Tertambat Cinta Ayah Anakku

Tertambat Cinta Ayah Anakku
Part 11


__ADS_3

Hampir magrib Putri baru menyelesaikan pekerjaannya, tak seharusnya dirinya lembur hari ini, karena pekerjan juga tidak terlalu menumpuk, sengala ia pulang terlambat untuk menghindari Darma yang masih bertahan di rumahnya sampai saat ini.


Kembali ponsel Putri bergetar, Bu Nia kali ini yang menghubunginya, mau tidak mau harus diterimanya, takut kalau kalau ada yang penting, segera di gesernya tombol berwarna hijau yang tertera di layar ponselnya.


"Assalamualaikum, ada apa, Bu?"


Alaikumsalam Mbak, maaf mengganggu, ada Bapak, dari tadi siang nunggu Mbak Putri.


"Sudah biarkan saja Bu, selama nggak bawa Embun pergi, sebentar lagi saya pulang, titip Embun ya Bu."


Baik Mbak, assalamualaikum


"Alaikumsalam."


Resah dan enggan pulang masih merajai hati Putri, malas bertemu dengan lelaki yang telah menoreh luka dihatinya, namun rasa kangen pada buah hatinya mengalahkan keegoisan yang menggunung.


Masalah bukan di hindari Put, hadapi, selesaikan, jangan jadi pecundang, kata hati Putri.


Selepas menjalankan solat magrib, Putri bergegas pulang, tak butuh waktu lama motor matic cc besar sudah terparkir di halaman rumahnya, bersisihan dengan mobil sport hitam milik Darma.


"Assalamualaikum." Putri mencoba bersikap senetral mungkin.


"Alaikumsalam." Darma membukakan pintu dengan masih menggunakan peci juga kain sarung, dapat dipastikan kalau lelaki itu baru saja selesai solat.


"Kenapa baru pulang?" Damar menuntut penjelasan lewat tatapannya.


"Lembur," singkat Putri menjawab.


"Kenapa nggak angkat telepon dari aku, balas chat pun enggak."


Putri hanya menatap sekilas pada lelaki yang terus membututinya demi meminta penjelasan darinya, lelah saat ini yang hanya ia rasakan, ingin segera merebahkan tubuhnya sambil memeluk gadis kecil kesayangannya.


"Bu, Embun mana?" tanya Putri pada Bu Nia, karena tidak mendengar suara batita menggemaskan saat pulang tadi.


"Embun sudaj tidur Mbak, mungkin kecapean, dari siang main sama Bapak," terang Bu Nia.


"Ya sudah, saya mandi dulu, bisa minta tolong bikinkan wedang jahe Bu, badan saya rasanya nggak enak."

__ADS_1


"Baik Mbak."


Segera Putri masuk ke kamarnya, untuk bersih bersih, tanpa disadarinya ada seseorang yang memperhatikan juga mendengar pembicaraannya dari ruang tengah.


"Bu, biar saya saja yang bikinkan," Darma mendekati Bu Nia yang sedang membakar jahe.


"Tapi Pak..."


"Sudah nggak apa apa, Ibu istirahat saja, biar sata yang siapin wedang jahe juha makan malam untuk Putri."


"Baik Pak, saya permisi." jujur Bu Nia merasa heran dengan sikap Darma, sangat jauh berubah dari saat dulu dirinya masih bekerja pada kakaknya Darma.


Selesai dengan aktifitasnya di kamar, Putri keluar lalu mencari Bu Nia untuk meminta wedang jahenya, namun tak ditemukannya pengasuh Embun itu, namun aroma jahe rempah sudah menguar di seluruh ruangan.


"Minum dulu," suara Darma cukup mengejutkan Putri saat ia masuk ke dapur.


"Bu Nia mana?" masih dengan nada dingin tanpa ekspresi di tunjukkan Putri.


"Aku suruh istirahat."


"Put, tolong dengarkan penjelasanku tentang kejadian tadi siang, aku dan Naoumi baru dua kali bertemu, nggak ada tunang tunangan," Darma mencoba membela diri dengan menjelaskan apa yang terjadi.


"Saya tidak perlu mendengar penjelasan apapun, tahu kan pintunya dimana?" kembali Putri meminta Darma pergi dari rumahnya.


"Put, dengar penjelasanku, aku nggak akan pulang sebelum salah paham ini clear," sifat pemaksa juga egoisme Darma mulai muncul lagi.


"Sudah saya katakan tadi, saya nggak butuh penjelasan apapun dari Anda," Putri mulai terusik emosinya karena kengototan lelaki yang hari ini sudah menerbangkannya begitu tinggi lalu menghempaskan tanpa ampun.


"Belum cukup Anda mempermainkan perasaan saya selama ini, Anda tiba tiba masuk dalam kehidupan saya, memanjakan saya juga anak saya, memberikan semua kemewahan, fasilitas bahkan hari ini Anda memberikan perhatian lebih pada saya, namun semua itu hanya untuk mempermainkan perasaan saya," air mata sudah tidak bisa terbendung lagi, rasa pedih mendominasi hati Putri yang hancur.


"Put, aku tulus, aku sayang Embun bahkan aku menyayangi kamu sejak malam pertama kita menjaga Embun di rumah sakit, lihat aku, Naoumi itu cuma rencana mama."


"Cukup! tolong keluar dari rumah saya sekarang juga, dan jangan pernah ganggu kehidupan kami lagi," teriak Putri pada lelaki yang masih ingin meluruskan kesalahpahaman.


"Atau malam ini juga kita menikah, biar kamu yakin dengan perasaan juga ketulusanku," Darma mencoba memberi solusi


"Gila, Anda memang sudah gila, cukup Pak Darma Adi Atmaja, tolong hargai perasaan saya." di dorongnya tubuh kekar Darma keluar dari rumahnya, segera menutup dan mengunci pintu bahkan pintu hatinya juga terkunci lagi.

__ADS_1


Hancur hati Darma, melihat wanita yang disayang menangis karena perbuatannya, dirinya sadar jika ia telah menoreh luka di hati Putri, kenapa ia bisa seceroboh itu hingga harus menghancurkan hubungan yang baru mau di bangun.


Di balik pintu tubuh Putri luruh, tangisnya semakin menjadi, sakit sekali batinnya jika mengingat kejadian tadi siang, dirinya merasa di bohongi lelaki yang di sayanginya.


"Kenapa Mas, kenapa harus memberikan harapan jika harus kau renggut paksa lagi, apa salahku Mas, sampai harus kau sakiti seperti ini," rintih Putri menyesali karena terlalu terbawa perasaan pada Darma.


Dirinya tak pernah menyangka jika lelaki yang merupakan ayah anaknya itu begitu tega mempermainkan perasaannya, menghancurkan segala harapan dan impiannya, bagaimana perasaan Embun setelah kejadian ini.


"Oh... sungguh tega kamu Mas!" kembali Putri menjerit lirih.


Tak bisa dibayangkan jika Embun akan selalu menanyakan ayahnya, apa yang harus di jawab jika batita itu terus menanyakan Darma, kepalanya seketika berdenyut nyeri, hingga semua terasa gelap.


🌸🌸🌸🌸


Aroma kayu putih menusuk indra penciuman Putri, kesadarannya kembali perlahan namun pasti, matanya membuka dengan menyipit, menyesuaikan cahaya yang masuk kedalamnya, ada Bu Nia duduk di sebelahnya.


"Alhamdulillah, Mbak Putri sudah sadar," ucap Bu Nia.


"Minum dulu Mbak, biar agak enakan," kembali Bu Nia bersuara sambil menyerahkan air putih hangat pada Putri.


"Saya kenapa Bu, pusing sekali rasanya."


"Mbak pingsan tadi setelah Bapak pulang." Putri mencoba duduk di bantu Bu Nia.


"Bu, Embun mana?"


"Embun masih tidur Mbak, maaf ya Mbak istirahat saja, biar besok bisa lebih fresh," saran Bu Nia.


"Ya sudah Bu, saya mau ke kamar dulu, tolong di cek pintu juga jendelanya, takut kelupaan belum di kunci."


"Baik Mbak."


Bu Nia menetap punggung majika wanitanya dengan tatapan iba, "Yang sabar ya Mbak," ucap Bu Nia lirih.


🌈🌈🌈🌈


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2