
@
Ketika masa masa pemulihan lukaku aku habiskan dengan istirahat. Tapi aku juga tak lupa untuk tetap berlatih. Hanya saja latihan yang kulakukan harus kukurangi. Aku hanya berlatih lari lari saja, tidak sampai memanjat pohon lagi. Hal itu karena tangan kiriku masih agak sedikit sakit ketika salah kugerakkan.
Hingga hari ini pun tiba. Hari dimana aku akan mulai bersekolah di Sekolah Mage Quardia. Seperti yang kepala sekolah katakana kemarin aku pergi mengambil seragam yang aku butuhkan. Sebelum berangkat tak lupa aku menyiapkan semuanya. Termasuk barang barangku, karena aku akan tinggal di asrama.
Barang yang kubawa tidak banyak, masih sama seperti ketika aku pergi kekerajaan ini. Aku hanya membawa barang yang memang kubutuhka saja. Untuk keperluan keperluan lainnya aku bisa membelinya nanti, selain itu uangku juga bertambah setelah menukarkan Kristal hasil mengalahkan monster waktu itu.
Setelah semuanya siap akupun berangkat menuju sekolah. Karena aku tak sempat sarapan aku hanya membeli sepotong roti untuk menggantinya. Aku akan memakannya nanti saat aku sudah sampai di sekolah. Selama di jalan hatiku terasa sangat bersemangat sekali. Tak sabra untuk segera sampai di sekolah.
Akhirnya tiba juga aku di gerbang sekolah. Kali ini aku hanya perlu menunjukkan kartu identitasku ketika aku masuk gerbang. Kartu ini aku dapatkan ketika kemarin aku pergi untuk mengambil seragam. Ketika aku menunjukkan kartu ini satpam yang biasa berjaga seolah olah tak percaya aku bisa masuk kesekolah ini.
Aku memutuskan untuk pergi keruang kepala sekolah. Aku tak tahu harus berbuat apa ketika sampai disini. Karena itu aku memutuskan untuk menemuinya terlebih dahulu. Lalu biar kepala sekolah yang memutuskan langkah langkah yang harus kulalui.
Ketika aku sampai disana, kepala sekolah menyuruhku untuk pergi kegedung sebelah utara. Setelah sampai di gedung utara aku harus menemui guru bernanma bu Dinana. Ia yang akan menuntunku kekelas. Aku akan menemuinya setelah aku selesai mengurus asramaku terlebih dahulu.
__ADS_1
Kamarku ada di asrama barat. Untuk masalah asrama kepala sekolah tadi yangmemberitahuku. Ia juga yang memberikanku kunci kamarku. Ternyata asrama ini besar juga. Terpampang tulisan didepannya ‘Asrama Putra Sekolah Mage Quardia’. Aku langsung mencari dimana letak kamarku. Setelah menemukannya, aku berada di lantai dua kamar nomor 45.
setelah selesai mengurus asrama baru aku menemui guru yang dimaksud kepala sekolah. Di asrama tadi, aku hanya menaruh barang barangku dan kemudian langsung pergi. Aku sampai di gedung utara. Gedung ini lebih besar dari pada gedung gedung yang lain. Aku langsung mencari guru yang dimaksud.
Setelah menemukannya aku menjelaskan kedatanganku. Ia pun tersenyum dan lalu membawaku kekelasku. Ternyata ia adalah wali kelasku. Aku masuk ke kelas D. Di sekolah ini tak ada tingkatan kelas sesuai tahun masuk yang ada hanyalah tingkatan sesuai kemampuan. Karena aku masuk lewat jalur nonmage maka sudah jelas kemampuanku berada di jauh paling bawah.
Sebenarnya hal ini sangat aku harapkan. Aku tak ingin terlalu menonjol di sekolah ini. Malah sebisa mungkin aku ingin berada di paling bawah, agar tak banyak orang yang memperhatikanku. Jika sudah tiba saatnya nanti aku baru akan menunjukan kemampuanku yang sebenarnya.
Kelas D terdiri dari sekitar dua puluhan anak. Mereka adalah anak yang berada di urutan paling bawah. Rata rata dari mereka adalah siswa tahun baru ini. Kira kira mereka seumuran denganku. Beruntung aku bisa masuk ke kelas ini.
Begitu istirahat dimulai, banyak anak yang menghampiriku. Mereka penasaran dengan diriku. Mereka bertanya tentang banyak hal. Bahkan ada yang bertanya tentang magicku. Aku hanya menjawabnya dengan singkat bahwa aku tak memiliki kekuatan magic. Mereka terkejut, dan kemudian mereka pergi dengan sendirinya. Hanya beberapa anak saja yang masih mengajakku bicara. Terlihat mereka seolah olah meremehkanku.
Salah seorang anak berkenalan denganku. Ia adalah magic tipe angina.
“perkenalkan namaku mia. Aku adalah magic tipe angin, dan kamu.” Tanyanya. Ia adalah seorang anak perempuan berperawakan agak tinggi dan agak lumayan cantik.
__ADS_1
“aku shaka, nonmage.” Jawabku singkat.
“apa benar kamu tak memiliki magic apapun.”
“ya,” jika aku menjawab serius akan sangat fatal akbatnya.
“lalu bagaimana kamu dapat masuk kesini?”
“aku masuk kesini dengan syarat khusus”
“ooohhh, sebaiknya kamu tak usah menghiraukan sikap mereka. Di sini banyak sekali persaingan untuk jadi yang terbaik jadi pasti mereka meremehkanmu jika kamu memang tak punya magic apapun.”
“ya aku juga berpikir demikian.”
Setelah itu bel masuk pun berbunyi. Pelajaran di lanjutkan kembali. Mia juga telah kembali ketempat duduknya. Ia duduk dua bangku di depanku. Pelajaran kali ini masih menjelaskan dasar dasar mage sedangkan aku telah menguasaiya saat bersama ayah dulu. Jadi aku tidak perlu khawatir tertinggal.
__ADS_1
Begitu pelajaran telah selesai, aku langsung pulang ke asrama. Aku juga tak sabar untuk segera istirahat. Ternyata sekolah juga sangat melelahkan. Setelah sampai di asrama aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Karena sangat lelah aku langsung tertidur.