The Isekai Project

The Isekai Project
Minggu


__ADS_3

6 Tahun telah berlalu, sekarang Cornelio sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai pelayan restoran karena restoran tempat dia bekerja sudah bangkrut.


Dia juga pernah mendonorkan salah satu ginjalnya untuk menyelamatkan seorang nenek yang sering mengasuh Cornelio ketika masih kecil, namun nenek itu malah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil.


Cornelio sekarang hanya dapat melakukan satu pekerjaan yaitu menjadi seorang stremer.


Walaupun begitu penghasilannya sudah cukup untuk menghidupiku dan dirinya sendiri.


4 bulan kemudian, kembali terjadi konflik antara kaum Filius dengan kaumku Janvie.


Konflik itu diawali dengan adanya ancaman nuklir kepada kaum Janvie oleh beberapa oknum dari Filius.


3 bulan kemudian terjadi sebuah ledakan Nuklir di ibukota Janvie.


Akibat hal itu hampir seluruh penduduk ibukota lenyap dimakan jamur raksasa.


Karena Janvie merasa terancam, Kaum Janvie pun meledakan pangkalan militer milik kaum Filius.


Filius juga sepertinya tidak tahu apa apa tentang ledakan nuklir yang terjadi di ibukota Janvie.


Untuk itu terjadilah pertemuan antara negara Filius dan Janvie yang disebut PPP pertemuan itu bertujuan untuk mencegah kembali terjadinya perang antara kaum Filius dengan Janvie.


Pertemuan ini membuahkan hasil. Kedua belah pihak setuju untuk tidak melakukan perang lagi.


"Setidaknya itulah yang kubaca dari salah satu artikel di komputer milik Cornelio. Aku kurang yakin ini akan berakhir damai, karena mana ada negara yang ibukotanya dinuklir dapat mengucapkan kata damai semudah itu. Tapi mungkin saja mereka menghindari kerugian yang lebih parah akibat perang." Gumamku sambil berbaring dikasur.


"Setidaknya mereka telah berdamai, dan aku tidak perlu terjebak didalam mimpi buruk. Karena 1 minggu lagi adalah hari pertamaku untuk bersekolah!"


Aku beranjak dari tempat tidurku dan mengambil sebuah bola golf yang terletak di atas meja.


Aku menatap bola itu dan mengatakan "Tujuan hidupku apa ya sekarang? Tentu saja untuk hidup damai dan memiliki kekayaan yang melimpah!"


"Kalau saja ada tombol yang dapat mengembalikanku ke duniaku yang sebelumnya, aku tidak akan menekan tombol itu. Aku sudah tidak peduli dengan teman dan semua konflik yang ada disana! Disini adalah dunia yang lebih baik! Tidak seperti duniaku sebelumnya, duniaku sebelumnya hanyalah kesalahan!"


Aku keluar dari kamarku dan menemui Cornelio yang sedang memasak di dapur "Ayah! Ayo main golf!"


"Sabar! Ayah sedang memasakan sarapan untukmu." Kata Cornelio sambil fokus memasak.


Aku kemudian melempar bola golf itu ke lantai dan kucing peliharaanku bernama Oscar mengejarnya.


Peliharaan Cornelio merupakan seekor kucing oren yang memiliki bulu pendek. Cornelio adalah seorang pecinta kucing.

__ADS_1


Aku kemudian duduk di sofa sambil memainkan Handphoneku dengan tenang.


"Walaupun semua teknologi yang ada disini masih seperti tahun 2025, tapi ini masih mending daripada punya teknologi canggih tapi tidak bisa digunakan." Gumamku


Beberapa menit kemudian Cornelio menghampiriku sambil membawakan masakan yang dia buat "Hei! Sekarang kita ke meja makan!"


Aku kemudian menuju ke meja makan dan duduk di sebuah kursi kayu.


"Ayah harus menjagamu tetap sehat, jadi Ayah membuatkan makanan yang bergizi untukmu!" Kata Cornelio sambil meletakan sayuran di piringku


"Hehe, Ayah selalu mengatakan itu ketika sebelum makan!"


Setelah selesai makan aku langsung berlari keluar rumah dan berteriak pada Cornelio "Ayah! Ayo main golf!"


"Baiklah! Tapi Ayah harus membereskan ini terlebih dahulu!"


Aku kemudian duduk di teras rumah sambil menunggu Cornelio selesai bersih bersih.


Aku ingin mengambil bola golf yang menggelinding ke luar pintu, namun tiba tiba aku melihat kaki seorang gadis yang berdiri di hadapanku.


"Hei! Kamu pemalu ya? Aku sering melihatmu, tapi kamu malah memalingkan wajahmu!" Kata gadis itu sambil mendekatkan wajahnya padaku.


"..." aku diam dan memalingkan wajahku, untuk kedua kalinya aku berada dalam situasi seperti ini.


"Lihat! Wajahmu memerah! Tebakanku ternyata benar Kau pemalu!"


"..." Aku masih diam dan mencoba melihat ke arah gadis itu.


Dia tersenyum hangat ke arahku, Itu membuatku semakin gugup.


"Waw! Walaupun dia masih 9 tahun tapi dia sangat cantik!" Pikirku


"Nah! Makin merah tuh! Kamu mirip banget kayak adikku!" Kata gadis itu dengan suara yang lembut


"Kalau begitu perkenalkan ya! Namaku Sendy!" Kata gadis itu sambil menjulurkan tangannya ke arahku seolah ingin berjabat tangan.


Akupun juga menjulurkan tanganku secara perlahan dan mengatakan "S,salam kenal, aku Hanan." Kataku dengan suara yang pelan.


"Oh! Namamu Hanan ya? Kukira namamu Michael karena Ayahmu sering memanggilmu seperti itu!" Kata Sendy sambil terus berjabat tangan denganku


"He,em!" Cornelio terlihat dari pintu sambil tersenyum ke arahku.

__ADS_1


"Bu,bukan Ayah! Dia hanya temanku" Ucapku karena aku sudah mengetahui maksud Cornelio


"Tidak apa apa! Kalian dapat pacaran aku tidak akan mengganggu kalian!" Kata Cornelio dengan senyumannya yang ngeselin.


Seketika disaat Sendy mendengar kata "Pacaran" wajahnya terlihat memerah "A,aku pergi dulu ya! Nanti aku akan mengunjungimu kapan kapan!" Kata Sendy, lalu dia pergi berjalan menuju rumahnya. Ternyata dia adalah tetanggaku.


"Haha! Dia malu tuh! Itu mengingatkanku disaat aku masih kecil. Ingat kau harus menjaganya jika kau benar benar pacarnya!" Kata Cornelio sambil memegang bahuku


"Sudah kubilang kami enggak pacaran!"


"Haha! Kamu sangat mirip denganku ketika masih kecil!"


Kemudian Cornelio mengajakku memasuki mobilnya "Ayo! Kita main Golf!"


Cornelio meletakkan semua peralatan golf ke bagasi mobil dan aku masuk ke mobil dan duduk di samping kursi pengemudi.


Cornelio masuk ke mobil dan memasukan kunci mobil, kemudian dia menyalakan mobil dan mobil mulai bergerak.


Terlihat Sendy memperhatikan mobil kami dari teras rumahnya "Coba lihat itu! Dia kayaknya beneran suka sama kamu!" Kata Cornelio sambil memperhatikan ke arah Sendy


"Diamlah! Jangan bilang begitu!"


"Hahaha! Hei Michael, kamu tidak sadar ya kalau Sendy sering sekali memperhatikanmu sambil bersembunyi."


"A,aku gak tau!"


"Mungkin dia beneran suka sama kamu, jadi dia mengawasimu seperti itu. Dan sekarang dia memberanikan dirinya untuk menemuimu, dan ternyata kau lebih pemalu dari dia! Hahaha!"


"Darimana Ayah tau itu?"


"Ayah hanya berteori, Karena dulu Ayah sering sekali memikirkan banyak hal sebelum melakukan sesuatu."


Beberapa saat kemudian kami sampai di sebuah lapangan golf langganan kami.


Aku turun dari mobil dan Cornelio mengambil peralatan golf dari bagasi mobil.


Golf merupakan salah satu permainan kesukaanku dan setiap hari minggu aku dan Ayahku selalu kesini, walaupun mahal.


"Hei! Ini tongkatmu seperti biasa ya!" Kata Cornelio sambil memegang tongkat golf kecil menggunakan tangan kanannya.


"Iya!"

__ADS_1


Aku kemudian mengambil tongkat itu dari tangan Cornelio dan berlari menuju ke lapangan Golf.


Beberapa jam kemudian kami kembali pulang ke rumah, dan melanjutkan hari seperti biasa.


__ADS_2