
Pagi ini Embun sudah bangun dan kelihatan lebih baik, wajahnya sudah kemerahan tidak sepucat kemaren, bahkan batita cantik itu sudah meminta susu pada Bundanya, mendengar celoteh Embun yang sudah merasa baik Darma sedikit memicingkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.
"Gimana keadaan Embun?" ,Darma mendekat ke arah ranjang Embun, duduk di tepi ranjang yang berseberangan dengan Putri.
"Alhamdulillah sudah membaik, terimakasih untuk darahnya hingga bisa menyelamatkan Embun."
"Sudah jadi kewajibanku untuk membantu putriku sendiri," Darma mulai berinteraksi dengan batita yang bentuk wajah serta rambutnya memang mirip dengannya, apa lagi manik mata kebiruan milik mereka sama persis.
"Nda, Oom capa?" ,Embun mulai bersuara.
"Panggil Ayah, ya sayang," kata Darma dengan lembut.
"Ya---yayah?" ,Embun menatap Putri seperti meminta penjelasan, putri hanya menganggukkan kepalanya.
"Yayah, ndong." Darma melihat ke arah putri.
"Iya nanti Ayah pasti gendong Embun, asal minum obat dulu." Darma takjub pada Putri yang memahami bahasa ajaib Embun.
"Apakah Dia selalu susah minum obat ?" ,tanya Darma penasaran.
"Ya begitulah, namanya juga anak anak."
"Kata ibu, saat kecil aku juga susah minum obat."
Darma lalu mengambil tubuh montok Embun dalam gendongannya, tangan kirinya yang bebas menarik tiang penyangga infus, membawanya mendekat ke arah jendela supaya Embun bisa melihat suasanan di luar kamar.
Putri membereskan peralatan bekas sarapan juga obat obatan milik Embun, lalu bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri, mumpung tenang saat bersama Darma.
"Sayang, Bunda mandi sebentar ya, Embun sama Ayah jangan rewel," pamit Putri pada gadis kecilnya, Embun mengangguk sambil mengerjapkan mata indahnya, tangan mungilnya memainkan rambut Darma dengan tangan yang terbebas dari selang infus.
"Iya Bunda," suara Darma dibuat buat seperti anak kecil, putri tersenyum melihatnya lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Putri keluar dari kamar mandi, mendapati Embun sudah terlelap di gendongan Darma mungkin pengaruh obat yang diminumnya, diambilnya Embun dari gendongan Darma lalu membaringkan bayi montok itu di ranjang, Darma bergegas masuk ke kamar mandi, tak lama keluar dengan wajah yang lebih segar dan rambut setengah basah.
__ADS_1
"Put..."
Putri menoleh ke sumber suara, "Ya."
"Aku ke kantor dulu, nanti kembali ke sini, di depan ada pengawalku kalau butuh apa apa Kamu bilang aja ke dia."
"Pakai pengawal segala?"
"Embun kan Putriku."
"Tapi kan nggak perlu pakai pengawal segala, akan terlalu mencolok nggak en---"
"Aku nggak mau ada bantahan atau penolakan, Embun dan kamu sekarang jadi tanggung jawabku jadi keselamatan kalian prioritas utama buatku," Darma berkata dengan tegas.
Saat Darma memasang dasi langkahnya mendekat ke arah Putri, sorot matanya meminta pada wanita itu untuk membantu memasangkan dasi yang dipakainya, namun bunda Embun tidak terlalu peka.
"Bisa tolong pasangkan?" ,suara Darma menyadarkan Putri keheranannya.
Putru agak ragu menyentuh kain berwarna biru dongker yang melingkar di leher lelaki tampan itu, dirinya tahu jika pandangan Darma tidak sedikitpun beralih darinya.
Selesai memasangkan dasi pada krah kemeja Darma sesaat pandangan Putri bertemu dengan tatapan sendu netra Darma, berdua saling mengunci pandangan yang sulit diartikan, terasa lengan Darma melingkar di pinggang ramping Putri, sedikit menariknya untuk lebih merapat ke tubuh tinggi tegap milik Darma.
Lama mereka saling mengungkapkan rasa dalam diam hanya lewat tatapan mata keduanya, hingga terdengar rengekan Embun yang terbangun, segera Putri mendorong tubuh Darma lalu bergegas menuju ranjang Embun.
"Sayang, kenapa?" ,dengan sigap Putri mengganti celana Embun yang basah, membersihkan tubuh bagian bawah Embun, kembali memakaikan celana, semua yang di lakukan Putri tak lepas dari tatapan lekat seorang Darma Adi Wiraguna.
Sungguh sosok istri juga ibu idaman ,Darma bermonolog dalam hati dengan senyum yang tak lepas dari bibir yang selalu merah yang tak pernah tersentuh racun nikotin.
Darma pun beranjak dari tempatnya berdiri dan mendekat ke ranjang lalu dikecupnya kening juga kedua pipi putri kecilnya.
"Yayah ndong." kedua tangannya terulur ke arah Darma, dengan sigap lelaki tampan dengan rahang kokoh yang ditumbuhi bulu halus itu mengangkat tubuh Embun.
"Sayang sudah, nanti kemeja Ayah lungset." Putri mencoba meraih tubuh Embun dari gendongan Darma, karena tinggi Putri hanya sebatas bahu lelaki dihadapanya maka dirinya harus sedikit menjinjitkan kakinya.
__ADS_1
"Biarkan saja sebentar, iya kan gadis kecil Ayah," kata Darma sambil mengelitik perut Embun, tawa ceria batita itu terdengar mengisi ruang rawat.
"Ei yayah, ei...," entah kenapa Darma jadi begitu suka dengan wangi bayi yang menguar dari tubuh yang berada dalam dekapannya, wanginya tiba tiba jadi candu tersendiri untuk dirinya sejak mengetahui jika Embun adalah putrinya.
"Sayang sama Bunda dulu ya, Ayah mau berangkat kerja, Ayah janji nanti setelah makan siang segera kesini." Darma menyerahkan Embun dalam gendongan Putri.
"Jangan sering berjanji jika tidak tahu bisa menepati atau tidak, ucapkan insyaallah saja itu akan lebih bijak."
Darma menatap Putri tanpa jeda, ada rasa yang entah apa namanya, setiap menatap wajah teduh wanita yang sudah merawat darah dagingnya yang tak pernah dia ketahui sejak dua tahun terakhir.
Darma mengambil sling bag yang selalu menggantung setia di bahu kekarnya, mengecup puncak kepala Embun dan berpamitan pada Putri, saat Darma akan membuka pintu bertepatan dengan masuknya asisten Darma diikuti seorang wanita yang mungkin usianya di awal 40 tahunan, mereka membawa beberapa paper bag dan sekantong plastik buah juga ada diapers serta susu untuk Embun.
"Makanlah dulu biar Nia yang menjaga Embun," ucap Darma pada Putri, dirinya kembali mendekat lalu memperkenalkan Nia, Wanita yang datang bersama dengan Alfin asistennya.
"Nia akan membantumu menjaga Embun, dia sudah lama jadi pengasuh di keluarga kakakku, tapi sudah setahun tidak lagi bekerja karena keponakanku sudah besar besar, karena Embun membutuhkan pengasuh maka aku hubungi Nia," panjang lebar Darma menjelaskan kehadiran Nia tanpa lebih dulu berdiskusi dengan dirinya, bahkan sudah mengambil keputusan seenaknya sendiri, menjengkelkan sekali.
"Maaf sebentar." Putri menarik lengan Darma menjauh dari ranjang Embun supaya Nia tidak mendengar apa yang akan Putri bicarakan.
"Embun nggak perlu pengasuh, sudah ada aku juga Bu Wahyu." Putri melotot dan mengeratkan giginya saat mengatakan itu.
"Aku yang gaji Nia, Embun anakku dan Aku merasa jika Nia memang dibutuhkan untuk membantumu menjaga Embun, Put."
"Enggak, biar aku saja, aku masih bisa menjaganya."
"Lihat apa yang terjadi dengan Embun, saat kau tinggal bekerja? Emb---"
"Embun kecelakan juga tak lepas dari tingkah ugal ugalan adik kamu, INGAT itu! Pokoknya nggak ada pengasuh pengasuh segala," Putri memberi penekanan pada suaranya.
Putri melangkah kembali ke arah ranjang Embun, belum sampai tiga langkah lengannya tertarik ke belakang hingga membuat tubuh memutar dan membentur tubuh tegap Darma, mata Putri membola karena terkejut dengan tindakan Darma, didekatkan wajah lelaki itu ke telinga Putri lalu berbisik.
"Kalau Kamu menolak Nia, maka Embun aku ambil, bagaimanapun juga hasil DNA itu bukti kuat untuk mengambilnya darimu," ancam Darma dengan suara datar tapi terkesan dingin di telinga Putri.
🌈🌈🌈🌈
__ADS_1
kira-kira Darma beneran mengambil Embun dari Putri enggak ya?
tunggu di episode berikutnya.