
@@@
Aku bersiap pergi menuju ke hutan. Hutan kerajaan memang luas akan sulit untuk dapat menemukan monster itu dengan cepat. Hutan kerajaan juga sangat lebat. Sungguh merupakan pengalaman pertamaku bisa berburu monster disini.
Meskipun ini adalah monster tingkat A. Aku tak merasakan takut sedikitpun. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah aku miliki, aku tak merasa takut dengannya. Meskipun harus terluka apapun akan kulakukan untuk bisa masuk ke sekolah tersebut.
Aku takkan mundur. Walaupun sesulit apapun hal ini, tujuanku hanya satu mengalahkannya dan masuk ke sekolah mage. Setelah itu aku akan mencari siapakah sebenarnya ibuku.
Tak terasa aku telah masuk kedalam hutan. Kalau aku hanya melihat dari bawah aku takkan mendapatkan petunjuk tentang monster itu. Akumemutuskan untuk memanjat pohon dan melihat keadaan dari atas. Dilihat dari atas pohon hutan ini sangat luas sekali. Tak hanya luas namun sangat indah.
Tak lama setelah itu, aku melihat sebuah keributan kecil di dalam hutan sebelah barat tempatku berdiri. Banyak burung berterbangan dari arah situ. Mungkin itu adalah ulah dari monster yang sedang aku cari. Tanpa menunggu lama lagi aku langsung menuju ke tempat tersebut.
Dengan kecepatan dan kelincahan yang aku miliki tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk sampai ke tempat tersebut. Sesampainya di tempat tersebut, terdapat banyak pohon tumbang dan rusak. Tak salah lagi ini adalah ulah dari monster tersebut.
Hari telah siang. Namun terdapat banyak awan tanda akan hujan. Terdapat bekas cakaran dimana mana. Aku mencoba memancing keluar monster tersebut dengan membuat sedikit keributan. Usahaku membuahkan hasil. Beberapa saat kemudian muncullah seekor macan dengan tubuh lebih besar dari ukuran normal.
Macan itu memiliki tatapan yang sangat tajam. Bulu bulunya berwarna ungu dengan garis hitam. Selain itu cakar macan tersebut terbuat dari besi. Ukuran tubuhnya dua kalilipat ukuran macan normal. Tinggiku hanya setengah dari tinggi macan itu. Sang macan kelihatan sedang lapar.
__ADS_1
Kami saling mewaspadai. Jarak antara kami hanya sepuluh meter. Ia terlihat berjalan mengitariku. Aku juga bersiap mengeluarkan pedangku. Belum ada diantara kami yang memulai duluan. Mungkin macan tersebut juga sangat berhati hati.
Tanpa menunggu lagi, aku mulai menyerang duluan. Dengan secepat kilat aku menebas kakinya. Ternyata gerakan macan tersebut juga cepat. Aku hanya berhasil menggores tubuhnya, karena ia berhasil menghindari seranganku.
Meskipun menggoresnya aku hanya menorehkan luka kecil saja. Tubuhnya keras. Pedang biasa nampaknya tak dapat melukainya. Aku terpaksa mengeluarkan pedang magicku. Meskipun menggunakan pedangmagic namun aku bisa menggunakannya tanpa mengeluarkan petirku.
Hujanpun datang, aku semakin bersemangat untuk segera mengalahkannya. Kami mulai saling menyerang kembali. Kali ini gerakannya juga tambah cepat. Ujung cakarnya berhasil mengenai punggungku. Aku juga berhasil melukai kaki depannya. Darah menetes di antara kami berdua.
Kali ini tak ada jeda lagi, kami saling mengerahkan serangan. Banyak luka di antara kami berdua. Kami saling menjauh satu sama lain. Kecepatannya menurun, mungkin ia ehabisan tenaga. Aku juga sudah mulai kelelahan.
Aku akan menghabisinya sekarang. Kukerahkan semuanya pada serangan ini. Kecepatan seranganku juga aku tingkatkan. Slasshh aku berhasil merobohkannya. Akan tetapi ia belumlah kalah. Ia memang terjatuh, namun ia bangkit lagi. Kali ini tubuhnya di selimuti debngan api yang tak padam terkena air hujan. Mungkin inilah sebab ia dipanggil monster tingkat A.
Aku tak boleh kalah. Jika aku gagal maka aku akan kehilangan kesempatanku untuk mencari ibuku. Aku juga sudah berjanji dengan ayah. Aku harus berjuang lebih keras lagi.
Kukumpulkan kembali semua kekuatanku. Sekarang aku pusatkan semuanya pada serangan ini. Aku juga menggunakan sedikit petirku di ujung pedangku. Jika tidak aku akan kesulitan untuk bisa mengalahkannya. Hal ini juga adalah hal yang sangat mendesak.
Kami maju bersamaan. Serangan kami berdua mengenai masing masing dari kami. Aku terluka kembali kali ini kakiku yang menjadi korbannya. Akan tetapi ia juga berhasil aku kalahkan pedangku berhasil mengenai bagian bawah perutnya. Apalagi di tambah efek petirku maka iapun tumbang.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian macan itu berubah menjadi cahaya, lalu mengumpul menjadi sebuah kristal berwarna merah terang. Aku berjalan menuju kearahnya untuk mengambil kristal tersebut. Mungkin ini adalah hasil dari mengalahkan sebuah monster.
Begitu aku menyentuh kristal tersebut, tubuhku mulai lemas. Aku kehilangan banyak darah juga. Selain itu tulang tanganku juga terasa patah ketika aku terpeental tadi. Aku sudah tak sanggup berjalan lagi. Aku putuskan untuk berteduh dibawah pohon sambil istirahat.
Kusobek bajuku lalu kugunakan untuk menutup luka lukaku. Hujan juga mulai reda. ternyata memang hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Tak heran jika belum ada orang non mage yang dapat lolos dari persyaratan ini. Aku bahkan juga akhirnya menggunakan kekuatan magicku. Selain itu aku juga terselamatkan oleh hujan, kalau tidak hujan mungkin api macan tersebut akan sangat panas.
Aku mulai berdiri kembali. Sudah saatnya untuk pulang. Dengan kondisi luka seperti ini akan sangat sulit untuk sampai di kontrakan. Walaupun begitu tubuhku telah terbiasa dengan luka luka seperti ini. Sewaktu bersama ayahku dulu latihan latihan yang ia berikan juga menghasilkan banyak luka seperti ini.
Awan awan mulai pergi mataharipun bersinar lagi, seolah olah seperti menyambut kemenanganku hari ini. Sungguh cuaca yang sangat bersahabat. Ketika aku sampai di luar hutan, hari telah sore. Dikerajaanpun juga masih agak ramai orang berlalu lalang.
Aku memutuskan untuk menemui dokter terlebih dahulu sebelum aku pulang ke kontrakan. Aku ingin membersihkan luka luka ditubuhku terlebih dahulu. Di sepanjang jalan banyak sekali orang orang yang melihatku. Mungkin mereka penasaran denganku yang masih kecil namun tubuhku penuh dengan darah.
Akhirnya aku menemukan sebuah klinik. Aku masuk keklinik tersebut dan meminta untuk segera mengobatiku. Di klinik tersebut tak ada pasien alin selain diriku. Aku sungguh beruntung tak perlu lama menunggu untuk di obati.
Setelah membayar biaya klinik tersebut,aku pergi segera pulang menuju ke kontrakan. Aku akan melaporkan tentang hal ini kepada kepala sekolah besok. Tubuhku sudah sangat kelelahan untuk melaporkannya hari ini. Rasanya tubuhku ingin segera tidur dan menghilangkan segala rasa lelahini.
Begitu sampai di kontrakan aku langsungganti baju dan bersiap untuk tidur. Sebelum pergi tidur aku melihat kristal merah itu sekali lagi. Kristal tersebut sangatlah indah untuk di pandang. Hanya untuk mendapatkan kristal tersebut aku harus berjuang mati matian. Kristal ini juga adalah kristal monster pertamaku. Aku akan selalu mengingat kristal ini.
__ADS_1
Setelah meletakkan kristal tersebut, aku pun segera pergi tidur. Tak butuh waktu lama bagiku untuk terlelap dan pergi ke dunia mimpi. Sungguh nikmat rasanya tidur kali ini. tubuhku yang sejak dari tadi merasa kedinginanpun mulai terasa hangat kembali. Ingin rasanya agar hari cepat berganti dan aku dapat segera melaporkan atas perjuanganku hari ini.