The Isekai Project

The Isekai Project
Malam tanpa belas kasih


__ADS_3

Dia menggiringku menuju kamar untuk tamu.


Dalam perjalanan menuju kamar aku melihat banyak sekali barang barang mewah yang dipajang di tempat ini.


Mansion ini memiliki 20 lantai dan itu membuatku sangat bingung kenapa mansion sebesar ini bisa dibangun ditengah hutan. Apakah mereka bodoh?


Disini juga terdapat fasilitas lift dan itu membuatku sadar kalau beberapa benda modern sudah diciptakan.


"Hei! Apa kamu punya kalender?"


"Tentu saja!"


"Jadi kamu tau tahun berapa sekarang?"


"Ya aku tahu, sekarang 19 Oktober 1904!" Jawab si gadis


"Memang nya kenapa kamu menanyakan tahun berapa sekarang?" Tanya si gadis


"Tidak apa apa hanya ingin tau saja."


"Kalender itu membuatku berpikir kalau dunia ini sudah berumur 1904 tahun, tapi yang membuatku penasaran adalah bagaimana pencipta kalender bisa mengetahui umur dunia?"


"Itu kalender masehi kan?"


"Iya! Bagaimana kamu bisa tau masehi?"


Tunggu dulu, aku baru sadar ini kan dunia lain, kenapa bisa mereka memakai kata masehi seperti yang ada di dunia ku sebelumnya? dan yang paling aneh adalah kenapa mereka memakai bahasa Indonesia?


Apakah ini adalah universe alternative dari dunia ku sebelumnya?


Tapi tidak mungkin! Kalau saja Multiverse benar benar ada seharusnya kondisi dunia ini sangat berbeda dengan dunia ku sebelumnya atau malah tidak ada.


Argggh, aku pusing memikirkan hal ini, aku tidak pernah belajar tentang apa itu Multiverse atau hal hal aneh lainnya.


Tunggu dulu aku harus memikirkan ini lebih kecil lagi...


"Hei! kenapa kamu melamun?"


"Eh, tidak apa apa! O,oke mungkin saja tahun 1904 ini mengikuti umur dari kalender masehi itu, jadi dunia sebelum tahun 1 masehi sebenarnya sudah ada sejarah bahkan sepertinya milyaran tahun sebelumnya dunia juga sudah ada." Kataku asal asalan dan belum riset apapun karena authornya males.


"Wah hebat! Kamu bisa tau hal seperti itu!" Kata gadis itu sambil menunjukan wajah kagum.


Padahal itu hal umum yang diketahui banyak orang, tapi tidak apa apa karena aku sekarang merasa pintar.


"Kita tidak menaiki lift?"


"Tidak karena aku takut kalau lift itu rusak jadi kita lewat tangga saja!" Jawab gadis itu


Akupun menaiki tangga satu persatu menuju lantai enam dari mansion ini.


Pegangan tangga ini sepertinya dibuat menggunakan kayu jati yang diukir berbentuk Naga yang panjang.


Dipunggung ukiran naga ini juga terkadang ada ukiran dua pria saling membunuh diatas punggung naga dan pose mereka berbeda beda setiap aku menaiki anak tangga.


Setelah memperhatikan pegangan tangga itu sambil menaiki satu persatu anak tangga.


Akhirnya aku sampai di lantai enam dan berjalan menuju ke salah satu kamar yang ada disitu.


Akupun membuka pintu kamar dan melihat banyak sekali debu dan jaring laba laba disini.


"Maaf, aku tidak menyangka kalau kamu akan menginap disini jadi aku belum sempat membersihkan kamarmu." Kata gadis itu sambil membungkukkan badannya.


"Disini tidak ada pembantu apa?"


"Disini tidak ada pembantu satupun, karena mereka takut untuk mendatangi hutan ini."


"Kalau begitu aku akan membersihkan ini sendiri." Kataku


Namun ketika aku ingin masuk dia menarik bajuku.

__ADS_1


"Tidak usah! biarkan saja aku yang membersihkan ini, aku tidak akan membiarkan tamu melakukan hal seperti ini."


"Baiklah kalau begitu! Mari kita membersihkan ini bersama sama!" Kataku sambil mencoba tersenyum kepada gadis ini.


"Baik!" Sambil membalas senyumanku.


Aku dan gadis itupun masuk ke kamar (Hmm, agak SUS) dan membersihkan kamar itu berdua.


Aku menyapu, sedangkan gadis itu membereskan debu dan beberapa hal lainnya.


Oh iya! Aku lupa menanyakan nama gadis itu.


"Hei dari tadi kita belum memperkenalkan nama kita loh!" Ucapku


"Oh, aku lupa hal sepenting itu! Perkenalkan namaku Dziwo."


"Wah! Nama yang bagus ya."


Hmm, aku tau itu.


"Kalau begitu giliranku yang harus memperkenalkan diriku, perkenalkan namaku Hanan aku adalah seorang remaja berumur 18 tahun."


"Oh, umur kita cuma beda tiga tahun ya! Umurku 15 tahun." Ucap Dziwo sambil tersenyum.


"Hei! Itu yang ada dibawah kasur belum kau sapu" ucap Dziwo


"Oh! Baiklah!"


Aku dan Dziwo terus membersihkan kamar ini sampai bersih dan rapi sepenuhnya.


Setelah kami selesai membersihkan kamar ini diapun membuka pintu dan mengatakan "Selamat tidur ya semoga tidurmu sangat nyenyak."


"Baiklah!"


Tiba tiba saja dia berlari kearahku dan langsung memelukku dengan erat.


"Hei! Hei! Apa yang kamu lakukan?"


"Iya aku tau itu, tapi kenapa kau memelukku?"


"Aku hanya ingin memelukmu!"


"Kalau begitu aku akan tidur sekarang, jadi kamu bisa keluar dari kamarku!" Kata ku dengan suara pelan


Diapun melepas pelukannya dan mengatakan "kenapa kita tidak tidur bareng saja?"


"Tidak aku tidak akan melakukan hal seperti itu, karena laki laki sejati tidak akan meniduri wanita yang bukan istrinya."


"Oh, baiklah kalau begitu aku keluar ya!"


"Ya!"


Kemudian diapun menutup pintu dan pergi menjauh dari sini.


Akupun berbaring di kasur yang empuk ini, dan tidak seperti biasa aku tertidur dengan lelap kali ini karena disini sangat tenang.


Jam 12:00


Pintu terbuka sendiri.


Dziwo masuk kedalam kamarku secara diam diam.


Kemudian Dziwo menaiki kasurku dan dia duduk tepat dibagian bawah perutku sambil melebarkan kedua pahanya.


Dia kemudian mengambil pisau dari belakang, entah dia menyembunyikannya dimana.


Lalu dia memegang pisau itu dengan kedua tangannya dan mengangkat pisau itu sampai melebihi tinggi kepalanya.


Dan dia menusukan pisau itu tepat mengarah ke jantungku.

__ADS_1


Tapi hal itu sepertinya gagal kan?


Aku dengan cepat menahan pisau dapur yang sangat tidak cocok untuk membunuh itu dengan tanganku.


Aku menahan gagang dan tangan Dziwo.


Kemudian Dziwo mengatakan "kau masih bangun!?"


Kemudian dengan sangat cepat tangan ku yang digunakan untuk menahan tangan Dziwo digunakan untuk memukul telinganya dengan sangat keras.


Dziwo terjatuh dikasur dan tidak bisa menyeimbangkan badannya.


Aku kemudian bangun dan mengambil pisau yang dia pegang secara paksa walau dia sangat keras memegangnya.


Kemudian aku melempar pisau itu keluar jendela dan menjatuhkan Dziwo ke lantai.


Sepertinya dia masih tidak bisa berdiri aku menginjak perutnya satu kali, itu membuat mulutnya mengeluarkan darah.


"Jadi kau ingin membunuhku? Menggunakan trik murahan ini?"


"Kenapa kau masih bangun?"


"Dari awal aku tidak bisa mempercayaimu seratus persen itu sebabnya aku menolak beberapa hal darimu yang terdengar mencurigakan. Dan lagi pula siapa coba laki laki yang bagian bawah perutnya di duduki oleh perempuan cantik dia tidak bangun?"


Kemudian aku menembakan peluru ke kaki dan tangannya untuk membuatnya lumpuh.


Itu seketika membuatnya merintih kesakitan.


"Hehe, entah kenapa aku senang mendengar seorang psikopat gila yang berteriak kesakitan."


Dia kemudian mengutuk ku dengan kata kata kasar yang tentu saja tidak akan kusebutkan.


"Oh, begitu ya? Sekarang aku ingin bertanya apa tujuanmu ingin membunuhku."


"Tentu saja untuk ku makan!! Daging manusia itu enak! Aku membunuh kedua orang tuaku sendiri dengan cara meracuni minuman mereka! Karena mereka sangat berisik! Aku kemudian memotong mereka seperti daging cincang kemudian kumasak mereka! Ternyata mereka sangat enak! Itu membuatku ketagihan dengan daging manusia, namun stok daging ku habis jadi aku menggodamu untuk masuk perangkap!" Dia mengatakan itu dengan bangga.


"Oh, sayang sekali, padahal kamu cantik tapi kamu gila seperti itu. Dan menurutku juga daging manusia itu sama sekali tidak enak dan menjijikan, karena aku pernah memakannya satu kali."


Kemudian aku memotong jari Dziwo tipis tipis untuk mendengarkan suara rintihan kesakitan dari Dziwon, entah mengapa itu membuatku senang.


Bosan dengan cara itu aku kemudian mengambil pisau dagingku yang sudah penuh dengan karat ini dan memukulkan nya berkali kali ke tulang kaki Dziwo.


"Arrrrggghhhhhh!!!!"


Lantas itu membuatnya berteriak dengan sangat keras dan aku menyukai itu.


"Kaki kiri sudah putus secara perlahan sekarang giliran kaki kanan." Aku mengatakan itu sambil tersenyum.


Aku mengulangi hal yang sama pada kaki kanan.


Kemudian dia mengatakan ku dengan kata kata kasar lagi dan itu membuatku jengkel.


Aku merobek pipinya kanannya menggunakan pisau daging yang penuh darah ini.


Kemudian karena sepertinya Dziwo kehabisan banyak darah dia berhenti bernapas.


Untuk memastikan dia mati dan bukan sekarat aku menusuk jantungnya menggunakan pisau kecil yang sempat kulempar ke pintu tadi.


Dia sudah benar benar mati.


Akupun ingin membawa mayat itu kebawah basement, namun karena jalan menuju kebawah agak lumayan panjang, jadi aku melemparkan mayatnya langsung kebawah tanpa repot repot membawa nya sambil menuruni tangga ini.


Akupun menuruni tangga, sambil menuruni tangga aku berpikir "Hmm, kalau saja dia sudah mati, berarti yang sekarang memiliki mansion dan semua kekayaan ini aku dong?"


Setelah selesai menuruni tangga, aku mengangkat mayat itu dan menuju ke ruang basement.


"Ruang basement ini dikunci namun sepertinya ini bisa ditendang."


Akupun menendang pintu basement itu dan tanpa berpikir panjang aku langsung melemparkan mayatnya kedalam basement. didalam basement itu juga terlihat beberapa tulang manusia.

__ADS_1


Aku kemudian menutup basement itu dan mengambil pel untuk membersihkan noda darah di lantai.


__ADS_2