Tertambat Cinta Ayah Anakku

Tertambat Cinta Ayah Anakku
Part 3 Terungkapnya Kenyataan


__ADS_3

Masih dengan rasa penasaran yang menari dibenaknya, Darma berjalan menuju pavilium Flamboyan, tempat Embun dipindahkan setelah dari UGD, terbayang wajah cantik bayi berbadan montok dan berkulit bersih, entah mengapa hatinya merasa tercubit.


Setelah berada di dalam ruangan dengan fasilitas mewah, dengan dinding bergambar beberapa kartun karakter kesukaan anak-anak, bahkan di sudut ruangan ada mini playground, ada lego, kuda-kudaan, hingga ayunan mini.


Damar menatap Embun dan Putri secara bergantian, bayi perempuan dengan tubuh montok dan pipi gembil serta bentuk wajah yang berbeda dengan Putri, terutama bentuk hidung Embun yang kecil namun mbangir, terlihat jika Embun ada darah keturunan Indo.


Rasa penasaran tentang kedua mahluk cantik dua generasi yang berada di hadapannya membuat keplanya sedikit pening, ya walaupun rasa pening di kepalanya sudah mendera sejak selesai proses pengambilan darah untuk Embun.


Merasa ada yang memperhatikan Putri memandang ke arah Darma, sejenak mereka saling lempar tatapan yang sulit diartikan. "Ada apa?" ,tanya Putri pada lelaki yang entah siapa namanya.


Damar mendekat ke arah ranjang tempat Embun berbaring, di usapnya kepala bayi cantik itu perlahan, lalu di kecupnya kening yang terbalut perban, turun ke dua pipi gembil milik Embun, Putri menyaksikan apa yang di lakukan Damar dengan takjub.


"Maaf, dari tadi aku belum sampat menanyakan namamu?"


"Putri Maharani, maaf, saya juga kurang jelas saat Anda memperkelankan diri tadi."


"Darma Adi Wiraguna, terserah mau panggil apa."


Keheningan kembali menyelimuti ruangan yang didominasi warna biru, Putri mengusap lembut kepala Embun, sambil bersolawat untuk sedikit menenangkan hatinya yang masih risau karena kondisi malaikat kecilnya masih belum bangun juga.


"Tidurlah, biar aku yang menjaganya" ,tiba-tiba Damar meminta Putri untuk beristirahat.


"Tapi..."


"Masih belum percaya padaku? atau takut jika aku mencelakai Embun?" ,pertanyaan yang cukup mengusik pendengaran Putri.


"Bukan begitu, takut kalau Embun bangun sewaktu-waktu," jawab Putri beralasan.


"Nanti kalau Embun bangun, aku bangunkan kamu, dari tadi siang kamu sama sekali belum istirahat, nanti kita bergantian menjaga Embun."


"Baiklah, titip Embun." Putri bangkit dari kursi yang terletak di samping ranjang Embun dan merebahkan diri di sebelah Embun.


"Kenapa tidak di ranjang itu ?" Darma menunjuk ranjang khusus yang disediakan untuk beristirahat keluarga pasien.


"Aku terbiasa tidur dengan Embun seperti ini, pakaliah untuk beristirahat jika kamu lelah, kamu juga seharian menemani kami, bahkan darahmu pun sempat diambil untuk Embun, jadi tidurlah."


"Iya nanti."


"Put.."


"Hmm..."

__ADS_1


"Sudah mau tidur belum?"


"Ada apa?"


"Boleh tanya sesuatu?"


"Hmmm..." ,Putri menjawab asal karena jujur saja Ia sudah mengantuk dan tubuhnya pun sangat letih.


"Ayah Embun dimana ?" ,jujur Putri sudah siap jika Darma menanyakan hal itu, namun tetap saja membuatnya terkejut karena Darma menanyakan hal itu sekarang.


Putri kembali memposisikan dirinya duduk di sisi bawah kaki Embun, Darma pun menggeser bangkunya ke sisi yang sama, sesaat Putri menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Darma.


"Aku tidak tahu dimana, dia."


"Kenapa bisa begitu?"


"Ya karena memang aku nggak tahu, di mana ayah Embun."


"Maaf apa kita pernah bertemu sebelum ini ?" ,Putri mengernyitkan dahinya.


"Maksudku apa kita pernah melakukan ONS ?" ,wajah Putri semakin dipenuhi tanda tanya serta ketidak pahaman dengan apa yang ditanyakan Darma.


"Bukan begitu maksudku, maaf jika menyinggung perasaanmu." Darma merasa tidak nyaman karena telah menyinggung perasaan wanita cantik di hadapannya.


"Aku menemukan Embun 2 tahun yang lalu, saat pulang dari makam anakku, saat itu ada seorang bayi yang diletakkan begitu saja di depan rumah Bu Wahyu, warga pun sepakat agar aku bisa merawat Embun."


"Kenapa tidak lapor polisi?"


"Malas berurusan dengan petugas, lagian sampai detik ini tidak ada yang mencari Embun, apa lagi merasa kehilangan bayinya."


"Dokumen Embun atas nama Kamu?"


"Iya, sebelum menemukan Embun, aku memang sempat hamil tetapi anakku meninggal saat aku mengalami kecelakaan, aku menganggap Embun sebagai pengganti anakku," Putri terus bercerita dengan pandangan menerawang, Darma semakin kagum dengan sosok yang tepat duduk di hadapannya.


"Maaf, suamimu?"


"Aku belum menikah, aku hamil karena di perkosa atasan tempatku bekerja dulu, sudahlah nggak usah dibahas nggak penting," Putri kembali merebahkan tubuh lelahnya di samping bayi mungil yang masih tertidur dengan nyenyaknya.


"Bagaimana bisa, DNA Embun cocok dengan DNA-ku ?"


"Maksudnya?" ,Putri terkejut, seketika bangun keposisi semula, gerakan Putri yang tiba-tiba membuat Embun terjengkit kaget, ditepuknya pelan pantat bayi yang menggemaskan, sesaat Embun sudah terlelap lagi.

__ADS_1


Putri turun dari ranjang dan mendekat ke arah Darma yang sedang berdiri di depan jendela, menikmati suguhan pemandangan lampu lampu dari bangunan di sekitar rumah sakit, serta jalanan yang masih terlihat ramai arus lalu lintasnya.


Darma mengeluarkan sebuah amplop yang di sisi atasnya tertulis identitas rumah sakit tempat Embun di rawat saat ini, lalu memberikannya ke pada Putri, diterimanya amplop lalu mengeluarkan secarik kertas putih dari dalamnya. Putri menatap lekat pada manik mata Darma, setelah membaca isi tulisan yang memang menyatakan hasil DNA Embun dan Darma cocok.


"Apa kamu mau mengambil Embun ?" ,entah kenapa kata tanya itu yang keluar dari bibirnya. Putri merasa ketakutan jika harus berpisah dengan Embun.


"Bagaimana aku bisa mengambil Embun, sedangkan menikah saja belum." Darma menatap lekat pada wajah ayu yang ada di depannya.


"Terus hasil DNA ini, bagaimana ?"


"Mungkin saja Embun memang anakku."


"Tapi Kamu bilang belum menikah, apa mungkin...."


"Oke, aku memang player, lebih sering melakukan one night stand dengan beberapa wanita, bisa jadi salah satu diantara mereka ada yang hamil."


"Kalau memang wanitamu ada yang hamil, kenapa kamu nggak tanggung jawab ?"


"Mereka tidak akan berani menuntut, karena aku tidak suka terikat, apa lagi berkomitmen."


"Ish, laki-laki memang mau enaknya saja, giliran suruh tanggung jawab, menghindar."


"Hei...., jangan hanya menyalahkanku, salahkan mereka juga kenapa begitu saja mau aku ajak tidur."


"Karena pesonamu yang memang luar biasa." ,Putri berguman lirih sambil membuang muka ke arah lain.


"Aku mendengarnya, aku memang mempesona," ucap Darma dengan senyum smirk-nya.


"Ck, pede banget, dasar laki-laki sengklek." Putri menjauh dari tempat duduknya dan kembali merbahkan diri di samping Embun.


"Akui saja ketampananku ini," Darma berkata lembut di telingan Putri, hal itu membuat dirinya terkejut, melemparkan bantal pada lelaki yang tersenyum puas karena bisa menggoda bunda anaknya.


Darma langsung beranjak meninggalkan ranjang Embun untuk membaringkan tubuh letihnya di ranjang khusus keluarga pasien, setelah meletakkan bantal yang ditangkapnya di bawah kepala Putri.


Pagi ini Embun sudah bangun dengan kondisi terlihat lebih baik, wajahnya sudah kemerahan, tidak sepucat kemaren, bahkan batita cantik itu sudah meminta susu pada Bundanya.


Mendengar celoteh Embun yang sudah membaik Darma sedikit memicingkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya.


🌈🌈🌈🌈


Tunggu kisah selanjutnya ya.

__ADS_1


__ADS_2