
Romi melangkah dengan pasti memasuki ruang kerja Putri, sedang pemilik ruangan tercekam rasa takut teringat kejadian laknat yang telah menghancurkan masa depannya beberapa waktu yang lalu, tubuhnya gemetar, keringat dingin sudah membasahi baju yang di kenakan bahkan suhu pendingin ruangan tidak beroengaruh pada dirinya, wajahnya sudah memucat pasi.
"Assalamualaikum, Put," Romi menyapanya lembut namun terdengar menakutkan di telinga Putri.
"Wa--waalaikumsalam, Pak," jawab Putri masih dengan tubuh gemetar bahkan seperti terpaku pada tempat duduknya.
"Boleh aku duduk Put?" suara Romi masih saja membuat wanita yang biasanya tenang semakin ketakutan, bayangan perbuatan lelaki yang berada di hadapannya kembali berkelebat nyata.
"Si--silahkan Pak."
"Terimakasih, maaf jika aku mengganggu waktumu," ucap Romi setelah menempatka tubuh tegapnya di atas kursi yang hanya terbatasi meja dengan Putri.
"I-iya Pak, ada keperluan apa Bapak menemui saya?" Putri berusaha memberanikan diri menghadapi lelaki yang sebenarnya berkarismatik namun karena perlakuannya membuat Putri merasa terancam dan ketakutan.
"Kedatangan saya ingin meminta maaf atas apa yang telah saya lakukan terhadap kamu dulu dan saya akan bertanggung jawab, selama ini saya terus mencari keberadaanmu, ingin menebus kesalahan saya dengan menikahimu, Put," Romi mengutarakan makdus kedatangannya pada Putri dan itu membuat wanita di hadapannya sangat terkejut.
__ADS_1
"Ta---tapi Pak, saya tidak bisa menerima Pak Romi, sa...,"
"Put, aku tahu kalau kamu mengandung anakku, bahkan kamu merawatnya sampai sekarang, tolong terima permintaan maafku, biarlah aku bertanggung jawab atas hidupmu dan anak kita," Romi memotong pembicaraan Putri yang belum selesai, saat ini wanita berkhimar lebar itu sudah tidak bisa berpikir dengan tenang.
"Pak, Embun bukan anak Bapak, dia anak saya!" tegas Putri menerangkan tentang siapa Embun.
"Jadi Embun namanya, terimakasih sudah memberi nama yang indah untuk anak kita, boleh aku berte..."
"Maaf Pak, Embun bukan anak Bapak, saya sudah memaafkan semuanya tolong jangan ganggu kehidupan saya lagi, Pak," suara Putri terdengar bergetar menahan tangis. Ia tak mau terlihat rapuh di hadapan lelaki yang telah membuatnya hancur.
"Put, aku tahu kesalahanku mungkin tak termaafkan, tapi aku memohon di beri kesempatan untuk mebebus kesalahanku, aku juga berhak atas Embun, tolong Put, maafkan aku," wajah tampan Romi mulai memerah, matanya berkaca-kaca sorot penyesalan tampak jelas dari kedalaman manik berwarna hitam kelam dan Putri melihat itu dengan nyata.
"Beri saya kesempatan untuk menebus kesalahanku Put, aku janji akan membahagiakanmu juga Embun, kamu tahu kan dari dulu aku begitu mencintaimu, hanya caraku salah untuk mendapatka dirimu," air mata Romi sudah tidak bisa di bendung lagi, bahkan saat ini lelaki berbadan tinggi tegap itu telah bersimpuh di samping tempat duduk Putri.
"Pak Romi jangan seperti ini, tolong berdirilah Pak," Putri berusaha menegakkan tubuh Romi dari posisinya.
__ADS_1
"Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan dan memberi kesempatan padaku untuk bertanggung jawab atas hidupmu juga Embun." Romi tetap kekeuh dengan pendiriannya, hingga membuat Putri merasa bingung harus memberi jawaban apa atas pernyataan mantan atasannya itu.
"Pak, sudah saya bilang, saya telah memaafkan Bapak tapi untuk memberi kesempatan pada Pak Romi saya butuh waktu untuk memikirkan lagi," akhirnya Putri bisa memberikan jawaban yang dirasa tidak akan menyinggung perasaan Romi.
"Benat Put, kamu mau mempertimbangkannya?" ujar Romi dengan rasa tak percaya, Putri memang wanita baik bahkan terhadap dirinya yang sudah berbuat kurang ajarpun Putri masih mau memaafkan.
"Insyaallah Pak, berdiri dulu Pak, nggak enak kalau sampai ada yang melihat," kembali Putri memegang kedua lengan Romi dan menuntunnya untuk berdiri.
Di raihnya kotak tissue yang berada di atas meja lalu di angsurkan ke hadapan Romi, lelaki itu mengambilnya beberapa lembar dan mengusap wajahnya yang basah oleh airmata, "Terimakasih Put untuk maaf dan kesempatannya," ucap Romi dengan perasaan lega.
"Sama-sama Pak, maaf ada tissue yg menempel." Putri lebih mendekat ke arah Romi untuk mengambil sisa tissue yang menempel di pipi lelaki berkulit bersih itu.
Kedua anak adam yang dulu pernah merasakan geleyar di hati masing-masing saling menatap di kedalaman mata yang mampu menumpahkan segala rasa, bahkan tanpa di sadari lengan Romi telah memeluk erat pinggang ramping Putri.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap dua insan dengan posisi yang begitu intim, rasa tidak suka seketika menyelimuti hati pemilik sepasang mata yang memancarkan kemarahan dan tercetak jelas di wajahnya.
__ADS_1
🌈🌈🌈🌈
Bersambung dulu deh, kira-kira siapa ya yang mergokin Putri dan Romi, tungguin aja kelanjutannya.