Embun main sama Ayah ya," jawab Putri lembut pada gadis kecilnya.
"Atik!" kembali jeritan Embun membahana di ruang tengah.
Darma hanya bisa menggelengkan kepala dengan tinggak Putri, ah, sudahlah terserah mau bagaimana, yang penting aku masih bisa bermain dengan anakku, kata hati Darma.
Putri masih asyik berkutat dengan laptopnya, Rizma mengirim pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini juga lewat emain, mau tidak mau harus dikerjakan juga walau kepalanya masih terasa pening.
Saat terdengar suara azan dzuhur berkandang Putri sudah mengirimkan hasil pekerjaannya ke email bu Naoumi langsunh, sesuai pemberitahuan Rizma tadi, saat keluar kamar suasana rumah terasa sepi, tak terdengam celoteh Embun atau suara Darma, bahkan Bu Nia juga tak tampang bayangannya.
__ADS_1
Putri melangkah keruang tengah tempat Embun bermain saat ditinggalkan terakhir tadi, tampak sepasang bapak dan anak saling berpelukan dalam tidur nyenyak mereka, Bu Nia baru pulang dari mini market rupanya, terlihat dari tas yang di tentengnya.
"Mbak udah selesai kerjanya? maaf tadi saya nggak pamit kalau mau belanja keperluan yang habis," ucap Bu Nia seperti memahami isi kepala Putri.
"Saya belum kasih uang kan, Bu?" tanya ku heran, pasti habis banyak setelah melihat Bu Nia membongkar belanjaannya di atas meja makan.
"Bapak yang kasih, Mbak, tadi pas mau bikinin susu mbak Embun, bapak lihat kabinet longgar langsung nyuruh saya belanja, maaf nggak bilang Mbak Putri dulu," ada nada sungkan dari suara Bu Nia.
"Ya sudah Bu, terlanjur ini, besok lagi tanya saya dulu, jangan merepotkan bapak mulai sekarang," tegas Putri menyampaikan itu, lalu beranjak ke belakang untuk mengambil air wudhu.
Tak sengaja Darma mendengar pembicaraan Putri dengan Bu Nia, terlihat jelas kalau ibu anaknya itu sengaja memberi jarak diantara hubungan mereka, harus dengan cara bagaimana ia melunakkan hati Putri yang sudab terlanjur terluka olehnya.
Selesai solat Putri membawa Embun ke kamar tanpa menanyakan keberadaan Darma, Bu Nia berinisiatif mengatakan kalau majikan lelakinya itu berpamitan tidak bisa datang untuk beberapa minggu namun saat melihat gelagat majikan perempuannya sedang tidak baik suasana hatinya maka diurungkan niatnya itu.
Beberapa hari tanpa kehadiran Darma membuat Putri merasa lega, walau tak di pungkiri ada rasa kehilangan dihatinya namun kemarahan masih mendominasi, bahkan rasa tak ingin melihat lelaki itu lebih besar, kecewa, sakit hati, rasa malu, cinta, bahkan rindu, semua bercampur jadi satu berkecamuk disanubarinya.
Pagi ini Putri sudah bersiap dengan aktifitas di tempat kerja, senyum tersungging di bibir tipisnya, melangkah dengan pasti masih ada ketidak nyamanan dihatinya saat nanti harus bertemu dengan Naoumi.
Seharian Putri disibukkan dengan pekerjaan yang sudah menunggunya setelah cuti beberapa hari, dua kali meeting dengan klien yang akan menjadi investor di perusahannya sudah di lakukan berkat kecakapan Putri berpresentasi serta tim work yang solid dua investor besar berhasil bergabung dengan perusahaan yang bergerak di bidang property.
__ADS_1
Keluat dari ruang meeting Putri menanyakan keberadaan Naoumi pasa sekertarisnya, seharusnya Naoumilah yang memimpin meeting bukan dirinya, "Sis, Bu Naoumi kemana nggak kelihatan?"
"Ibu ke Bandung Mbak, ada acara keluarga katanya, makanya Mbak Putri suruh gantiin," jawab Siska.
"Tumben-tumbenan pulang ke Bandung pas ga weekend?" tanyaku agak heran.
"Mau lamaran katanya Mbak," jawaban Siska hanya biasa namun mampu membuat hati Putri porak poranda.
Kebetulan sekali Darma juga pamit ke Bu Nia kalau akan ke luar kota dalam waktu yang lama, laki-laki memang brengsek semua, mengumbar kata-kata cinta namun menusuk tepat di hati hingga menoreh luka yang kapan akan sembuh. umpat Putri dalam hati.
Bergegas ia menuju ruangannya, meninggalkan Siska yang terheran-heran dengan sikap Putri yang tak seperti biasa, tak mau ambil pusing Siskapun segera melanjutkan pekerjaannya. Di ruangan Putri menumpahkan segala kekecewaannya pada Darma dengan airmata, luka yang di buat lelaki itu semakin menganga.
Tok....tok....tok
Suara pintu ruangan Putri terdengar di ketuk dari luar, sebelum menjawab ia membersihkan sisa air mata juga membenahi sedikit makeup yang berantakan. Setelah dirasa cukup rapi Putripun mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Rasa terkejut dan ketakutan seketika menyergap hati Putri saat melihat siapa yang membuka pintu ruang kerjanya, "P--Pak Romi!?" pekik Putri tertahan.
🌈🌈🌈🌈
__ADS_1
Bersambung