
Ketika aku sedang berbaring aku mendengar perbincangan tentara tentara itu dengan Sendy. Walaupun agak sedikit diganggu oleh suara baling baling.
"Nak, beritahu padaku! Apa yang terjadi?" Ucap tentara itu dengan suara yang lembut.
"Aku tidak tahu! Tiba tiba saja ada suara yang sangat berisik, dan semua orang langsung terbakar!" Ucap Sendy
"Bisa jelaskan bagaimana suara yang kau dengar itu?" Tanya salah satu tentara.
"Seperti banyak suara digabungkan dalam satu waktu! Aku tidak bisa menjelaskan suara itu satu persatu!" Ucap Sendy kepada tentara itu.
"Jadi, bagaimana kamu bisa selamat?" Tanya tentara itu
"Hanan menyuruhku untuk bersembunyi di dalam peti mainan."
"Hanan yang terluka itu kan?"
"Iya!"
Aku kemudian mencoba untuk duduk dikasurku tapi tentara itu melarangku untuk duduk dan melakukan hal hal yang banyak menggunakan gerak tubuh.
Aku kembali berbaring sambil memperhatikan mesin denyut jantung yang aku tidak ketahui namanya apa.
Ketika aku mengintip isi bajuku, aku baru sadar kalau seluruh tubuhku sudah terkena luka bakar yang sangat parah, tapi dengan ajaibnya aku masih hidup sekarang.
Aku kemudian kembali menatap mesin denyut jantung itu sambil memikirkan "Ini tidak terlihat seperti perang, melainkan seperti penyerangan yang dilakukan secara tiba tiba. Tapi bodo amat! Setelah aku sampai ke tujuan, aku hanya akan menjadi warga biasa dan tidak akan ikut campur dengan masalah apapun, karena itu melelahkan dan merepotkan. Jika saja akan ada penyerangan lagi aku akan lari dan mengungsi seperti warga sipil biasa." Pikirku
Prajurit itu kemudian menanyakan beberapa hal tentang keluarga, insiden, dan apa yang dialami sebelum hari pembantaian kepada Sendy "Dia seperti sedang diintrogasi" pikirku.
Tapi Sendy dapat menjawab itu dengan santai selama kami terbang memakai helikopter.
Aku sudah sampai di tempat tujuan dan mobil ambulans terlihat sedang menungguku disini.
Aku segera dimasukan ke dalam mobil ambulans itu dan kembali diberi perawatan oleh orang yang ada di ambulan.
Beberapa menit kemudian.
Aku telah sampai di rumah sakit dan segera dimasukan ke UGD untuk segera menjalankan perawatan yang serius "Orang yang akan membayar biaya rumah sakit siapa ya?" Pikirku
Aku kemudian dibius dan setelah itu aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku.
Aku kembali tersadar dan membuka mataku secara perlahan, aku melihat kalau tangan kananku sudah diamputasi, dan banyak perban yang menutupi tubuhku.
"Sial! Sekarang bagaimana caranya aku makan!"
Aku juga melihat Sendy yang sedang duduk disamping kasurku, dia terlihat seperti melamun sambil memperhatikan tanganku yang telah diamputasi.
"Hei! Kenapa kau melamun?" Ucapku
"Eh! Tidak apa apa!" Jawab Sendy sambil melambaikan kedua telapak tangannya.
"Oh, baiklah kalau begitu." Ucapku
"Eh, kau tidak apa apa kehilangan kedua lenganmu?" Tanya Sendy kepadaku
"Tentu saja tidak! aku akan kerepotan jika tidak punya lengan." Ucapku
__ADS_1
Sendy terlihat kaget sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Eh! maaf jika aku salah kata!" Ucapku sambil terlihat agak panik
"Tidak apa apa!" Ucap Sendy sambil tersenyum
Dia kemudian terlihat mencari sesuatu dari dalam ransel besar yang dia bawa "Hei, ransel siapa itu?" Tanyaku
"Ini ransel yang diberikan oleh pamanku, dia merupakan tentara yang menolong kita kemarin! Katanya mungkin ini akan diperlukan suatu saat." Ucap Sendy sambil mencari cari sesuatu dari dalam tas itu.
"Oh! Ini dia!"
Sendy kemudian mengambil sebuah kardus yang dibungkus oleh plastik hitam. Dia kemudian membuka kardus itu dengan gunting yang dia dapatkan entah dari mana.
Ketika kardus itu sudah terbuka, aku melihat kalau Sendy mengambil sebuah tangan robot dari dalam kardus itu.
Tangan robot itu terlihat sangat jadul bagiku karena tampilannya sangat kuno sekali, itu seperti tangan robot era 2020 keatas.
"Hei! Ini dia! taraaa!" Ucap Sendy kepadaku
"Menggunakan uang siapa kau membeli tangan robot itu?" Tanyaku dengan wajah yang agak khawatir.
"Oh! Aku tidak sengaja menemukan kartu kreditmu ketika kamu sedang digendong oleh tentara itu!" Ucap Sendy sambil tersenyum.
Anak *****!!! ****** kau *******!!!! (Di sensor karena mengandung kata yang sangat tidak ramah).
Ingin sekali aku mengatakan itu, tetapi itu tidak cocok dengan sifatku yang lemah lembut dan baik hati.
Aku menahan diriku untuk berkata kasar dan mencoba mengatakan hal yang positif "Terimakasih ya! Kamu sudah membantuku membelikan tangan robot! Sekarang aku ingin mengecek sisa saldonya!" Ucapku sambil tersenyum.
"Eh jangan dulu! Tanganku masih diperban dan biar dokter saja yang memasangnya!" Ucapku dengan nada yang seramah mungkin.
"Kenapa? Ini bisa langsung dipasang!" Ucap Sendy sambil mendekatkan tangan robot itu ke lenganku yang sudah diamputasi.
Tiba tiba lengan robot itu menempel pada lenganku seperti sebuah magnet yang menempel pada logam.
"Eh? Sensasi ini sangat mirip seperti ketika tanganku masih normal!" Ucapku sambil keheranan padahal tangan robot seperti ini baru ditemukan pada 27 tahun kemudian di dunia asalku.
Aku baru menyadari kalau kemajuan teknologi di dunia ini tidak sama persis dengan duniaku sebelumnya, padahal aku sudah hidup enam tahun disini.
Aku kemudian mencoba duduk di kasurku dan benar saja, aku tiba tiba merasakan sakit di sekujur tubuhku.
"Erghh"
"Eh! Kau kesakitan!" Ucap Sendy.
"Ini aneh! Ketika aku berada di rumahku aku bisa berdiri dan berjalan seperti manusia normal walaupun sedang terluka!" Pikirku
"Tidak apa apa mungkin perawat atau dokter akan segera datang karena alat pendeteksi rasa sakitnya aktif." Ucapku mengira ngira kalau saja tidak mungkin kalau pendeteksi rasa sakit tidak aktif dikala pasien sedang terluka parah.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian seorang perawat datang ke kamar pasienku dan dia bertanya pada Sendy "Apa yang terjadi?"
"Tidak apa apa! Dia tadi mencoba duduk di kasurnya" ucap Sendy.
"Ya ampun! Jangan! Seluruh tubuhnya masih dalam masa penyembuhan!" Ucap perawat itu.
__ADS_1
Kemudian perawat itu menyuruh Sendy keluar karena kebetulan waktu nya untuk menjengukku telah berakhir.
"Heh, padahal masih banyak hal yang ingin kukatakan." Gumam Sendy.
Setelah mereka berdua keluar dari kamarku. Aku sekarang tidak tahu apa yang akan kulakukan disini, jadi aku memperhatikan seisi ruangan ini, siapa tahu nanti ada sebuah penampakan.
Di kamar rumah sakit ini terdapat sebuah tenda yang memisahkan aku dengan pasien lainnya.
Dan benar saja setelah aku memikirkan hal itu, tiba tiba saja tenda itu dibuka oleh seseorang.
Dia merupakan seorang kakek, yang kemudian menghampiriku dan mengatakan "Tadi kakek mendengar kamu diberikan hadiah berupa tangan robot, emangnya ada apa dengan tanganmu?" Ucap kakek itu sambil berjalan seperti orang sehat menghampiri jendela.
"Oh! Eh... tanganku baru saja terkena sedikit ledakan bom akibat penyerangan kemarin." Ucapku
"Oh, begitu, kudengar juga dari percakapan dokter kemarin kalau hampir seluruh kulitmu telah rusak seperti dibakar oleh sesuatu." Ucap kakek itu
"Begitu ya! Pantesan seluruh tubuhku terasa sangat sakit! Tapi hebat ya mereka dapat menyembuhkan luka yang segila itu." Ucapku
"Tentu saja zaman sudah semakin berkembang dan kakek kemungkinan tidak akan bisa melihat dunia yang akan terus berkembang ini lebih lama lagi." Ucap kakek itu.
"Hal itu juga berlaku padaku." Ucapku.
"Tapi kau masih muda Dan kehidupanmu masih panjang! Seharusnya kau tidak boleh seperti ini memakai sebuah tangan robot di usia semuda ini!" Ucap si kakek
"..."
"Wanita muda barusan?" Ucap si kakek.
"Iya! Memangnya kenapa?" Tanyaku
"Kau melindunginya dengan mengorbankan seorang yang sedang sekarat bukan?" Ucap si kakek.
Aku sontak terkejut mendengar ucapan si kakek dan kemudian aku bertanya "Darimana kau tahu itu?" Ucapku dengan terus memperhatikan pergerakan kakek itu.
Namun kakek itu malah kebingungan dan mengatakan "Maksudnya? Oh! Aku mengetahui itu dikarenakan dokter sudah mendiagnosisku bahwa hidupku hanya akan bersisa dua minggu lagi karena penyakitku yang lumayan parah. Keluargaku berencana untuk tidak memberitahuku, namun aku sudah mengetahui semuanya karena aku memaksa mereka untuk berbicara." Ucap si kakek
Eh? Mungkin barusan itu hanyalah halusinasi.
"Jadi kamu harus memanfaatkan semua yang kamu bisa lakukan selagi kamu masih muda dan dapat melakukan banyak hal! Tidak seperti diriku." Ucap si kakek sambil terus tersenyum padaku.
"Oh, iya kek!" Ucapku
"Kau juga harus menjaga wanita muda itu karena sepertinya ketika kau dikatakan tiba tiba dalam kondisi yang tidak stabil, dia menangis sejadi jadinya, aku mendengar itu dibalik pintu." Ucap si kakek.
"Benarkah seperti itu? Dia tidak menunjukan hal itu padaku." Ucapku.
"Mungkin dia mungkin malu!" Ucap si kakek
"Hehe, iya juga ya!" Ucapku
"Oh, kakek juga punya pesan! Dan ini yang mungkin kesekian kalinya bagi kakek, kau harus tetap menjaga kesehatanmu ya!" Ucap kakek itu.
"Tentu saja kek!" Ucapku.
Kakek itu kemudian kembali ke balik tirainya dan sepertinya dia kembali berbaring di kasurnya.
__ADS_1
"Heh, ini mengingatkanku ketika aku operasi dulu." Pikirku.