The Isekai Project

The Isekai Project
Awal di pertengahan


__ADS_3

Malam ini hujan lebih deras dari pada biasanya, suhu disini sangat dingin dan kabut memenuhi tempat ini.


Ini tidak seperti biasanya, di beberapa tempat bahkan hujan tidak terlihat seperti air.


Rumah sakit dipenuhi dengan orang orang penderita kanker.


"Mungkin saya harus berhati hati jika bernapas dan mengonsumsi sesuatu"


Beberapa saat kemudian terdengarlah suara seseorang membuka pintu toko.


Seseorang tersebut merupakan Polisi yang sedang berpatroli di sekitar sini.


"Halo, selamat datang di WakanMaret ada yang bisa saya bantu pak?"


"Ya, saya mau bertanya apakah anda pernah melihat seseorang yang memakai jaket hitam dan topeng hitam disekitar sini?"


"Mohon maaf saya tidak melihat seseorang yang memakai jaket dan topeng hitam."


"Oh, begitu ya, maaf mengganggu"


Lalu polisi tersebut datang ke arahku dan menanyakan hal yang sama seperti yang dia katakan kepada kasir.


"Mohon maaf mengganggu waktunya nak."


"Iya, tidak apa apa pak."


"Jadi nak, saya mau nanya apakah kamu pernah melihat seseorang yang mencurigakan dia memakai jaket hitam dan topeng hitam."


"Tidak.... saya tidak pernah melihat orang seperti itu."


"Oh... jadi begitu okelah, semoga sehat selalu ya"


"Ya"


Lalu polisi tersebut pun keluar dari toko ini.


Aku akan menunggu disini sampai hujan reda.


3 jam memudian.


sudah berjam jam aku duduk disini tetapi hujan tak kunjung reda.


Lalu seorang perempuan terlihat memasuki toko ini.


"Oh, hai kamu Hanan kan?"


"Emm... ya... ak..u Ha..nan" aku mengatakan itu sambil mengalihkan pandanganku.


"Lama gak ketemu ya."


"I, iya"


"Sudah empat tahun loh! Kamu masih saja pemalu seperti itu."


"..."


"Kamu nunggu hujan reda ya?"


Aku menganggukkan kepalaku menandakan itu artinya iya.


Kemudian dia duduk tepat disampingku, Itu membuatku semakin gugup.


"Hei, gimana kabarmu sekarang?"


"Baik" kataku dengan suara yang pelan.


"Hah! Aku gak dengar."


"Baik"


"Apa?"


"Baik!!!!"


"Haha, lain kali kalau berbicara dengan orang lain kamu harus mengeluarkan frekuensi suara yang dapat didengar oleh manusia normal." Kata perempuan itu sambil mengeluarkan nada bercanda.


Enak aja nyuruh orang untuk menyalahi kodratnya.


"Kamu masih ingat namaku kan?"


Aku menganggukan kepalaku lagi.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu coba sebutkan namaku dengan volume suara yang dapat didengar oleh manusia"


Aku menarik napasku dalam dalam dan mencoba memberanikan diri untuk menyebutkan namanya.


"Aulia!"


"Hah? Sekali lagi!"


"Aulia!!!"


"Benar sekali, ternyata kamu masih ingat, kukira kamu sudah lupa namaku."


Diapun kemudian kembali berdiri dan ingin mengatakan sesuatu namun dia tidak jadi mengatakannya. Tapi sepertinya saya tau apa yang ingin dia katakan.


"aku hampir lupa kalau aku harus berbelanja bahan makanan disini. Oh, iya juga, bagaimana jika kamu kuantarkan pulang karena sepertinya kamu sudah lama duduk disini sambil menunggu hujan reda."


"Gak usah, aku gak mau ngerepotin."


"Tenang gak ngerepotin kok!"


"Wah lumayan dapat tumpangan gratis." Pikirku


"Kalau memaksa begitu baiklah"


"Wah sudah berani bicara ternyata"


Diapun berbelanja beberapa barang kebutuhan. Walaupun aku tidak mengetahui apa saja yang dia beli karena aku sedang asik dengan ponselku.


"Hei, aku sudah selesai membeli barang barang yang kubutuhkan, jadi aku akan mengantarkan kamu pulang ya."


Aku dan Aulia pun keluar dari toko itu. namun, belum 5 meter aku berjalan keluar dari pintu tiba tiba ada seseorang yang memakai jaket dan topeng hitam berlari menuju kearah ku dan aku yang belum sadar ada orang yang sedang berlari tiba tiba saling menabrak, aku dan orang yang sangat misterius itupun terjatuh.


"Maaf, aku tadi tidak melihatmu berlari, Semoga kamu tidak terluka."


Namun, tanpa tahu apa itu sopan santun orang aneh itupun bangun dan tetap berlari menuju ke dalam minimarket.


"Orang itu sangat mirip seperti yang diberitahukan oleh polisi itu, apakah dia seorang penjahat?" Pikirku


"Hanan kamu tidak apa apa kan? Kamu tidak terluka kan?"


"Tenang aku hanya sedikit lecet."


"Oke, baiklah."


"Tapi bodo amat lah, aku tidak terlalu mempedulikannya, yang penting aku harus cepat pergi dari sini." Pikirku


Mobil Aulia pun pergi menjauh dari minimarket tersebut dan kami mengisi waktu dengan berbincang bincang sebentar di dalam mobil.


"Sekolah masih baik?"


"I,iya"


"Oh"


"..."


"..."


Kami pun diam karena tidak tau hal apa yang harus dibicarakan.


"kenapa jadi akward momen gini dah" pikirku


"Hei, kamu masih ingat Erika dia dulu anak yang sangat ceria ya" kata Aulia seperti ingin mengembalikan suasana.


"I,iya"


*Yaampun\, jangan mengingatkan ku dengan bangkai dong aku jadi ngeri mengingatnya*


"Disini sangat berkabut dan licin, jadi kamu harus fokus menyetir jangan mengobrol terlebih dahulu."


"Oh, baiklah bos"


"kalau dipikir lumayan aneh juga ya, kalau kabut dibarengin ama hujan" pikirku


2 menit kemudian


"Mau mampir ke rumah ku gak?" Kata Aulia sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Gak, gak usah saya langsung pulang aja"


"Ayolah, mampir bentar kerumah temanmu ini, lagipula aku tinggal sendiri di rumah"

__ADS_1


"Hah? Apa? Seriusan nih?" Pikirku


"Tidak, tidak usah karena ada tugas yang harus kukerjakan sekarang"


"Oh, begitu ya, tapi lain kali kamu mampir kerumah ku ya! Kamu masih ingatkan alamatnya di mana?"


"Iya tentu saja"


"Nah itu dia kita sudah sampai di apartemenmu."


"Terima kasih ya sudah mau mengatarkanku."


"Iya sama sama, lagipula dengan melihat apartemen itu mengingatkanku kembali dengan, kakakku si Erika itu."


"Lebih baik jangan mengingat Erika disini karena tidak ada hal membahagiakan tentang Erika di tempat ini."


"Kalau begitu saya pamit ya"


"Eh, iya"


Apartemen ini adalah tempat Erika terbunuh.


Aku tidak ingin memberitahu apa penyebab Erika terbunuh seperti ini, karena ini adalah privasi mereka.


Kuberitahu hanya sedikit.


3 Tahun lalu aku terakhir kali bertemu dengannya di Taman dekat sini mukanya terlihat sangat pucat.


Dan 5 hari yang lalu aku menemukan nya di ruang apartemen temanku dalam keadaan tidak bernyawa dengan kelopak mata yang dijahit agar terbuka sambil memegang koran, dengan kamera didepannya.


"Heh, mau tidur aja keinget itu terus gua."


Terdengar suara tembakan diluar.


Itu membangunkanku dari tidurku.


Disaat terbangun entah mengapa kepalaku sangat sakit.


"Sekarang ada apa dengan dunia? Banyak hal aneh terjadi, sekarang apalagi? Dan juga ini masih malam loh!"


Akupun mengambil sebuah Pistol dan Sliding knife dari dalam laci.


Tak lupa juga aku memasang rompi dan helm anti peluru untuk melindungi tubuhku.


"Sialan kalian, bego!"


Lalu seseorang menembaki kaca apartemenku.


Dengan tenang akupun berpikir.


"Sial, aku terpaksa harus ganti rugi sama pemilik apartemen sialan itu"


Namun, entah apa yang terjadi waktu terasa semakin melambat peluru yang kutembakan pun juga melambat.


Semakin lama semakin lambat dan sekarang seolah olah waktu sudah berhenti, tepat disaat sebuah peluru mengenai mataku.


"erghh, aku tidak dapat menggerakan tubuhku namun pikiranku tetap sadar"


"Apakah aku akan mati ditempat seperti ini?"


"Sial, seharusnya aku lebih berhati hati ketika berlari"


Namun dengan perlahan waktu kembali bergerak.


Tetapi mengikuti waktu yang kembali bergerak setiap warna, bentuk, dan cahaya yang kulihat juga secara perlahan berubah.


Cahaya semakin redup.


"Gelap! Dimana ini? Napasku sesak!"


Lalu tepat di pipiku terdapat sesuatu yang menempel teksture nya seperti daging, basah dan bau.


aku dapat merasakan cairan yang keluar dari benda menjijikan ini dan itu masuk kedalam mulutku.


dan aku menyadari kalau cairan ini adalah darah.


Itu membuatku sangat panik aku memukul papan kayu yang ada tepat didepan wajahku.


Namun, ketika aku memukul papan itu yang keluar dibalik celah papan hanyalah pasir.


"Sepertinya aku dikubur hidup hidup bersama seorang mayat." Pikirku

__ADS_1


__ADS_2