The Isekai Project

The Isekai Project
Teman baru untuk sesaat


__ADS_3

"Tolong!!!! Siapapun diluar sana aku masih hidup!!! Jadi tolong aku!!!"


Tidak ada satu orangpun yang mendengar suara teriakanku, aku hanya membuang buang oksigen. Namun aku menyadari sesuatu, yaitu suara ku berbeda.


Namun aku tidak mempedulikan hal tersebut.


Dan aku harus tetap tenang.


Napasku semakin sesak dan tubuhku semakin lemah tetapi aku harus tetap tenang, GIMANA COBA!?


Oh, ya ponsel mungkin akan membantu lihatlah seberapa begonya diriku tidak memikirkan itu sejak awal.


Haha, ini pasti bercanda aku memakai baju apaan ini!? Mana ponselku?


Jadi sekarang bagaimana caranya aku keluar?


10 Menit aku menahan napas dengan ditemani oleh mayat tanpa kepala.


Bakat menahan napasku ternyata berguna disaat seperti ini.


Sekarang Kepalaku semakin pusing.


Mungkin dalam beberapa menit lagi aku akan...


Tidak! Tidak boleh seperti itu! Aku harus tetap berusaha!


Aku kemudian memukul mukul peti itu walau tubuhku sudah sangat lemas.


Pikiranku sudah sangat kacau.


Bahkan aku sudah tidak dapat memikirkan apapun lagi.


Semakin lama aku sudah tidak kuat membuka kelopak mataku dan akupun pingsan.


Beberapa saat kemudian tubuhku sangat sakit rasanya seperti semua kulit yang ada di tubuhku dilepas paksa, rasa sakit nya sangatlah sakit aku tidak bisa mendeskripsikannya seperti apa.


Lalu entah apa yang terjadi aku tersadar di sebuah tempat, leherku seperti tersangkut disebuah kayu yang bolong.


"Ini, dimana?" Pikirku


Mereka terlihat seperti para bangsawan yang ada di era abad pertengahan.


"Hei lihat! penghianat itu hidup lagi! Bukan sekedar penghianat dia juga ternyata adalah seorang penyihir." Kata seseorang berjanggut tebal yang duduk di singgasana, sepertinya dia raja.


"Dasar kau penyihir! kau tidak akan bisa menghancurkan negeri kami! Sekarang wahai hamba hamba tuhan, siram lah penyihir laknat ini dengan air suci! Supaya dia mengetahui seberapa dahsyatnya kekuatan tuhan!" Kata seorang kakek kakek tua yang memakai pakaian putih.


Aku sebenernya ingin berteriak "salahku apa?" Dan beberapa hewan dari kebun binatang, namun karena tenggorokan ku sangat sakit dan mengeluarkan darah aku tidak dapat mengeluarkan suara.


Orang orang yang berkumpul disekitarku kemudian menyiramiku dengan air.


Disaat disirami aku baru sadar kalau kepalaku berada di alat pemotong kepala era abad pertengahan.


Belum sempat aku mencerna apa yang terjadi, raja berteriak.


"Sekarang pancung dia!!!"


Orang bertubuh kekar disampingku pun mengayunkan pedangnya ke leherku.


Aku merasakan ada benda tajam yang mendarat di leherku, dan itu sangat menyakitkan dalam beberapa detik.


Dan rasa sakit yang sama seperti sebelumnya aku rasakan lagi.


Aku terbangun lagi.


Aku merasakan seperti berbaring diaatas cairan.


Kukira itu adalah darahku namun ternyata itu hanyalah air kotor biasa.


Namun entah kenapa aku ingin sekali menangis kali ini karena aku tidak merasakan sakit sama sekali. rasanya seperti aku sudah terbebas dari penyiksaan yang menyakitkan.


Aku mencoba berdiri dan melihat daerah sekitarku.


"Disini sangat gelap dan bau aku tidak bisa melihat apapun."


Tapi tanpa memikirkan apapun aku akan terus maju sampai bisa menemukan jalan keluar.


Dalam perjalanan aku mendengar banyak sekali suara tikus yang lama kelamaan mengganggu pendengaran ku.


Di saku ku juga terdapat sebuah pistol era 1800an.


Namun tiba tiba ada sesuatu yang menggigit kaki ku.


Tanpa berpikir panjang akupun langsung menembak sesuatu yang menggigitku itu dengan pistol yang sedang kupegang.


Dari suaranya aku mengetahui kalau itu adalah seekor tikus.


"Tikus disini sepertinya sangat liar lihatlah mereka berkumpul seolah olah aku ingin dikeroyok."

__ADS_1


Dari suara mereka sepertinya aku tau kalau aku tidak sendirian disini.


Tikus tikus itu sepertinya sedang mengejarku.


Aku tidak akan bisa menembak mereka satu persatu dengan senjata kuno ini. sepertinya menjadi pecundang adalah pilihan yang tepat.


Berlari sampai menemukan jalan keluar.


Entah mengapa aku masih tetap bisa tenang walau mau dimakan oleh tikus tikus ini.


Satu tikus berhasil menggigit kakiku.


Semakin banyak tikus yang menghadangku di depan dan belakang itu membuatku agak sedikit takut, tetapi aku harus tetap tenang.


Semakin banyak tikus yang menempel ditubuhku seluruh tubuhku terasa sangat sakit, terlihat juga masih banyak tikus tikus yang menghadangku di depan.


Namun berpikir bodo amat, akupun menutup mataku dan tetap berlari melewati tikus tikus yang menghadangku di depan.


Dan entah bagaimana caranya aku berhasil keluar dari goat itu.


Aku jatuh ke sungai dan hidungku mencium bau gosong entah dari mana.


"Hmm, aku tidak tau apa yang terjadi, namun sepertinya aku selamat."


Aku melihat dua orang remaja yang sepertinya kebetulan berada diatas dan aku mencoba meminta tolong pada mereka untuk membantuku naik ke daratan.


"Hei, kalian tolong aku naik ke atas!"


"Kenapa kau bisa ada disitu?" Kata remaja berambut pirang.


"Ayolah! jangan banyak tanya tolong saja!" Teriak ku.


"Emm, baiklah! Rick cepat ambilkan tali tambang yang ada dikereta kuda!."


"Okelah! Akanku ambilkan" Jawab remaja berambut hitam.


"Cepat ambil ini!"


Remaja itupun melemparkan salah satu ujung tali itu kepadaku.


Aku meraih tali itu dan mereka berdua menarikku ke daratan.


"Heh, syukurlah kau selamat. Tapi kenapa kamu bisa ada dibawah?" Kata remaja berambut pirang.


"Iya! bukannya dibawah itu banyak sekali tikus pemakan daging, apakah kamu terpeleset?" Kata remaja berambut hitam.


"Entahlah saya tidak tahu." Kata kedua remaja itu.


Aku mendengar suara aneh di dekatku.


"Mereka datang!!!" Kata remaja berambut hitam.


Kedua remaja itu kemudian memaksaku memasuki kereta kuda mereka dan menyuruhku untuk tetap bersembunyi di dalam.


Mereka berdua mengambil kapak dari dalam peti yang berada di dalam kereta kuda.


Mereka menutup pintu kereta kudanya namun aku masih dapat melihat mereka melalui celah.


Kemudian mereka terlihat seperti sedang menghadang sesuatu.


Mereka seperti sedang memukul mukul udara dengan kapak mereka.


Namun, beberapa saat kemudian kepala remaja berambut hitam hancur, dan seluruh isi kepalanya berhamburan kemana mana.


Aku sangat syok melihat hal itu di depan mataku sendiri.


"Rick!!!" Teriak remaja berambut pirang.


Tak ada siapapun tiba tiba saja remaja berambut pirang terlempar dengan sangat keras ke kereta kuda sampai sampai menghancurkan pintu kereta kuda itu.


Itu membuatku semakin ketakutan dan tidak dapat memikirkan apapun.


"Hei ada apa ini?!"


"Cepat lari menjauh dari sini!" Kata remaja berambut pirang dengan suara yang pelan.


Perut remaja berambut pirang kemudian robek dengan sendirinya dan isi perutnya terlihat dengan sangat jelas.


Ketakutan setengah mati akupun melompat kearah kuda. Namun sangat disayangkan kepala kuda itu sudah menghilang entah kemana.


Namun masih ada cara untuk kabur.


Akupun berlari dengan kakiku sendiri.


Namun baru beberapa meter menjauh tiba tiba dari perut sampai kakiku terasa sangat sakit.


Aku merasakan sesuatu yang hangat dan itu berupa cairan merah.

__ADS_1


Aku terjatuh ke tanah dan hampir tidak sadarkan diri.


Aku melihat beberapa saat kalau aku sudah tidak memiliki perut dan kaki lagi.


Darah terus mengalir dan aku tidak tau harus berbuat apa.


Aku sudah tidak sadarkan diri.


Namun hal aneh terjadi lagi, aku tidak mati, melainkan malah kembali berdiri dengan perut dan kaki yang masih utuh.


Aku tidak tahu apa yang terjadi.


sekali lagi hidungku kembali mencium bau gosong lagi.


Tanpa pusing memikirkan apa yang terjadi aku melanjutkan berlari dan aku merasa seperti ada yang mengejarku di belakang.


Akupun mengambil pistolku Dan menembakan beberapa timah panas ke segala arah.


Aku melihat salah satu peluru berhenti tepat di udara.


Namun peluru tersebut kemudian bergerak secara tidak normal.


Peluru itu seperti sudah menempel di dalam tubuh seseorang yang tidak terlihat.


Dalam beberapa saat juga seluruh tubuhku terasa hangat dan terasa sedikit geli.


Peluru itupun terlihat kembali mengarah ke arahku.


Dan aku menembaki nya berkali kali, dan ternyata benar! Makhluk itu tidak terlihat.


Semakin banyak peluru yang menempel didalam tubuhnya, tapi sepertinya makhluk ini sangat kuat.


Dia dapat menahan peluru sebanyak itu dan menghancurkan kepala manusia dengan mudah, dia terlalu kuat untuk manusia seperti ku.


Akupun terus menembaki makhluk tidak terlihat itu sambil berlari.


Dan kemudian datanglah seseorang yang sangat misterius berjalan dengan santainya ke arahku, padahal dia jelas jelas melihatku sedang menembaki monster.


Semua peluruk sudah habis monster tidak terlihat itu masih saja mengejarku.


Kemudia dengan ajaib lengan kananku tiba tiba terpotong dengan sendirinya.


Pria yang misterius itu kemudian datang menghampiriku.


Dan entah apa yang terjadi monster yang mengejarku tadi sudah tidak mengejar lagi.


"Hei, sepertinya kamu sedang tidak baik baik saja." Kata pria itu.


"Tolong! tadi aku dikejar oleh makhluk yang tidak terlihat."


"Tenang monster itu sudah kubereskan." Jawab pria itu.


"Bagaimana caranya padahal kamu dari tadi cuma berjalan santai kearahku."


Tanpa menjawab apa yang kutanyakan tadi dia menyuruhku untuk menutup mataku.


"Tutup matamu sebentar." Kata pria itu


"Tidak! Aku tidak percaya pada..."


Dia menghancurkan kedua bola mataku entah bagaimana caranya dan itu membuatku berteriak dengan sangat keras.


"Sudah sekarang bukala kedua matamu."


"Tidak bisa mataku sangat sakit!!!"


Namun secara tiba tiba mataku dibuka secara paksa dan entah bagaimana mataku kembali utuh.


"Heh? Apa apaan ini?"


Akupun juga melihat lengan kananku yang terpotong juga kembali utuh.


"Lenganmu sudah tidak terasa sakit lagi bukan? Aku hanya mengobatimu sedikit karena takutnya kamu bisa mati kehabisan darah." Kata pria itu sambil memberikan senyuman.


"Siapa kau?" Tanyaku.


"Aku adalah kau." Jawab pria itu kemudian dia menghilang dengan sangat cepat.


Itu membuatku semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi?


Aku juga teringat kembali dengan dua orang remaja itu, aku lupa kenapa aku tidak meminta bantuan pria itu untuk menyembuhkan kedua remaja itu, mungkin saja mereka masih dapat diselamatkan.


Aku kembali menuju ke arah kereta kuda dan melihat mayat pemuda berambut hitam sudah tidak memiliki kepala dan tergeletak di atas tanah.


Sedangkan pemuda berambut pirang tergeletak di dalam kereta dengan leher dan tangan yang membengkok dan juga perut yang robek.


Akupun mengambil peti besar di dalam kereta kuda itu dan sebuah sekop.

__ADS_1


Aku meletakan kedua mayat pemuda itu didalam peti dan kemudian menguburkannya di dekat tempat tersebut.


__ADS_2