
Suasana menjadi hening, apalagi disaat tiba tiba saja secara ajaib aku menyadari apa yang barusan kulakukan pada Cornelio.
Rasanya seperti aku mempunyai dua jiwa yang berbeda, aku merasa seperti tubuhku dikendalikan oleh orang lain.
Aku juga masih melihat Sendy terus menangis sambil memeluk ibunya yang telah tewas.
"Oh, iya, aku lupa kalau aku baru saja membiarkan kepribadian jahatku keluar, Ini sudah berkali kali terjadi." Gumamku
Aku kemudian keluar dari rumah dan kaget, aku baru menyadari dan merasa jijik dengan semua tubuh yang gosong seperti sebuah arang.
Aku mengarah ke mobil Cornelio yang telah hancur lebur, dan menyingkirkan puing mobil yang mungkin menutupi tubuh Cornelio.
Aku tidak menemukan tubuh Cornelio disini, mungkin tubuhnya sudah menjadi abu, atau mungkin sudah gosong dan tidak dapat dikenali.
Aku duduk di jalan yang dipenuhi dengan debu, dan menutup kedua mataku dengan lengan bajuku.
Jari telunjukku yang gosong tiba tiba hancur disaat aku menutup kedua mataku dengan lengan baju kananku.
Aku pergi menuju rumahku lagi dan melihat Sendy masih menangisi Ibunya, aku tidak bisa menenangkannya.
Tapi aku tetap mencoba untuk menenangkan Sendy dengan mengatakan "Berhentilah menangis gadis kecil. Kau harus tetap kuat karena orang disekitarmu bisa sedih melihatmu seperti ini. Jika kau masih menangis, maka aku akan memberikanmu sebuah cincin yang mungkin akan membuatmu senang. Jika kau tidak menyukainya, maka aku akan memberikanmu peliharaan yang dapat menghiburmu. Tapi, jika kau masih menangis, maka aku akan mempertemukan kembali kamu dengan ibumu. Aku hanya ingin kau berhenti menangis dan melihatmu tertawa, bagaimanapun caranya." Ucapku dengan nada yang menenangkan.
"Bagian terakhir kok kayak kata kata psikopat ya?" Pikirku
Sendy berhenti menangis, dan aku kemudian mengelap air matanya menggunakan tisu yang ada di meja.
Aku membantunya berdiri dengan menggunakan tangan kananku dan dia mengatakan "Tanganmu sekarang sudah tidak terasa sakit, tapi lukamu semakin parah!"
"Hehe, benarkah? Mungkin sekarang aku harus segera diamputasi." Ucapku sambil tersenyum seolah ini adalah hal yang tidak serius.
"..."
Dia diam tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Sepertinya tim bantuan akan lama datang, karena mereka khawatir dan curiga kenapa semua tentara yang ada disini tiba tiba menjadi gosong. Mereka juga tidak bisa mengirimkan drone kesini, karena semua peralatan elektronik tidak bisa aktif." Ucapku kepada Sendy
"Jadi dimana cincinnya?" Tanya Sendy kepadaku
"Hah?! Cincin? Aku tidak punya!"
"Tadi kau bilang jika aku berhenti menangis aku akan diberi sebuah cincin."
"Eh, aku tidak pernah bilang begitu! Aku tadi bilang jika kau masih menangis aku akan memberimu sebuah cincin!"
Dia pun kemudian kembali menangis, walaupun aku tau kalau dia hanya berpura pura.
Aku kemudian segera berlari ke lantai dua dan masuk ke kamar Cornelio.
Aku mengambil cincin pernikahan Cornelio di laci dan aku juga menyempatkan diri untuk mengambil kartu kredit Cornelio karena siapa tau akan berguna.
Aku kemudian kembali turun ke lantai satu dan memasukan cincin itu ke jari manis Sendy menggunakan jari tengah dan ibu jariku, dia terlihat senang ketika aku memasukannya.
__ADS_1
"Aku yakin Cornelio akan melakukan hal yang sama kepada seorang anak kecil." Gumamku
"Heh?! Anak kecil? Kau sendiri adalah seorang anak kecil!" Ucap Sendy kepadaku.
"Oh, benarkah? Aku lupa kalau aku baru berumur enam tahun."
"Haha! Aku lebih tua darimu! Aku sudah berumur sembilan tahun, Dan kau harus memanggilku kakak!" Ucap Sendy kepadaku dengan ekspresi yang sepertinya dia sudah melupakan tentang ibunya.
"Yah tentu saja, kakak!"
"Aku sudah menghapus semua ingatan negatif yang baru saja dia lihat. Sekarang dia tidak akan menjadi anak yang depresi dan selalu murung" Pikirku
Aku menoleh ke arah jendela dan aku tidak sengaja melihat sesosok hitam bebentuk seperti manusia mengintipku melalui jendela yang pecah dengan wajahnya yang mengerikan.
Orang itu memiliki tubuh yang sangat hitam, bibirnya sangat merah dengan matanya yang bulat sempurna. Wajahnya terlihat sedang murung sambil menatapku dengan sangat tajam.
"Sepertinya bayangan itu adalah teman masa kecil Cornelio, mungkin sekarang aku harus lebih berhati hati." Pikirku
"Hei! Kenapa kau bengong?" Ucap Sendy kepadaku dengan wajahnya yang sepertinya kebingungan.
"Oh! Tidak apa apa!"
"Baiklah kalau begitu!" Ucap Sendy sambil tersenyum
Aku melihat kembali ke arah jendela itu, namun bayangan itu telah menghilang.
Tanpa mempedulikan hal itu aku kemudian mengatakan "Bagaimana kalau kita membuat tanda SOS atau mungkin sebuah asap untuk mendapatkan bantuan!"
Aku tidak ingin membuang buang waktuku untuk menjelaskannya (Sebenarnya karena Authornya malas untuk riset dan mencari tahu apa itu SOS)
Tapi aku akan tetap menjelaskannya "SOS adalah kode berupa suara ataupun huruf yang digunakan untuk memberitahu orang orang atau pihak tertentu jika kita sedang dalam bahaya, terjebak dan lain sebagainya." Ucapku tanpa melihat di internet terlebih dahulu untuk memastikannya.
"Oh, begitu ya! Aku ingin melihatmu membuat kode SOS!" Ucap Sendy
Aku kemudian keluar dari ruangan ini dan menuju ke tengah jalan raya yang terbuka dan kosong.
"Oh, aku lupa mengambil cat!" Ucapku
Aku menuju ke toko cat yang ada di dekat situ dan mengambil/mencuri cat berwarna kuning.
Aku kembali menuju ke jalanan luas yang terbuka itu dan menulis SOS yang lumayan besar di jalanan itu (Merusak fasilitas umum).
"Mungkin ini sudah cukup! Sekarang aku tinggal menunggu bantuan yang tentu saja dari negaraku untuk membantuku." Gumamku
"Eh! Tunggu! Apakah aman menulis SOS ditengah peperangan? Entahlah, yang penting coba saja." Pikirku
Kemudian Sendy menarik lengan bajuku dan dia bertanya padaku "Apakah kita kali ini akan selamat?"
"Tentu saja!" Jawabku
"Eh, tunggu! Kenapa Sendy seperti biasa biasa saja melihat semua mayat yang ada disini, tanpa menyinggungnya sama sekali!" Pikirku
__ADS_1
"Eh, kau tidak takut melihat semua ini?" Tanyaku kepada Sendy
"Takut! Sangat ketakutan! Tapi aku memaksakan diri untuk tidak merepotkanmu." Ucap Sendy sambil tersenyum.
"Apakah ini efek samping dari aku menghapus beberapa ingatan negatif nya? Mentalnya terlalu kuat untuk anak seusianya!" Pikirku
"Eh, sebaiknya kamu tetap di rumah saja! Aku akan mengantarkan kamu kesana!" Ucapku kepada Sendy
"Baiklah!" Ucap Sendy sambil tersenyum
"Dari tadi dia terus tersenyum, apakah dia menahan ketakutannya sambil tersenyum?" Pikirku
Aku kemudian mengantarkan Sendy menuju ke rumah karena jalanan ini cukup dekat dengan rumah.
Namun ketika dalam perjalanan aku terpikirkan "Eh, bagaimana kalau bayangan itu ada dirumah dan dia menyakiti Sendy?" Pikirku.
"Bagaimana kalau kita ke toko cat saja!" Ucapku kepada Sendy.
"Gak!! Aku ingin kerumah!!" Teriak Sendy sambil terlihat sedikit mengeluarkan air mata.
"O,okelah! Kalau maumu begitu!" Ucapku kepada Sendy
Kami kemudian telah sampai di rumah. karena sepertinya kelelahan, aku kemudian menidurkan Sendy di sofa dan membiarkannya beristirahat.
Untuk memastikan dia tetap aman aku akan tetap mengawasinya sambil membawa senjata milik salah satu tentara di luar.
8 Jam telah berlalu.
Sekarang aku masih mengawasi daerah yang kuberi tanda SOS dan aku juga masih mengawasi Sendy yang sedang duduk sambil melamun.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengajaknya bermain, tapi dia bersikeras tidak mau. Aku sekarang khawatir dengan kondisi mentalnya." Pikirku
Kemudian aku mendengar suara helikopter dan sebuah pengeras suara berbunyi "Apakah ada korban atau warga sipil yang selamat? Kami adalah angkatan udara Janvie! Jika kalian masih selamat maka berjalanlah menuju tempat yang mudah terlihat dari ketinggian!" Ucap seseorang yang memakai pengeras suara.
Aku kemudian mengajak Sendy untuk keluar dan menuju ke jalanan raya "Hei Kita akan selamat! Tim bantuan sudah datang!"
Kemudian Sendy dengan terlihat sangat senang berlari menuju keluar, aku juga mengikuti Sendy keluar.
Diluar aku melihat ada banyak helikopter yang digunakan untuk mencari korban korban yang masih selamat.
"Hei! Kami disini!!" Teriak Sendy dengan sangat senang sambil melambaikan kedua tangannya.
Kemudian Helikopter itu turun beberapa meter dari kami dan orang orang yang memakai seragam turun dari helikopter itu.
Seragam yang mereka pakai memiliki corak coklat dan hitam, di seragam mereka terdapat lambang bulan.
Mereka juga memakai helm yang menutupi seluruh kepala mereka.
"Hei kau harus cepat mendapatkan perawatan! lukamu sangat parah!" Ucap salah satu tentara yang turun dari helikopter kepadaku.
Kemudian tentara itu menggendongku dan mengantarkanku kedalam helikopter itu, begitu juga dengan Sendy.
__ADS_1
Aku kemudian dibaringkan dan diberikan penanganan oleh para tentara itu.