
Aku sedang tertidur dikasurku, namun tiba tiba ada suara yang sangat keras dari luar seketika itu membangunkanku. suara itu sangat persis seperti sebuah tembakan.
"Heh, sepertinya anak anak sedang bermain petasan."
Aku beranjak dari kasur, dan keluar dari kamar untuk mencari Cornelio. Rumah terlihat sepi, aku berteriak memanggil Cornelio dan memasuki satu persatu ruangan mulai dari dapur, gudang, kamar tamu dan kamar Cornelio.
"Aku tidak menemukan Cornelio di lantai dua." Ucapku sambil menggosok mataku dengan tangan kananku
Ketika aku menuruni tangga suara ledakan yang sangat keras tiba tiba terdengar dan itu membuat seisi rumah menjadi bergetar.
Dan secara beruntun peluru melayang ke kaca jendela lantai satu sampai membuat kaca itu pecah.
Aku langsung menunduk dan bersembunyi di dibalik pegangan tangga, dan sekali lagi suara ledakan keras terdengar lagi.
Aku juga merasakan sedikit getaran di lantai. aku tidak tahu itu apa, ini seperti sebuah gempa.
"Sudah kuduga artikel itu berbohong!" Gumamku
Aku kemudian memberanikan diri untuk menuruni tangga dan dilantai dekat sofa terlihat seseorang bersimbah darah, dia adalah seorang perempuan dewasa.
Aku mendekatinya, aku membalik tubuhnya dan terlihat tubuh wanita itu sudah dipenuhi dengan lubang lubang di seluruh tubuhnya.
Aku kembali berdiri dan pergi menuju ke semua ruangan yang ada di lantai satu, namun aku tidak menemukan apapun.
Getaran dan suara ledakan dahsyat terus terjadi. Aku melihat jejak darah menuju ke garasi, aku kemudian memberanikan diri untuk memasuki garasi dan melihat Cornelio ada disitu dengan kaki yang penuh luka.
Kedua kaki Cornelio sudah sangat mirip seperti sebuah sarang lebah. Darah terus keluar dari kakinya, namun dia masih bisa sadarkan diri.
Disamping Cornelio juga terlihat Sendy yang menutupi luka Cornelio dengan kain kasa.
"Kenapa kau disini?" Ucapku sambil melotot tajam ke arahnya
Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah menangis.
Cornelio juga terus bergumam "Michael, Michael, Michael"
Aku mendekati Cornelio dan membantu Sendy menutupi luka Cornelio menggunakan kain kasa.
Aku juga menekan pembuluh darah yang terlihat di luar kulit. Dan membaringkan Cornelio lalu mengangkat kakinya dan perutnya lebih tinggi dari jantung.
Aku memeriksa bagian tubuh lain Cornelio dan tidak menemukan luka tembak lain selain di kaki dan perut.
"Hei, apa yang terjadi ketika aku tidur?" Tanyaku kepada Sendy
Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah terus menangis.
"Hei!!! Cengeng!!! Aku bertanya padamu bodoh!!!" Bentakku kepada Sendy
Dia masih tetap menangis dan tidak mempedulikanku.
"Sepertinya orang ini memang benar benar kena mental." Pikirku
"Oke, sepertinya mungkin ini tiba tiba tapi aku akan memasukan Cornelio kedalam mobil." Ucapku sambil membuka pintu mobil
Dia masih menangis dan tidak mempedulikanku.
Aku kemudian menyeret tubuh Cornelio dan memasukannya ke dalam mobil. "Hei! Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sendy
__ADS_1
"Oh, berhenti juga kau menangis! Aku akan memasukan Cornelio ke dalam mobil."
"Apa yang kau lakukan setelah itu!!" Tanya Sendy sambil menarik lengan baju Cornelio
Aku memilih diam dan tidak mengatakan apapun.
"Michael, k,kau selamat kan?" Ucap Cornelio dengan suara pelan dan tatapan yang kosong
"Tenang aku akan selamat! Dan itu berkatmu! Ayah!"
Aku kemudian meletakan Cornelio di kursi pengemudi, dan aku kemudian keluar dari mobil.
"Sen! Kau bisa bersembunyi di dalam peti itu! Karena ini akan sangat beresiko!"
Sendy mematuhi perintah itu dan dia bersembunyi di dalam peti yang kutunjuk.
"Oke, saatnya melakukannya sesuai janji!" Gumamku sambil membuka pintu garasi.
(Sementara itu dari sudut pandang Sendy.)
"Kenapa dia menyuruhku masuk kedalam peti ini? Kotak ini benar benar gelap!" Pikirku
Aku kemudian mendengar suara mobil dijalankan dan beberapa saat kemudian banyak suara bercampur dalam satu waktu.
Itu membuatku menangis dan aku menduga kalau nyawaku tidak akan lama lagi akan melayang.
Suara terakhir yang kudengar adalah suara teriakan banyak orang.
Beberapa detik kemudian seseorang membuka peti tempatku bersembunyi.
"Sekarang sudah selasai! Dan bantuan akan segera datang dalam 9 jam!" Ucap Hanan sambil tersenyum ke arahku.
"A,apa yang terjadi dengan tanganmu?" Ucapku sambil ketakutan melihatnya.
Dia seperti tidak merasakan kesakitan sama sekali, wajahnya terlihat biasa biasa saja seolah tidak terjadi apa apa.
"Oh, terlindas mobil!" Ucap Hanan sambil menjulurkan tangan kanannya padaku.
Jari jari tangan kanannya juga sepertinya rusak dan ada beberapa yang terlihat sangat hitam seperti dibakar.
Aku menyentuhnya, aku merasakan tanganku seperti terkena aliran listrik, itu membuatku kaget dan langsung melepaskan tangannya.
(Sudut pandang beralih kembali ke Hanan)
"Maaf, aku lupa, aku tadi tidak sengaja tersetrum tiang listrik." Ucapku sambil memperhatikan kembali tangan kananku.
Kemudian Sendy keluar sendiri dari peti itu, dan dia melihat ke luar pintu garasi.
Dia terlihat sangat kaget karena melihat tumpukan mayat tentara mati dalam keadaan gosong, seperti dibakar hidup hidup.
Dia terlihat menjauhiku dan mengatakan "A,apa yang kau lakukan? Dimana Ayahmu?"
"Dia telah berkorban sebelum dia benar benar mati." Ucapku sambil menunjuk ke arah mobil yang kami tumpangi sebelumnya.
"K,kau tidak sedih? Di,dia Ayahmu loh!"
"Aku tidak akan menunjukan hal itu didepan orang lain."
__ADS_1
Aku kemudian melempar burger yang dibungkus ke arah Sendy.
"Mungkin kamu akan lapar karena bantuan akan datang dalam waktu 9 jam."
Aku kemudian berbalik badan dan kembali ingin menuju ke luar ingin mencari sesuatu yang bisa dimakan olehku.
"Tunggu!!" Teriak Sendy kepadaku
"Heh? Ada perlu apa memanggilku?"
"K,kau terlihat lebih tinggi dari sebelumnya!"
Aku kemudian memperhatikan tubuhku dan ternyata ucapannya benar aku sekarang seperti seorang remaja berumur 14 tahun padahal kenyataannya aku masih berumur 6 tahun.
"Wah! Sepertinya aku menjadi remaja terlalu cepat!" Ucapku kepada Sendy sambil kembali berjalan keluar.
"Oh! Iya! Kamu tetap disini jangan kemana mana!" Teriakku kepada Sendy
Aku kembali menuju ke tempat mobil Cornelio, mobil itu sekarang sudah hancur total.
Disekelilingku juga banyak sekali daging gosong yang baunya sangat menyengat.
Aku seperti sedang melihat tumpukan manequin hitam dengan pose yang berbeda beda.
Aku juga melihat beberapa drone yang hancur disini. Didekat toko roti juga terdapat sebuah tank yang berhenti bergerak dan sepertinya sudah rusak.
"Ini adalah peti mati mereka, sebagai orang orang yang terhormat dan rela berkorban. Peti mati mereka terbuat dari besi yang kokoh, dan ini gratis, ini lebih baik daripada harus membeli peti mati kayu yang mahal." Gumamku di depan tank itu
Aku kemudian memasuki toko roti itu, disana terdapat banyak sekali roti yang berderet dengan indah di etalase.
Aku membukanya dan mengambil satu bersatu roti itu sebagai cemilan.
Setelah kenyang aku kembali memeriksa toko ini siapa tau masih ada yang hidup.
Aku memasuki setiap ruangan yang ada disini tetapi tidak menemukan seorangpun disini. Aku kemudian keluar dari toko itu dan ingin kembali ke rumah.
Didalam perjalanan aku melihat banyak sekali pejalan kaki yang terbunuh dengan luka tembak.
Namun, salah satu dari mayat itu mengeluarkan sebuah tentakel yang bergerak dari luka tembaknya.
Karena penasaran aku mendekati mayat itu dan menarik tentakel itu secara paksa.
Ketika aku menariknya, tiba tiba ada tentakel lain yang keluar dari tubuh mayat itu dan dia menjadi setipis jarum lalu menusuk jantungku dari belakang.
Aku sontak kaget, dan menarik paksa tentakel itu dari jantungku, tentakel itu hampir saja menusuk jantungku.
Aku kemudian mengeluarkan sedikit aliran listrik dari tanganku dan memegang tentakel itu, membuat mayat itu terbakar.
"Apa apaan ini? Tentakel itu sudah mirip seperti yang sering kutonton dulu." Ucapku sambil menutup luka yang ada dipunggungku dengan tangan.
Aku kemudian berdiri dan kembali menuju ke rumah dengan jalan kaki.
Aku sudah sampai dirumahku dan melihat Sendy mematuhi perkataanku untuk tetap dirumah itu.
Namun sepertinya dia menangis karena melihat perempuan dewasa sebelumnya yang tewas dengan luka tembak disekujur tubuhnya.
"Memangnya dia siapa?" Tanyaku
__ADS_1
"D,dia ibuku."