
Darma merasakan sikap dingin Putri padanya setelah kejadian di cafetaria kemaren malam, bahkan hari ini bunda anaknya itu sudah meninggalkan Embun untuk kembali bekerja dengan menitipkan Embun pada Bu Nia tentu dengan pengawasan Bu Wahyu.
Sengaja Putri menceritakan pada Bu Wahyu tentang Darma yang sebenarnya Ayah biologis Embun dengan catatan hanya dirinya yang tahu bahkan Putri juga mewanti wanti supaya tetangganya itu tidak mencerikatan kebenaran tentang asal usul Embun bahkan pada anak dan suaminya.
Sepulang Putri dari tempat kerjanya Ia mampir ke rumah sebentar sekedar membersihkan diri dan beberes rumah yang sudah hampir seminggu di tinggalkannya, tak lupa Putri juga memasak untuk makan malam Bu Nia juga dirinya nanti di rumah sakit walau Ia tahu jika Darma pasti sudah membelikan makan malam untuknya juga Bu Nia, namun Ia rindu menikmati masakannya sendiri.
Kedatangan Putri ke kamar rawat Embun di sambut tatapan dingin sarat amarah milik Darma, namun dengan santainya Putri tidak menggubris hal itu, bahkan saat baru sampai langsung menimang gadis kecilnya yang sudah mulai mengantuk setelah terlebih dahulu cuci tangan tentunya.
Sikap cuek Putri menunjukkan seolah olah Darma tidak di ruangan itu justru Ia malah meminta Bu Wahyu mengajak pulang Bu Nia untuk sekedar beristirahat sejenak di rumah Putri.
Hal itu tentu membuat Darma meradang, Putri tetap dengan keputusannya Bu Nia terpaksa mengikuti saran majiakan perempuannya dengan ancama yang pernah diutarakan tentunya, Darma hanya bisa mendengus kesal membuat kemarahannya pada Putri semakin memuncak.
"Kenapa nekad masuk kerja? Nggak peduli sama Embun, kamu?" ,ucap Darma dengan nada penuh emosi setelah mereka hanya tinggal bertiga dengan Embun yang sudah terlelap dengan nyenyaknya.
"Brisik, nggak lihat apa Embun lagi tidur?"
"Jawab kenapa masih masuk kerja?" ,Darma semakin jengkel karena di acuhkan, di cengkeramnya lengan Putri dengan kasar.
"Sakit tahu, kalau nggak kerja mau makan apa kami?" ,dengan kasar pula Putri menepis cengkraman tangan Darma di lengannya.
"Sudah aku bilang pakai tunjangan dariku, apa susahnya? tahu anak masih sakit malah di tinggal kerja."
"Eh, Tuan Darma, sadar nggak Anda siapa, kenapa ngatur-ngatur hidup saya?"
"Kamu Bundanya anakku, aku berhak menentukan mana yang terbaik buat kalian, jadi nggak usah bantah, paham?"
"Darma maksudnya apa perkataan yang baru saja kamu bilang?" ,tiba-tiba sebuah suara mengejutkan dua orang yang sedang berdebat.
Seketika Darma dan Putri menoleh ke sumber suara, terlihat sepasang suami istri dengan karakter wajah yang salah satunya sangat mirip dengan Darma juga Embun.
__ADS_1
"Mama---Papa," Darma terkejut dengan kedatangan ke dua orang tuanya, terlebih Putri yang seketika keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya, ada ketakutan jika mereka akan mengambil Embun dari hidupnya.
"Darma tolong jelaskan apa maksud perkataanmu tadi tentang Anakmu juga Bundanya?" ,ucap tegas wanita paruh baya yang masih menampilkan kecantikan paripurnanya.
"Mama sama Papa kenapa nggak kasih kabar kalau mau kesini?".
"Nggak usah mengalihkan topik pembahasan Darma, jawab pertanyaan Mamamu!" ,tambah lelaki yang wajahnya mirip dengan Darma juga Embun.
"Duduk dulu Pa, Ma, nanti Darma jelasin."
Pak Gunawan Wiraguna memposisikan diri duduk di sofa sedang Bu Widya mendekat ke ranjang Embun, membelai kepala batita cantik yang sedang tertidur, sesaat wanita yang telah melahirkan Darma itu terkesiap saat menatap Embun, seperti melihat duplikat Darma saat masih seusia Embun.
Lalu ditatapnya gadis muda berjilbab yang sedang berdiri di sisi ranjang Embun yang berseberangan dengan tempat Bu Widya duduk. Putri hanya mampu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan pada wanita yang juga nenek Embun.
"Darma jelaskan semua yang tadi kami dengar," kata Pak Gunawan dengan tatapan menuntut pada anak lelakinya.
"Mah, Pah, ini Putri, Bundanya Embun, Papa juga Mama pasti sudah tahu kalau Embun adalah korban kecelakaan karena ulah Tristan yang ugal-ugalan setir mobilnya."
"Salam kenal Bu, Pak, saya Putri," kata Putri dengan di tuntun Darma untuk menyalami tangan kedua orang tua Darma secara bergantian.
Tentu dengan tangan yang masih melingkar di bahu Putri, orang tua Darma menyambut uluran tangan Putri dengan tatapan hangat bahkan Bu Widya sempat memeluk Putri dan mencium kedua pipi wanita yang sepertinya sudah membuat anak lelaki kebanggaan keluarga Wiraguna jatuh cinta.
Setelah sesi perkenalan antara Putri dengan kedua orang tuanya Darma lalu menceritakan semua tentang Embun yang ternyata adalah anaknya, tak bisa di tutupi lagi ada kilat kebahagiaan dari netra kedua orang tua Darma.
Anak lelaki mereka yang memang sudah cukup umur untuk berumah tangga namun belum ada tanda-tanda mengarah ke sana justru sudah memberikan cucu untuk keluarga mereka.
Bu Widya mengajak ngobrol Putri saat suaminya berbicara dengan anak lelaki mereka di luar kamar rawat, wanita yang masih terlihat cantik itu sangat terkesan dengan gadis yang sopan, lembut tutur katanya.
Tapi saat mengingat latar belakang Putri yang sudah yatim piatu juga janji Bu Widya yang sudah sepakat akan menjodohkan Darma dengan anak sahabatnya maka segera Ia berusaha untuk tidak begitu saja menerima wanita itu, terlebih lagi Embun.
__ADS_1
Bagaimanapun juga batita itu hasil hubungan gelap antara anaknya dengan wanita yang menjajakan kenikmatan tubuhnya, itu jelas sebuah aib untuk keluarga mereka.
Bu Widya segera beranjak dari tempatnya, lalu menjauh dari ranjang Embun dan bersikap acuh, perubahan itu terlihat kentara dimata Putri, ada apa ya? apa ada kata-kataku yang salah? kebingungan menyelimuti benak wanita berwajah teduh.
Daram juga Ayahnya memasuki ruangan setelah beberapa saat berbincang di luar, Bu Widya segera menghampiri anak dan suaminya, untuk mengutarakan apa yang ada dalam hatinya.
"Darma Mama tidak bisa menerima anak itu, walaupun dia darah daging kamu tapi dia terlahir dari perempuan yang nggak bener, hal yang pasti itu suatu kesalahan besar dalam hidup kamu." Bu Widya dengan tegas menolak Embun sebagai cucunya.
Putri yang mendengar perkataan wanita paruh baya tersebut seketika mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku tangannya terlihat memutih karena menahan emosi, gila kali ya tu orang ngomong begitu, umpatnya dalam hati.
Sakit hati Putri saat anak yang begitu disayangi dan tidak tahu apa-apa justru harus menerima penolakan karena kesalahan kedua orang tuanya.
"Ma, bagaimanapun juga Embun anak ku, darah yang mengalir ditubuhnya sama dengan darah kita Mah, Darma nggak bisa kalau harus membiarkan dia begitu saja." Darma meradang dengan penolakan Mamanya pada anak yang sudah terlanjur dicintainya.
"Keputusan Mama sudah bulat, berikan kompensasi saja pada ibunya sampai anak itu dewasa, kamu tidak usah menemui mereka lagi, kalau urusanmu sudah selesai segera pulang, Mama sudah mengundang Tante Sarah juga Vivian untuk makan malam."
"Ma, Mama nggak bisa perlakukan Darma dan anak ku seperti ini Ma, sekali lagi aku tegaskan, aku menolak perjodohan itu," suara Darma meninggi karena sudah tersulut emosi karena Mamanya.
"DARMA! mau jadi anak durhaka kamu, AYO PULANG!"
"Tolong silahkan keluar, kalian sudah mengganggu istirahat anak saya kalau mau bikin keributan jangan di ruangan ini," Putri yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan antara Darma dengan Ibunya hingga membuat Embun terusik dari tidur lelapnya mulai bersuara.
Putri memang menjadi tidak nyaman setelah orang tua Darma terang terangan menolak Embun, bagai manapu juga batita tak bersalah itu adalah anaknya, dirinya tidak akan membiarkan jika ada yang menyakiti gadis kecilnya walaupun itu orang yang darahnya sama dengan Embun.
Kembali dirinya mengalami kekecewaan juga hinaan dari orang kaya, dirinya berjanji dalam hati jika tidak akan mengenal orang kaya seperti keluarga yang baru saja menorehkan luka dihatinya, kebenciannya pada keluarga Darma semakin menumpuk.
🌈🌈🌈🌈
Gimana ya akhirnya sikap Putri kepada keluarga Darma? tunggu kelanjutannya ya.
__ADS_1